Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Pohon Pisang yang Terus Bertunas

Pohon Pisang yang Terus Bertunas
Direktur dan Leader of Digital Transformation Gobel Group Arif Rachmat Gobel generasi penerus dari kerjaan bisnis Gobel Group saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (11/9). (Eko Wahyudi/FORTUNE Indonesia)
Intinya Sih
  • Gobel Group merayakan 70 tahun perjalanan dengan tetap berpegang pada filosofi pendiri, Thayeb Mohammad Gobel, yang memandang perusahaan sebagai pohon pisang: terus tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat.
  • Generasi ketiga, Arif Gobel, memimpin transformasi digital sambil menjaga nilai-nilai lama agar tetap relevan di era teknologi, menekankan pentingnya keseimbangan antara kehati-hatian dan inovasi cepat.
  • Diversifikasi bisnis ke sektor logistik, kesehatan, makanan, properti, dan infrastruktur menunjukkan komitmen Gobel Group untuk beradaptasi tanpa meninggalkan akar nasionalisme serta tanggung jawab sosial melalui industri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Tidak banyak perusahaan keluarga di Indonesia yang mampu bertahan hingga tujuh dekade. Lebih sedikit lagi yang masih menjadikan filosofi pendirinya sebagai kompas dalam mengambil keputusan bisnis. Di tengah perubahan teknologi, pergantian generasi, hingga disrupsi digital, Gobel Group memilih tetap berpijak pada sebuah gagasan sederhana yang diwariskan pendirinya, Thayeb Mohammad Gobel: perusahaan harus seperti pohon pisang.

Bagi sebagian orang, pohon pisang mungkin hanya tanaman yang akrab ditemui di kebun dekat rumah. Namun bagi Gobel Group, pohon itu adalah kiasan tentang bagaimana sebuah perusahaan seharusnya hidup. Setiap bagiannya seperti akar, batang, daun, jantung hingga buah, memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Bahkan ketika batangnya telah ditebang, tunas baru akan tumbuh melanjutkan kehidupan.

Filosofi inilah yang selama 70 tahun menjadi fondasi perjalanan Gobel Group, sebuah konglomerasi yang kini menaungi lebih dari 18.000 karyawan dan bergerak di berbagai sektor, mulai dari manufaktur elektronik, logistik, kesehatan, makanan, properti, hingga infrastruktur.

Gobel Group tidak lahir sebagai perusahaan besar. Pada 1954, di tengah semangat membangun Indonesia yang baru merdeka, Thayeb Mohammad Gobel mendirikan usaha perakitan radio transistor "Tjawang" di Cawang, Jakarta Timur. Radio bertenaga baterai pertama karya anak bangsa itu menjadi simbol awal kemandirian industri nasional, bahkan mampu membawa pidato Presiden Soekarno hingga ke pelosok negeri. Enam tahun kemudian, Gobel menjalin kemitraan dengan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. (MEI Co., Ltd) pada 1960, yang berkembang menjadi salah satu kolaborasi industri Indonesia–Jepang. Dua tahun berselang, televisi produksi Gobel memungkinkan masyarakat Indonesia menyaksikan Asian Games 1962, menjadikan perusahaan ini bagian dari perjalanan industrialisasi nasional.

Tujuh dekade kemudian, nilai-nilai yang dirintis sang pendiri masih menjadi napas perusahaan.

Director & Digital Transformation Leader Gobel Group, Arif Gobel, sekaligus generasi ketiga keluarga Gobel, mengatakan bahwa warisan terbesar kakeknya bukanlah pabrik ataupun merek elektronik, melainkan cara memandang bisnis sebagai sarana memberi manfaat bagi masyarakat.

"Melihat bagaimana beliau membangun Gobel Group tidak hanya sebagai bisnis, tapi sebagai gerakan sosial dan ekonomi untuk membantu bangsa, membuat saya memahami bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga soal nilai yang ditanam dan diwariskan," kata dia kepada Fortune Indonesia yang dikutip, Jumat (26/6).

Bagi Arif, tantangan terbesar generasi ketiga bukanlah menjaga bisnis tetap berjalan, melainkan memastikan nilai yang diwariskan tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Hal itu terlihat ketika ia dipercaya memimpin transformasi digital di tingkat holding. Perubahan tidak hanya menyangkut penerapan teknologi baru, tetapi juga mengubah pola pikir organisasi yang telah berusia puluhan tahun. Dalam proses itu, perbedaan pandangan dengan generasi sebelumnya tidak bisa dihindari.

"Ayah saya lebih berhati-hati, sementara saya ingin bergerak lebih cepat. Tapi saya tidak melihatnya sebagai konflik, melainkan ruang belajar. Saya belajar pentingnya kehati-hatian dari beliau, sementara beliau terbuka terhadap pendekatan saya selama disertai data dan hasil yang konkret," kata Arif.

Copy of 1960 - The first colorless television based on the Technical Cooperation Agreement, PT Transistor Radio Mfg. Produced the first colorless television in Indonesia, so that Indonesian's able to watch the .jpg
1962 lahirnya televisi hitam putih pertama di Indonesia. Berdasarkan Perjanjian Kerja Sama Teknis dengan Matsushita Electric Industrial Co, Ltd. (MEI Co,Ltd), PT Transistor Radio Mfg. PT National memproduksi 10.000 unit televisi hitam putih pertama di Indonesia, sehingga masyarakat Indonesia bisa menyaksikan Asian Games 1962 Jakarta melalui layar kaca. (Dok. Gobel Group)

Bagi Gobel Group, transformasi bukan berarti meninggalkan akar. Justru akar yang kuat memungkinkan perusahaan terus bertumbuh.

Filosofi pohon pisang menjadi ilustrasi yang terus diulang di dalam perusahaan. Sebuah pohon pisang akan terus hidup melalui tunas-tunas baru yang muncul setelah batang utamanya selesai berbuah. Regenerasi bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan kesinambungan nilai.

Karena itu, perjalanan menuju usia 70 tahun dimaknai Gobel bukan sebagai perayaan usia perusahaan, melainkan momentum untuk bertanya apakah nilai-nilai yang diwariskan masih menjadi dasar dalam setiap keputusan bisnis.

"Nilai yang kuat bukan sekadar masa lalu, tapi justru landasan paling kokoh untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan dan berdampak luas," ujar Arif.

Warisan tersebut juga tercermin dalam arah bisnis perusahaan saat ini. Gobel Group tidak lagi identik hanya dengan elektronik. Diversifikasi ke sektor logistik, kesehatan, makanan, properti, dan infrastruktur menunjukkan bagaimana perusahaan terus mencari ruang pertumbuhan baru tanpa meninggalkan identitasnya sebagai kelompok usaha manufaktur.

Bagi Arif, semangat nasionalisme yang diwariskan pendiri masih menjadi napas perusahaan. Ia menyebut prinsip berbakti kepada negara melalui industri diwujudkan dengan membangun lapangan kerja melalui manufaktur, meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri, dan memperkuat nilai tambah industri nasional. Di balik setiap pabrik yang dibangun, terdapat ribuan pekerja dan keluarga yang kehidupannya bergantung pada keberlanjutan perusahaan. Karena itu, mengembangkan bisnis dipandang sebagai bentuk tanggung jawab sosial sekaligus ibadah.

Di tengah derasnya digitalisasi, kecerdasan buatan, dan kompetisi global, Gobel Group tampaknya menyadari bahwa teknologi saja tidak cukup. Transformasi membutuhkan manusia yang mau terus belajar. Itulah pesan yang ingin diwariskan Arif kepada generasi berikutnya.

"Dunia terus berubah. Satu-satunya cara agar kita tetap relevan adalah dengan terus membuka diri terhadap pengetahuan baru. Begitu kita berhenti belajar, kita berhenti berkembang," katanya.

Copy of 1963 Ceremony for the Launch of Indonesia’s First Black-and-White Television at Hotel Indonesia.jpg
Upacara peluncuran produksi televisi hitam putih pertama di Indonesia oleh Thayeb Mohammad Gobel dilangsungkan di Hotel Indonesia, Jakarta pada Agustus 1962. (Dok. Gobel Group)

Tujuh puluh tahun setelah radio transistor pertama "Tjawang" diproduksi di Cawang, Gobel Group memang telah menjelma menjadi kelompok usaha yang jauh lebih besar. Namun jika ditarik ke akarnya, perjalanan panjang itu tidak semata ditopang oleh ekspansi bisnis atau diversifikasi portofolio.

Sebagaimana pohon pisang yang terus melahirkan tunas baru, kekuatan Gobel Group justru terletak pada kemampuannya menjaga nilai sambil terus beradaptasi. Di situlah warisan terbesar Thayeb Mohammad Gobel: bukan sekadar membangun perusahaan elektronik, melainkan menanam sebuah cara berpikir bahwa industri harus memberi manfaat, kepemimpinan harus melahirkan regenerasi, dan keberhasilan bisnis hanya akan bermakna jika tumbuh bersama masyarakat.

 

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana

Related Articles

See More