Jakarta, FORTUNE - Mini LNG Plant PT Sumber Aneka Gas (SAG) di Tuban, Jawa Timur resmi beroperasi. Fasilitas tersebut ditargetkan mampu meningkatkan pemanfaatan gas bumi domestik dan memperkuat pasokan energi bagi sektor industri dan pembangkit listrik.
Mini LNG Plant di Jawa Timur Beroperasi, Kapasitas Produksi LNG Capai 55.300 Ton per Tahun

- Mini LNG Plant PT Sumber Aneka Gas di Tuban resmi beroperasi dengan kapasitas produksi LNG mencapai 55.300 ton per tahun untuk memperkuat pasokan energi domestik.
- Pasokan gas berasal dari Lapangan Sumber milik Pertamina Hulu Energi Tuban East Java sebesar 15 MMSCFD dengan kontrak hingga tahun 2035 guna menjamin kepastian investasi.
- Hasil produksi seperti LNG, LPG, kondensat, dan CO2 cair akan disalurkan ke sektor industri, retail, serta pembangkit listrik di wilayah Jawa, Bali, dan Sulawesi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, Mini LNG Plant SAG merupakan fasilitas pengolahan gas yang memproduksi liquefied natural gas (LNG), compressed natural gas (CNG), liquefied petroleum gas (LPG), kondensat, serta direncanakan memproduksi CO2 cair.
Pasokan gas untuk fasilitas tersebut berasal dari Lapangan Sumber yang dikelola PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java dengan alokasi sebesar 15 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) dengan kontrak selesai 2035 mendatang.
"Investasi besar ini harus disupport, kontrak jangan diubah-ubah supaya mereka ada kepastian dalam melakukan investasi dalam ke depan," imbuh Bahlil, Kamis (25/6).
Fasilitas Mini LNG Plant SAG memiliki kapasitas produksi LNG hingga 55.300 ton per tahun dengan kapasitas tangki penyimpanan mencapai 1.600 meter kubik. Selain itu, kapasitas produksi LPG mencapai 9.800 ton per tahun, kondensat 19.600 barel per tahun, serta CO2 cair yang direncanakan sebesar 21.000 ton per tahun.
Deluruh komoditas dari Mini LNG plant ini akan diserap sektor industri, retail, dan pembangkit listrik di Jawa, Bali, hingga Sulawesi. Output produksi dan infrastruktur penyimpanan dirancang untuk mendukung rantai pasok LNG berbasis transportasi darat.
Bahlil menyebut, fasilitas ini membantu industri dalam memberikan kepastian terhadap bahan baku. "Sekarang kita di Jawa Timur masih oke, harganya masih oke. Di Jawa Barat, Banten, Bekasi, Jakarta, itu terjadi koreksi Karena HGBT kita lagi menurun, karena lifting di sana lagi menurun. Terpaksa kita pakai LNG, sehingga harganya memang agak naik. Ini yang harus dicari jalan tengah untuk mendorong ke sana," pungkas Bahlil.

















