Comscore Tracker
BUSINESS

Bandara Hang Nadim Resmi Dikelola Konsorsium BUMN dan Korea Selatan

Bandara Hang Nadim akan dikelola konsorsium selama 25 tahun.

Bandara Hang Nadim Resmi Dikelola Konsorsium BUMN dan Korea SelatanPixabay/viarami

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE -   Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) telah meneken kerja sama pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam dengan konsorsium PT Bandara Internasional Batam. Konsorsium itu beranggotakan PT Angkasa Pura I, Incheon International Airport Corporation (IIAC) asal Korea Selatan, dan PT Wijaya Karya Tbk (Persero).

“KPBU Hang Nadim Batam merupakan proyek brownfield dengan nilai investasi sebesar Rp6,9 triliun dengan masa kerja sama selama 25 tahun,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam keterangan resminya, Rabu (22/12).

Pada kerja sama ini, BP Batam akan menyediakan seluruh area wilayah operasional Bandara Hang Nadim Batam sebagai wilayah kerja yang akan dipergunakan konsorsium untuk dikelola dan dikembangkan. PT Bandara Internasional Batam akan bertanggung jawab terhadap penyediaan desain, pelaksanaan pembangunan, pembiayaan, pengalihan, pengoperasian dan pemeliharaan Bandara Hang Nadim Batam.

Ruang lingkup kerja sama pengelolaan ini yaitu pembangunan, perluasan, pengelolaan, dan pemeliharaan terminal penumpang eksisting (T1), terminal penumpang baru (T2), beserta infrastrukturnya.
 

Peluang kongsi pengelolaan Hang Nadim

Dengan pelaksanaan KPBU ini, kata Airlangga, terdapat beberapa peluang yang dapat ditangkap oleh Batam. Di antaranya lalu lintas penerbangan yang terbuka, baik domestik maupun internasional; dukungan penerbangan haji dan umroh; pengembangan tujuan pariwisata kolaboratif; dan pengembangan Batam sebagai Logistic Aerocity (e-commerce dan cold chain product).

Peluang tersebut, menurutnya, diyakini akan dapat dicapai dengan memperhatikan kapasitas dan kapabilitas anggota konsorsium. Sebab, Bandara Hang Nadim ke depannya akan dikembangkan untuk menjadi hub destinasi penerbangan yang lebih luas dan hub logistik serta kargo di wilayah barat Indonesia.

PT Angkasa Pura I telah mengelola 15 bandara di Indonesia dengan layanan 83,4 juta penumpang dan 556 ribu ton kargo pada 2019. Sedangkan, Incheon International Airport Corporation telah mengelola Bandara Internasional Incheon yang memiliki superioritas jaringan rute antarbenua dengan 88 maskapai, 52 negara destinasi, dan 173 kota destinasi, dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. yang memiliki portofolio overseas project di Asia dan Afrika.

Nilai potensi manfaat langsung

KPBU diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada BP Batam senilai Rp34,58 triliun. Dampak tidak langsungnya—namun sangat diperlukan—adalah terjadinya peningkatan pelayanan kebandarudaraan dengan target awal untuk lima tahun ke depan, yaitu pelayanan penumpang dua kali lipat dan pelayanan kargo sebesar 1,5 kali lipat yang dihitung dengan capaian 2019 sebelum pandemi COVID-19.

Kekuatan badan usaha konsorsium tersebut diyakini akan dapat menyusun dan menerapkan strategi pengembangan rute yang berorientasi ke global transhipment, yaitu menjadikan Batam sebagai hub logistik nasional degan gateway in/out Amerika Serikat - Korea Selatan – Batam, dan Tiongkok – Batam.

“Memperhatikan tujuan dan dampak besar dari pelaksanaan KPBU tersebut, maka saya mengharapkan bahwa operasionalisasi PKS hari ini dapat segera dijalankan dalam satu sampai dua bulan ke depan. Saya juga berharap proyek Bandara Hang Nadim ini akan dapat menjadi jembatan untuk kerja bersama, maju bersama, dan sejahtera bersama, antara Indonesia dan Korea Selatan,” ujarnya.

Related Articles