Comscore Tracker
BUSINESS

Dorong Subtitusi Impor, Kemenperin Genjot Industri Pengolahan Buah

Diperlukan industri konsentrat buah sebagai bahan baku

Dorong Subtitusi Impor, Kemenperin Genjot Industri Pengolahan BuahBuah-buahan. (Pixabay/tookapic)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Industri hilir pengolahan buah segar di Indonesia memiliki potensi besar dikembangkan dengan tingkat permintaan pasar tinggi. Alhasil, pemerintah mendorong pelaku usaha menggencarkan hilirisasi produksi buah segar untuk meningkatkan nilai tambah dan mensubtitusi impor. 

“Untuk itu, perlu diperkuat peran industri antara yang menghasilkan konsentrat atau puree buah sebagai penghasil bahan baku untuk industri hilir,” kata Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika dikutip dari resmi Kemenperin (26/12).

Menurutnya, optimalisasi hulu produksi buah segar akan meningkatkan kinerja industri pengolahan buah di sektor hilir. Hal ini membuahkan prospek yang menjanjikan di tengah fluktuasi pasar akibat pandemi yang belum usai.

“Kebijakan hilirisasi ini juga bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat struktur industri, menumbuhkan populasi industri, serta menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha,” ujar Putu.

Kemenperin akan terus mendorong pengembangan industri hilir pengolahan buah lantaran berhubungan dengan produk industri minuman. Selain mampu meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri, hirlirasi ini juga dihapakna mampu mengurangi kebutuhan produk impor.  

Potensi industri pengolahan buah Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara tropis di dunia yang memiliki potensi besar dalam pengembangan industri hilir buah-buahan. Beberapa produk berbahan baku buah yang dihasilkan Indonesia, antara lain minuman sari buah, produk buah dalam kemasan kaleng, manisan buah, selai, dan lain sebagainya.

“Indonesia merupakan salah satu negara produsen buah segar terbesar di dunia dengan produksi mencapai 24,9 juta ton per tahun. Berdasarkan data world fruit map, Indonesia menempati posisi ke-8 di dunia,” ucap Putu.

Kemenperin mencatat, saat ini di Indonesia terdapat enam industri pengolahan buah skala kecil dan menengah yang berkapasitas produksi hingga 5.500 ton per tahun. Sementara di hilir, ada 41 perusahaan dengan total kapasitas produksi 430.000 ton per tahun dan telah memberikan kontribusi devisa dengan total nilai ekspor hingga US$280 juta.

Langkah strategis

Ditjen Industri Agro, kata Putu, sedang fokus untuk menekan impor produk antara. Hal ini dilakukan dengan turut memacu kualitas buah segar lokal dan meningkatkan produktivitas sektor hulu, serta mendorong peningkatan kapasitas industri antara. Upaya ini termasuk memberdayakan peran koperasi sebagai mitra industri pengolahan buah.

Kemenperin pun menerapkan sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan kinerja industri pengolahan buah. Beberapa di antaranya, mengelola kestabilan produktivitas dan pasokan bahan baku yang berkualitas; menyediakan infrastruktur daerah penghasil hortikultura agar biaya logistik lebih efisien; menyediakan infrastruktur pasca-panen seperti cold storage, rumah pengemasan, dan gudang buah segar.

Putu mengatakan, pihaknya juga mendorong adopsi teknologi digital dalam proses produksi di industri pengolahan buah, sehingga kapasitas dan daya saingnya dapat meningkat.

“Hal ini sesuai dengan peta jalan Making Indonesia 4.0, di mana industri makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang mendapatkan prioritas pengembangan dalam implementasi industri 4.0,” ujarnya.

Optimisme peningkatan kinerja

Dengan berbagai upaya yang direncanakan, pemerintahn berharap kinerja industri pengolahan buah akan meningkat. Selain itu, pendapatan para petani pun akan terdongkrak, bahkan wirausahawan baru diperkirakan akan bermunculan.

“Apalagi, industri pengolahan buah dan diversifikasi produknya sudah mulai berkembang, dengan penambahan nutrisi dan berbagai vitamin pada produk tersebut,” katanya seperti dikutip dari laman resmi Kemenperin.

Related Articles