Comscore Tracker
BUSINESS

Proyeksi Astra Property di Tengah Kenaikan Suku Bunga dan Harga BBM

Segmen residensial diramal masih baik, perkantoran tertekan

Proyeksi Astra Property di Tengah Kenaikan Suku Bunga dan Harga BBMGedung Astra. (dok.Astra)

by Ekarina

Jakarta, FORTUNE - PT Menara Astra (Astra Property) memperkirakan sektor properti masih akan bertumbuh tahun ini dan tahun depan, terdorong sejumlah sentimen. Meski begitu, sektor ini masih menghadapi sejumlah tantangan daya beli seiring kenaikan suku bunga bank dan harga bahan bakar minyak (BBM).

Presiden Direktur Menara Astra, Djap Tet Fa mengatakan, optimistis pasar properti tetap bertumbuh, meskipun potensi slow down selalu ada. Ia berharap kondisi ekonomi membaik meskipun ada risiko inflasi dari kenaikan bbm yang berdampak pada daya beli.

"Kami melihat dari sektor retail di semester II 2022 juga semakin membaik dan kemungkinan akan terus bertumbuh di tahun 2023. Sedangkan untuk sektor residensial, perbandingan supply-demand-nya kurang lebih masih sama dengan tahun ini," katanya dalam diskusi media di Jakarta, Rabu (29/9).

Kinerja sektor properti tahun ini menurutnya masih terbantu oleh stimulus dari pemerintah. Tantangan berikutnya akan terjadi ketika pemberian stimulus berakhir dan kenaikan suku bunga pinjaman berlaku Oktober nanti. Alhasil, pelaku industri properti harus lebih kreatif menghadirkan program yang menarik.

"Apalagi pada akhir 2023 kita juga akan memasuki masa pemilu," ujarnya.

Pemerintah memberlakukan insentif berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebagai salah satu stimulus ekonomi di masa pandemi guna menopang permintaan sektor properti.  

Pada insentif ini, pemerintah menanggung 50 persen dari total PPN untuk jenis properti dengan harga hingga Rp2 miliar dan 25 persen untuk properti dengan harga Rp 2 miliar sampai Rp5 miliar. Hadirnya insentif fiskal ini mampu menggairahkan sektor properti yang memiliki rantai bisnis yang panjang.
 

Ekspansi pergudangan modern

Pada tahun ini, sub sektor properti yang pasarnya masih cukup bagus di antaranya residensial dan pergudangan modern (modern warehouse), sedangkan perkantoran masih tertekan.

Adapun, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan meningkatnya biaya material, disebut Djap Tet Fa belum akan berdampak terhadap proyek Astra Property yang sedang digarap saat ini.

Namun untuk beberapa proyek yang akan datang, bisa saja dilakukan penyesuaian harga jual mengikuti kenaikan material di lapangan.

"Banyak hal yang menjadi faktor dalam penentuan harga properti. Hal ini resiko kami sebagai developer yang perlu diantisipasi. Tentunya dampak ini juga dirasakan oleh supply chain bidang properti," katanya kepada Fortune Indonesia. 

Meskipun situasi ini bukan pertama kalinya terjadi, ada beberapa opsi yang bisa dilakukan seperti menyusun payment program, dan sebagainya.

Saat ini, Astra Property masih memiliki sejumlah proyek pengembangan rumah tapak, salah satunya township Asya masih terus membangun dengan cluster terbarunya, Cluster Kelimutu.

"Dalam pipeline kami ke depannya juga akan ada pengembangan rumah tapak lainnya, namun belum bisa kami sampaikan detail, lokasi yang dituju di wilayah Jabodetabek," ujarnya. 


 

Ekspansi ke sektor pergudangan

Pada pertengahan tahun ini, Astra Property memperluas bisnis ke segmen pergudangan modern. 

"Ekspansi ini untuk mendukung bisnis e-commere dan sektor industri," ujarnya.

Sebelumnya, Astra Property melalui Astra Land Indonesia bekerjasama dengan Logos mendirikan perusahaan joint venture, bernama  PT Astra Land Logos Indonesia untuk pengembangan modern warehouse. Fokus pergudangan ini akan berlokasi di sekitar kawasan Jabodetabek. 

Pasar pengiriman dan logistik di Indonesia, yang di dalamnya termasuk gudang modern, diperkirakan meningkat dari US$81,3 miliar pada tahun 2020 menjadi US$138,04 miliar pada tahun 2026.

Peningkatan investasi tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan e-commerce yang ditopang oleh pesatnya kemajuan teknologi digital. Sektor pergudangan modern Indonesia diperkirakan memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh karena outsourcing logistik di Indonesia masih dapat dioptimalkan dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, didukung oleh meningkatnya permintaan gudang modern di wilayah Jabodetabek.

Related Articles