BUSINESS

PLN Sebut Harga Listrik REC Lebih Mahal, Sudah Terjual 3,46 TWh

Harga listrik PLTS dalam skema REC capai US$5 per MWh.

PLN Sebut Harga Listrik REC Lebih Mahal, Sudah Terjual 3,46 TWhPLTS terapung di Waduk Cirata Jawa Barat/Dok ABB

by Hendra Friana

08 December 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Executive Vice President of Energy Transition and Sustainability PT PLN (Persero) Kamia Handayani mengatakan harga jual listrik Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam skema Renewable Energy Certificate (REC) cukup tinggi dan stabil.

Jika dibandingkan, pendapatan yang diperoleh PLN dari penjualan REC juga lebih tinggi dibandingkan harga jual kredit karbon di Bursa Efek Indonesia. Sebagai contoh, kata dia, harga listrik REC dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mencapai US$5 per MWh.

"Dibandingkan jika kita mengkonversinya dalam ton CO2, lebih tinggi dari harga yang kita lihat dari bursa karbon Indonesia," ujarnya dalam diskusi bertajuk Policy Approaches for Article 6 of the Paris Agreement di Paviliun Indonesia COP 28, Dubai, dikutip Jumat (8/12).

Untuk itu, dalam mendorong transisi energi pada sektor ketenagalistrikan, PLN tidak hanya mendukung penyelenggaraan pasar karbon melainkan juga pengadaan REC di Indonesia.

"Karena ada 2 atribut hijau yang saat ini diimplementasikan di PLN, yang pertama adalah kredit karbon, yang kedua adalah REC," katanya.

PLN sudah jual listrik REC 3,46 TWh

Menurut Kamia, kedua program tersebut merupakan mekanisme berbasis pasar yang mendapatkan banyak permintaan dari pelanggan PLN. Untuk itu, perseroan perlu mempertimbangkan skala prioritas antara permintaan kredit karbon atau REC. 

"Karena kita harus melihat pasar dan permintaan dari pelanggan kami. Karena banyak pelanggan kami saat ini, terutama anggota RE100, mereka meminta REC dan harganya saat ini juga cukup stabil dan tergantung pada proyeknya," ujarnya.

Kamia juga menjelaskan bahwa proyek kredit karbon PLN telah berlangsung sejak lama, yakni lewat mekanisme Clean Mechanism Development (CDM) pada 2010. 

"Ketika kami memiliki proyek kredit karbon pertama, kami terdaftar di CDM, Lahendong Geothermal Power Plant. Sejak itu, kami telah mengeluarkan sekitar 9 juta ton CO2e kredit karbon baik dari CDM maupun mekanisme sukarela yang kami daftarkan juga di bawah standar Verra," katanya.

Ini berbeda dari REC, yang baru dirilis PLN justru pada 2020.

Meski demikian, proyek listrik bersertifikat EBT mendapat respons cukup baik dari pasar. Saat ini, PLN telah memiliki sekitar 6,4 TWh listrik yang dijual dalam skema REC, dengan 3,46 TWh di antaranya telah terjual.

"Jadi jika kita melihat unitnya, berbeda dengan kredit karbon, kredit karbon dalam ton CO2e tetapi REC dalam TWh energi dari Energi Terbarukan (RE). Dan kami sudah menjual sekitar 54 persen dari 6,4 TWh yang telah dikeluarkan," ujarnya.