- PT Multi Terminal Indonesia (MTI) dari Pelindo
- PT Prima Indonesia Logistik (PIL) dari Pelindo
- PT Pos Logistik Indonesia (Poslog) milik Pos Indonesia
- PT Sarana Bandar Logistik (SBL) milik PT Pelni
- PT KBN Prima Logistik (KPL) milik Danareksa
- PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS) dari SIG
- PT Krakatau Jasa Logistik (KJL) dari Krakatau Steel
9 BUMN Logistik Dikonsolidasi ke Pos Indonesia Mulai Juli 2026

Pemerintah akan mengonsolidasikan sembilan BUMN logistik ke bawah PT Pos Indonesia mulai 2026 untuk membentuk ekosistem layanan logistik.
Konsolidasi dilakukan bertahap, dimulai dengan tujuh perusahaan bergabung ke PT Multi Terminal Indonesia.
Langkah ini diharapkan memperluas jaringan distribusi hingga 160 titik, menekan biaya logistik, serta memperkuat posisi Pos Indonesia.
Jakarta, FORTUNE — Pemerintah akan mengonsolidasikan sembilan perusahaan logistik BUMN ke bawah PT Pos Indonesia (Persero). Direktur Utama PT Pos Indonesia Daud Joseph menjelaskan, konsolidasi dilakukan karena sejumlah entitas logistik BUMN masih beroperasi secara terpisah.
Kondisi tersebut dinilai menyebabkan fragmentasi bisnis, tumpang tindih layanan, hingga keterbatasan skala usaha.
“Karena mereka beroperasi sendiri-sendiri, skala usahanya juga sangat terbatas. Dari Rp3.000 triliun market logistik, perusahaan-perusahaan ini hanya mengambil kurang dari 3 persen. Kecil sekali,” ujar Daud dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (22/6).
Table of Content
Tahapan konsolidasi BUMN logistik
Konsolidasi akan dimulai pada 1 Juli 2026 dengan bergabungnya tujuh perusahaan logistik pelat merah ke PT Multi Terminal Indonesia (MTI). Tahap ini menjadi awal pembentukan holding logistik di bawah PT Pos Indonesia.
Tujuh perusahaan tersebut meliputi:
Pada tahap awal, struktur kepemilikan perusahaan gabungan terdiri dari 73 persen saham Pelindo, 9 persen Pos Indonesia, dan 17 persen dimiliki lima perusahaan lainnya. Selanjutnya pada 2027, seluruh saham perusahaan tersebut direncanakan berada di bawah Pos Indonesia.
Tahap berikutnya akan memasukkan dua perusahaan logistik berbasis cargo owner, yaitu PT Semen Indonesia Logistik (Silog) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Dengan masuknya dua perusahaan tersebut, total sembilan BUMN logistik akan berada dalam satu ekosistem di bawah Pos Indonesia.
Perluas jaringan dan efisiensi operasional
Daud menyampaikan konsolidasi ini ditujukan untuk memperkuat jaringan distribusi antarperusahaan BUMN. Sebelum konsolidasi, masing-masing perusahaan memiliki kekuatan di wilayah tertentu sehingga jangkauan layanan belum maksimal.
Dengan penggabungan tersebut, perusahaan yang sebelumnya hanya memiliki jaringan regional dapat memanfaatkan jaringan entitas lain untuk memperluas cakupan operasional.
“Anak perusahaan ini akan lengkap lini bisnisnya di seluruh Indonesia. Sehingga jumlahnya yang hari ini hanya ada 78 titik kumulatif, nantinya bisa bertambah menjadi sekitar 150 atau bahkan 160 lini bisnis,” tutur Daud.
Selain memperluas jaringan, konsolidasi juga ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasional. Selama ini, rantai logistik yang berjalan secara terpisah membuat terdapat biaya dan margin berulang dalam proses distribusi.
“Nantinya setelah digabung menjadi satu perusahaan, profit margin-nya hanya menjadi satu. Sehingga nanti akan bisa memotong duplikasi profit margin dan akan menurunkan biaya logistik secara keseluruhan,” ujar Daud.
Potensi pasar logistik nasional
Transformasi sektor logistik dilakukan seiring dengan meningkatnya nilai pasar logistik nasional. Berdasarkan data PT Pos Indonesia, nilai pasar logistik Indonesia tercatat sekitar Rp2.800 triliun pada 2022, kemudian naik menjadi Rp2.913 triliun pada 2023 dan Rp3.048 triliun pada 2024.
Pasar diproyeksikan terus bertumbuh menjadi Rp3.190 triliun pada 2025, Rp3.372 triliun pada 2026, dan mencapai Rp3.617 triliun pada 2027.
Pertumbuhan itut terutama didorong oleh perkembangan sektor freight forwarding dan pergudangan. Namun, kontribusi perusahaan logistik BUMN saat ini masih relatif kecil dibandingkan ukuran pasar nasional.
Menurut Daud, konsolidasi diperlukan agar perusahaan logistik BUMN dapat meningkatkan skala usaha dan memanfaatkan aset yang telah dimiliki. Setelah konsolidasi, perusahaan gabungan diproyeksikan memiliki revenue sekitar Rp2,38 triliun dengan estimasi profit tahun berjalan sekitar Rp100 miliar.
Pos Indonesia diminta fokus pada bisnis logistik
Ketua Komisi VI DPR RI Anggia Erma Rini menilai transformasi Pos Indonesia perlu diarahkan pada penguatan bisnis inti, yaitu logistik. Menurutnya, persaingan industri saat ini tidak hanya bergantung pada harga, tetapi juga kemampuan perusahaan dalam teknologi, kecepatan layanan, dan efisiensi rantai pasok.
“Persaingan ini bukan lagi sekadar adu murah tarif belanja, melainkan juga adu cepat integrasi teknologi, keandalan last mile delivery, dan efisiensi rantai pasok. Dalam peta besar tersebut, PT Pos Indonesia berada pada titik yang sangat krusial,” ujar Anggia.
Ia menyebut Pos Indonesia memiliki keunggulan berupa jaringan layanan yang menjangkau wilayah kecamatan hingga daerah terpencil. Namun, perusahaan juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan pasar logistik komersial, khususnya di kawasan perkotaan.
Konsolidasi sembilan BUMN logistik ke PT Pos Indonesia menjadi bagian dari upaya membangun layanan logistik yang lebih terintegrasi, memperluas jaringan distribusi, serta meningkatkan efisiensi industri logistik nasional.
FAQ seputar 9 BUMN logistik dikonsolidasi ke PT Pos Indonesia
| Mengapa 9 BUMN logistik dikonsolidasi ke PT Pos Indonesia? | Konsolidasi dilakukan untuk mengurangi fragmentasi bisnis dan meningkatkan skala usaha logistik BUMN. |
| Kapan tahap awal konsolidasi BUMN logistik dimulai? | Tahap awal dimulai pada 1 Juli 2026 dengan bergabungnya 7 perusahaan ke PT Multi Terminal Indonesia. |
| Berapa jumlah perusahaan yang akan masuk dalam holding logistik Pos Indonesia? | Total ada 9 perusahaan logistik BUMN yang akan berada di bawah ekosistem Pos Indonesia. |
| Apa manfaat konsolidasi bagi bisnis logistik? | Konsolidasi ditujukan untuk memperluas jaringan, meningkatkan efisiensi, dan menekan biaya logistik. |


















