BUSINESS

PMI Manufaktur RI Masih Ekspansif di Tengah Ajang Pemilu dan Pilpres

PMI manufaktur menguat ke level tercepat sejak Agustus 2023.

PMI Manufaktur RI Masih Ekspansif di Tengah Ajang Pemilu dan PilpresIlustrasi pabrik rokok elektrik. (Pixabay/Axevaper)
02 February 2024

Jakarta, FORTUNE - S&P Global  mencatat, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 52,9 pada Januari 2024 dari  yang sebelumnya berada di level 52,2 pada Desember 2023. Sektor manufaktur RI menguat pada level tercepat sejak Agustus 2023 sekaligus memperpanjang rekor ekspansinya selama 29 bulan berturut-turut.

Dalam laporannya, S&P juga mengatakan, produksi manufaktur kembali membaik pada awal tahun, dengan  tingkat pertumbuhan mengalami percepatan tertinggi dalam dua tahun terakhir.  Peningkatan produksi terjadi seiring dengan tren kenaikan permintaan yang  membaik serta kenaikan basis pelanggan. Permintaan asing juga tercatat positif, meskipun kecepatan pertumbuhan permintaan Ekspor masih marginal.

Kenaikan penjualan dan produksi mendorong pabrikan menaikkan aktivitas pembelian pada awal tahun, mengakibatkan tingkat ekspansi pembelian input bulan lalu tercepat dalam lima bulan terakhir. Alhasil,  stok barang menurun karena pengiriman ke luar negeri untuk memenuhi pesanan.

Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence, Jingyi Pan mengatakan pertumbuhan permintaan baru lebih cepat, ditambah dengan kondisi pasokan yang lebih baik, mendorong produksi berekspansi pada laju tercepat. Pada saat yang sama, ada sinyal tekanan inflasi berkurang pada awal tahun. 

"Namun demikian, optimisme bisnis di sektor manufaktur sedikit menurun pada Januari lantaran beberapa perusahaan masih khawatir dengan prospek pertumbuhan. Akan tetapi, perusahaan manufaktur terus mendapatkan input pada laju tercepat dan berupaya menaikkan kapasitas tenaga kerja mereka, menunjukkan kepercayaan bahwa
output akan naik dalam waktu dekat," kata Jingyi Pan dalam laporannya, Jumat (2/2).

Perbaikan rantai pasokan juga mendukung kenaikan produksi dengan waktu pengiriman pesanan juga lebih singkat  di tengah laporan efisiensi di pihak vendor sehingga  perusahaan mampu memproses dan menyelesaikan pesanan tepat waktu. 

Sementara itu, tekanan harga berkurang pada awal tahun ini. Meski kenaikan harga bahan baku dan biaya konversi mata uang menyebabkan kenaikan harga input rata-rata pada Januari, tingkat inflasi menurun ke posisi terendah dalam tiga bulan. 

Secara bersamaan, perusahaan manufaktur Indonesia mampu menaikkan harga jual pada laju yang sedikit lebih cepat pada bulan Januari. 

"Perbaikan ekspor perlu diperhatikan beberapa bulan mendatang, untuk melihat apakah kenaikan tentatif pada penjualan eksternal akan meningkat dan sesuai dengan permintaan domestik, karena hal ini akan dapat terus mendorong sektor manufaktur," katanya.

Sinyal positif jelang Pemilu

Menteri PerIndustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, kinerja positif PMI menunjukkan bahwa kondisi sektor manufaktur dalam negeri terus membaik.

"Capaian PMI Manufaktur Indonesia ini memperpanjang periode ekspansi menjadi 29 bulan secara berturut-turut. Dan, hanya ada dua negara, yakni Indonesia dan India yang mampu mempertahankan selama 29 bulan berturut-turut,” kata Agus di Jakarta, Kamis (1/2).

Hal ini juga menjadi sinyal positif ekonomi dalam negeri, terlebih di tengah berlangsungnya ajang Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2024.“Biasanya di tengah suasana politik seperti Pemilu, optimisme pelaku usaha banyak yang wait and see atau ditahan. Tetapi untuk 2024 ini, optimisme mereka cukup tinggi,” katanya.

Menurut Agus, tingkat kepercayaan tinggi dari para pelaku industri menunjukkan bahwa mereka solid dalam menjalankan usahanya karena didukung oleh kebijakan yang probisnis. Selain itu, sektor industri manufaktur Indonesia terbukti tangguh (resilience) dalam menghadapi tantangan ekonomi dan politik saat ini, baik dari dalam negeri maupun global.

PMI Manufaktur Indonesia pada Januari 2024 tercatat lebih tinggi dibandingkan PMI China (50,8), Jerman (45,4), Jepang (48,0), Amerika Serikat (50,3), Korea Selatan (51,2), Malaysia (49,0), Myanmar (44,3), Filipina (50,9), Taiwan (48,8), Thailand (46,7), Inggirs (47,3), dan Vietnam (50,3).

Related Topics

    © 2024 Fortune Media IP Limited. All rights reserved. Reproduction in whole or part without written permission is prohibited.