Bobobox Bersiap Ekspansi Bertahap ke Jepang

- Bobobox menjajaki ekspansi bertahap ke Jepang melalui pencarian mitra lokal, lokasi potensial, dan model operasional untuk proyek percontohan akomodasi modular berbasis teknologi.
- Perusahaan terpilih dalam TSE Asia Startup Hub 2026, program yang mendukung perluasan bisnis di Jepang, akses pendanaan, kemitraan, serta persiapan peluang IPO.
- Dengan 39 lokasi di 20 kota Indonesia, Bobobox belum mengungkap lokasi, investasi, jumlah properti, atau jadwal pembukaan di Jepang; perusahaan beraspirasi melantai di TSE.
Jakarta, FORTUNE – Bobobox mulai membidik Jepang sebagai salah satu pasar untuk memperluas bisnis akomodasinya ke luar Indonesia. Perusahaan tengah menjajaki calon mitra lokal, lokasi potensial, hingga model operasional yang dapat menjadi dasar pengembangan proyek percontohan di Negeri Sakura tersebut.
Ekspansi ini menjadi bagian dari strategi Bobobox untuk membawa model akomodasi berbasis modular dan teknologi ke pasar internasional. Perusahaan mengembangkan dua lini utama, yakni Bobopod untuk akomodasi kapsul di kawasan perkotaan dan Bobocabin yang menawarkan pengalaman menginap di tengah alam dengan fasilitas modern.
Langkah Bobobox menuju Jepang menjadi momentum setelah perusahaan terpilih sebagai salah satu dari tujuh perusahaan baru dalam program TSE Asia Startup Hub 2026 yang digagas Tokyo Stock Exchange (TSE). Pada 25 September 2026, TSE mengumumkan 23 perusahaan dari 10 negara dan wilayah sebagai peserta program tahun ini. Bobobox International Pte. Ltd. menjadi perusahaan Indonesia kedua yang masuk dalam program tersebut setelah Shipper yang telah terpilih sejak 2024.
Bagi Bobobox, program tersebut tidak hanya berkaitan dengan peluang pencatatan saham. TSE Asia Startup Hub dirancang untuk membantu perusahaan Asia memperluas bisnis di Jepang, membangun hubungan dengan perusahaan Jepang, mendapatkan dukungan pengembangan bisnis dan pendanaan, serta mempersiapkan kemungkinan IPO di Tokyo Stock Exchange.
Co-Founder dan CEO Bobobox, Indra Gunawan, mengatakan sejak awal perusahaan ingin menghadirkan produk akomodasi Indonesia yang mampu bersaing di pasar global.
“Jepang memiliki posisi penting dalam perjalanan kami menjadi world-class hospitality company karena standar produk dan service excellence di sana menjadi salah satu tolok ukur tertinggi di dunia,” ujarnya , dalam keterangan pers, Senin (28/9).
Bobobox akan memanfaatkan jaringan dalam program tersebut untuk membangun hubungan dengan calon mitra Jepang. Pembahasan yang disiapkan mencakup konsep produk, pilihan lokasi, serta model operasional yang sesuai dengan karakter pasar setempat.
"Langkah awal ini penting agar kami dapat memahami pasar dan menentukan pendekatan untuk berkembang di sana,” katanya, menambahkan.
Ekspansi ke Jepang dilakukan setelah Bobobox membangun jaringan bisnis di Indonesia selama sekitar delapan tahun. Berdasarkan profil resmi TSE, Bobobox kini memiliki 39 lokasi di 20 kota dengan lebih dari 1.750 pod dan cabin. TSE juga mencatat model bisnis Bobobox mengandalkan desain produk modular, operasional berbasis teknologi, dan kemitraan strategis untuk mendukung ekspansi yang efisien dan dapat direplikasi.
“Mampu menghadirkan produk yang diterima dan dipercaya di Jepang akan menjadi recognition tersendiri sekaligus tonggak bagi kami untuk melangkah ke market internasional yang lebih luas,” katanya.
Meskipun demikian, Bobobox belum menyebutkan lokasi pertama, jumlah properti, nilai investasi, maupun target pembukaan properti di Jepang.
Bobopod menyasar kebutuhan akomodasi di kawasan urban dengan konsep kamar kapsul yang privat dan terjangkau. Sementara Bobocabin diarahkan untuk pengalaman menginap di destinasi alam dengan pendekatan yang lebih dekat dengan konsep kabin. Kedua lini tersebut mengandalkan desain modular dan integrasi teknologi dalam operasionalnya. Pendekatan tersebut memungkinkan Bobobox mengembangkan format akomodasi yang relatif seragam sekaligus menyesuaikannya dengan lokasi dan kebutuhan konsumen.
Pasar Jepang sendiri menawarkan basis permintaan yang besar. Data Japan National Tourism Organization (JNTO) menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Jepang sepanjang 2025 mencapai 42,68 juta orang, naik 15,8 persen dibandingkan 2024 dan menjadi rekor tertinggi.
Selain ekspansi operasional, Jepang juga diposisikan Bobobox sebagai salah satu pintu menuju akses pendanaan dan pasar modal. Perusahaan sebelumnya telah memperoleh pendanaan dari sejumlah investor untuk mengembangkan bisnisnya.
Data CB Insights mencatat Bobobox telah menghimpun total pendanaan sekitar US$21,32 juta dalam lima putaran. Putaran terakhir yang tercatat adalah Series B senilai US$8,32 juta pada September 2023, dengan investor antara lain Kakao Investment, Alpha JWC Ventures, Best Trade Developments, Castle Bravo, dan Emtek.
Adapun TSE Asia Startup Hub sendiri memang memiliki dimensi pasar modal. TSE menyatakan program tersebut dibangun untuk membantu startup Asia mempercepat pertumbuhan, memperluas kehadiran di Jepang, dan ke depannya membidik peluang IPO di TSE.
“Dalam jangka panjang, kami juga memiliki aspirasi untuk melantai di Tokyo Stock Exchange,” katanya.




















