Jakarta, FORTUNE – Keandalan distribusi energi primer disebut menjadi faktor strategis dalam menjaga efisiensi biaya industri dan keberlanjutan pasokan listrik nasional. Seiring tingginya ketergantungan pembangkit listrik terhadap batubara, kemampuan menjaga ketepatan waktu pengiriman dinilai menjadi kunci untuk meminimalkan gangguan operasional sekaligus menekan biaya logistik di sektor energi.
Direktur PT Oktasan Baruna Persada, Tomi Hadi, mengatakan rantai pasok energi memiliki karakteristik yang kompleks karena melibatkan berbagai titik kritis, mulai dari lokasi tambang, pelabuhan, armada pengangkut, hingga pembangkit listrik. Gangguan kecil pada salah satu tahapan dapat memicu keterlambatan berantai yang berdampak pada efisiensi operasional di sektor hilir.
"Dalam logistik energi, keterlambatan di satu titik dapat berdampak pada tahapan pengiriman berikutnya. Karena itu, pengelolaan rantai pasok harus dilakukan secara presisi, mulai dari perencanaan, kesiapan armada, pemantauan perjalanan, hingga kepatuhan terhadap prosedur di titik muat dan bongkar," ujar Tomi dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (1/7).
Menurutnya, tantangan distribusi batubara tidak hanya terletak pada proses pengangkutan komoditas, tetapi juga pada kemampuan menjaga seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal agar tidak menimbulkan bullwhip effect, yakni kondisi ketika gangguan kecil di hulu berkembang menjadi dampak yang jauh lebih besar di sisi hilir.
Dalam industri energi, efek tersebut dapat memengaruhi jadwal pasokan batubara ke pembangkit, mengurangi ketersediaan stok, hingga memaksa operator melakukan penyesuaian operasional yang berpotensi meningkatkan biaya produksi listrik dan mengganggu aktivitas industri yang bergantung pada pasokan energi yang stabil.
Untuk memitigasi risiko tersebut, perusahaan logistik energi dituntut memperkuat sistem manajemen rantai pasok melalui perencanaan yang lebih akurat, koordinasi lintas titik operasional, serta pemanfaatan teknologi untuk memantau pergerakan distribusi secara real time.
"Teknologi membantu proses pengawasan, tetapi keberhasilan distribusi tetap sangat bergantung pada disiplin operasional dan kualitas sumber daya manusia di setiap tahapan," kata Tomi.
Selain meningkatkan efisiensi operasional, perusahan menilai penguatan tata kelola perusahaan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis logistik energi. Mengingat batubara merupakan komoditas strategis yang berada di bawah pengawasan regulasi, aspek kepatuhan terhadap tata niaga, legalitas, keselamatan kerja, serta transparansi proses bisnis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari operasional perusahaan.
Di sisi lain, penerapan Good Corporate Governance (GCG) kini menjadi fondasi penting dalam pengelolaan rantai pasok energi agar seluruh proses distribusi berjalan secara transparan, akuntabel, dan sesuai ketentuan yang berlaku.
"Ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh volume pasokan, tetapi juga oleh bagaimana pasokan tersebut dikelola secara bertanggung jawab. Karena itu, kepatuhan regulasi, keselamatan kerja, dan tata kelola menjadi bagian yang sama pentingnya dengan ketepatan pengiriman," ujarnya.
Melalui penguatan teknologi, manajemen risiko, dan penerapan tata kelola yang baik, PT Oktasan Baruna Persada berupaya memperkuat keandalan rantai pasok energi nasional.
Strategi tersebut diharapkan tidak hanya mendukung kelancaran pasokan batubara bagi pembangkit listrik, tetapi juga membantu industri menjaga efisiensi biaya operasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi.
