Comscore Tracker
BUSINESS

Secercah Harapan Lebaran Bagi Industri Transportasi

Penerapan prokes tetap jadi prioritas untuk dilakukan.

Secercah Harapan Lebaran Bagi Industri TransportasiSejumlah calon penumpang pesawat antre di loket lapor diri Terminal 2 keberangkatan domestik Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (30/4). (ANTARAFOTO/Fauzan)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Seiring kebijakan pemerintah yang mulai melonggarkan kegiatan masyarakat secara bertahap, mengingat angka kasus Covid-19 di Indonesia yang mulai melandai, secercah harapan pun hadir bagi para pelaku industri transportasi pada masa Lebaran 2022.

Bagaimana sambutan industri transportasi pada kelonggaran yang terjadi setelah dua tahun terikat dengan peraturan pembatasan kegiatan? Majalah Fortune Indonesia edisi April 2022 mengulasnya dalam sebuah artikel khusus untuk Anda.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra optimistis akan ada peningkatan jumlah penumpang di masa mudik lebaran kali ini. “Kami mengharapkan peningkatan yang signifikan, meski tampaknya masih di bawah angka sebelum pandemi,” ujarnya (25/3).

Menjelang Ramadan, PT KAI memberikan diskon hingga 60 persen dalam Program KAI Access Online Travel Fair pada 27-29 Maret 2022. Diskon diberikan untuk 31.250 tiket 21 KA untuk periode keberangkatan 29 Maret sampai 21 April 2022 yang dibeli melalui aplikasi KAI Access.

Meski optimisme dipancarkan oleh pengelola angkutan transportasi penerbangan dan kereta api, namun Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Organisasi Angkutan Darat (Organda) Ateng Aryono belum berani berharap banyak. "Kalau okupansi kembali ke 70–80 persen saja secara rata-rata, itu sudah bagus. Rasanya belum akan penuh seperti musim mudik yang dulu-dulu,” ujarnya.

Kewajiban yang harus dilakukan meski ada kebijakan pelonggaran perjalanan

Calon penumpang antre memasuki kapal perintis Sabuk Nusantara 91 di Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (20/4).

Meski optimisme terpancar di tengah berbagai pelonggaran yang diberikan pemerintah, namun status pandemi di Indonesia belum beralih menjadi endemi. Perjalanan masyarakat pun tetap harus dinaungi dengan berbagai peraturan, seperti kewajiban vaksin dan pengetatan protokol kesehatan.

Untuk itu, para pelaku industri transportasi pun melakukan berbagai adaptasi demi menahan laju penyebaran virus saat mudik dibolehkan, dan kerumunan berpotensi menimbulkan lonjakan kasus.

KAI menambahkan imbauan bagi penumpang untuk mengenakan pakaian berlengan panjang dan meminimalisir percakapan untuk menghindari tersebarnya droplets. Sementara, maskapai-maskapai penerbangan berkomitmen untuk menjaga kebersihan ruang kabinnya dengan melakukan disinfeksi setelah pesawat mendarat. Buku menu hingga koran ataupun majalah tak lagi diberikan secara fisik.

Di luar armada; pengelola stasiun, bandara, hingga terminal-terminal juga menyediakan hand sanitizer dan tempat mencuci tangan dengan sabun. Begitu pula marka penanda antrean agar pengguna fasilitas umum bisa menjaga jarak tetap terpasang.

Harga avtur yang pengaruhi operasionalisasi penerbangan

Calon penumpang angkutan udara yang didominasi para pemudik antre menaiki pesawat di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar, Aceh, Jumat (29/4).

Optimisme industri transportasi dalam menyambut setiap tahapan dalam transisi menuju endemi memang tidak bisa disembunyikan. Bukan hanya dari kesiapan pelaku bisnis dan strategi yang diterapkan, namun juga warna lain di luar penyelenggara angkutan yang mempengaruhi operasional, seperti harga bahan bakar.

Berkaitan dengan penerbangan, harga avtur Pertamina tercatat mengalami kenaikan secara berkala. Kondisi ini tak ayal mempengaruhi beban operasional maskapai yang berpotensi mengerek harga tiket pesawat. 

Harga avtur periode 15-31 Maret 2022 di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng mencapai US$87,50 per liter untuk penerbangan internasional. Sementara, untuk kategori domestik senilai Rp13.677,20 per liter.

Pjs Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, mengatakan harga avtur disesuaikan secara berkala setiap dua pekan. "Jadi, maskapai juga sudah paham kalau penyesuaiannya berkala," ujarnya (14/3). 

Harga avtur terkerek oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Kementerian Perhubungan pun buka suara. Dirjen Perhubungan Udara Novie Riyanto menyatakan, sejauh ini pemerintah masih terus melakukan pemantauan dan evaluasi dampak kenaikan harga avtur ke beban operasional maskapai.

Related Articles