BUSINESS

5 Tips Mengelola Keuangan UMKM yang Tumbuh Berkelanjutan

Lini keuangan jadi bahan bakar utama untuk jalankan bisnis.

5 Tips Mengelola Keuangan UMKM yang Tumbuh Berkelanjutanilustrasi evaluasi keuangan (pexels.com/Karolina Grabowska)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

28 November 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE – Seperti halnya bisnis lain, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga harus melalui berbagai tahapan untuk memastikan bisnis bertumbuh dan bisa Berkelanjutan, terutama dalam pengelolaan Keuangan.

Perencana keuangan bersertifikat dan Founder Daya Uang, Lolita Setyawati, mengatakan pelaku UMKM harus menguasai kemampuan pengelolaan keuangan yang baik untuk bisa mempertahankan bisnisnya. "Mulai dari perencanaan keuangan yang baik, rencana bisnis, serta mencari permodalan,” katanya dalam sebuah diskusi keuangan, Kamis (23/11).

Menurutnya, ada sejumlah hal yang bisa dilakukan UMKM untuk mewujudkan sistem keuangan yang sehat dan berlanjutan. Berikut ini, Fortune Indonesia akan mengulasnya.

1. Pisahkan rekening pribadi dan usaha

Hal pertama yang perlu diingat, pelaku UMKM harus mampu memisahkan rekening pribadi dan rekening usaha. Hal ini dilakukan agar arus kas bisa berjalan dengan lancar tanpa ada konflik kepentingan di dalamnya. Pemisahan rekening ini akan memastikan kebutuhan pribadi dan usaha tidak akan saling mempengaruhi.

Perihal masalah gaji, pelaku UMKM harus menerapkan sistem penggajian untuk dirinya sendiri, sesuai dengan persentase profit dan kebutuhan pelaku usaha. “Sebagai pemilik bisnis, jadi kita menggaji diri kita sendiri buat mengatru arus kas,” katanya.

2. Siapkan dana darurat

Tips berikutnya, menyiapkan dana darurat. Berkaca dari pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan banyak UMKM, maka setiap pemilik bisnis harus bisa menyisihkan Sebagian dari modal untuk disimpan dalam bentuk dana darurat, yang nantinya bisa digunakan ketika dalam kondisi terdesak, atau situasi yang tak terduga.

Lolita mengungkapkan, dana darurat biasanya bisa 6-12 kali lipat pengeluaran bulanan usaha. Sebagai contoh, jika kebutuhan bulanan bisnis Anda mencapai Rp7 juta, maka dana darurat yang harus disisihkan di awal adalah sekitar Rp42 juta.

Sebagai opsi, sistem dana cadangan yang diambil dari tiga kali biaya operasional bulanan usaha, juga bisa diterapkan. “Dana cadangan juga diperlukan untuk menjaga berbagai hal yang bisa ber-impact terhadap usaha kita. Jangan sampai omzetnya tidak cukup untuk menggaji karyawan,” katanya.