Serapan Lahan Industri Melambat, Colliers: Investor Makin Selektif

- Serapan lahan industri Greater Jakarta mencapai 36,74 hektare pada kuartal II-2026, melambat karena investor lebih selektif menilai regulasi, infrastruktur, dan keberlanjutan bisnis.
- Permintaan tetap ditopang pusat data, logistik, EV, elektronik, FMCG, kesehatan, serta ekspansi perusahaan; daya tarik Indonesia didukung pasar domestik, lokasi strategis, dan prospek manufaktur.
- Pasokan bertahan 18.500 hektare tanpa tambahan hingga kuartal II-2026; harga diproyeksikan stabil, sementara kepastian regulasi dan percepatan izin menentukan daya saing investasi.
Jakarta, FORTUNE - Pasar properti industri di kawasan Greater Jakarta mencatatkan serapan lahan 36,74 hektare pada kuartal II-2026 di tengah perubahan strategi investor yang kini lebih selektif mengutamakan kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur, dan keberlanjutan bisnis ketimbang melakukan ekspansi agresif.
Laporan terbaru Colliers Indonesia menunjukkan bahwa meskipun aktivitas transaksi melambat akibat proses pengambilan keputusan yang lebih panjang, daya tahan pasar industri di kawasan Greater Jakarta masih terjaga.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menjelaskan fenomena ini bukanlah sinyal pelemahan pasar secara menyeluruh, melainkan tanda mulainya fase baru yang mengedepankan kualitas investasi.
"Saat ini, fokus pasar bukan lagi pada besarnya volume transaksi, melainkan pada kualitas keputusan investasinya," ujar Ferry dalam keterangannya, Jumat (7/8).
Daya tarik Indonesia sebagai basis manufaktur dinilai tetap kuat berkat besarnya pasar domestik, lokasi strategis, serta prospek pertumbuhan jangka panjang.
Permintaan lahan industri saat ini ditopang oleh sektor-sektor berprospek tinggi seperti pusat data, logistik, industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) beserta rantai pasoknya, elektronik, FMCG, kesehatan, serta ekspansi perusahaan yang sudah beroperasi. Sektor-sektor ini tumbuh sejalan dengan tren digitalisasi dan penguatan rantai pasok nasional.
Di sisi penawaran, pengembang kawasan industri turut mengadaptasi strategi. Menurut catatan Colliers, tidak ada tambahan pasokan kawasan industri baru hingga kuartal II-2026, sehingga total pasokan bertahan pada 18.500 hektare.
Pengembang cenderung mengoptimalkan simpanan lahan (land bank) melalui pembangunan bertahap, penyesuaian masterplan, dan perubahan fungsi lahan secara selektif.
Sepanjang 2026, Colliers memperkirakan tambahan pasokan lahan industri hanya sekitar 175 hektare. Namun, untuk periode 2026–2029, rata-rata tambahan pasokan diproyeksikan melonjak hingga 553 hektare per tahun.
Dalam menarik minat pemodal, Ferry menilai kualitas infrastruktur—seperti pasokan listrik memadai, utilitas andal, dan konektivitas—akan menjadi faktor penentu utama, khususnya bagi sektor pusat data dan manufaktur berteknologi tinggi.
Dari sisi harga, nilai lahan industri diperkirakan tetap stabil. Pada kuartal II-2026, rata-rata harga lahan berkisar US$180,33 per meter persegi, dengan proyeksi rata-rata sepanjang 2026 mencapai US$183,31 per meter persegi.
Dalam jangka menengah (2026–2029), harga diproyeksikan tumbuh moderat hingga kisaran US$186,67 per meter persegi.
Total serapan lahan industri sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 353,10 hektare, dengan rata-rata tahunan pada periode 2026–2029 diperkirakan 429,60 hektare. Prospek ini terus ditopang oleh ekspansi ekonomi domestik, infrastruktur digital, serta program hilirisasi.
Meski demikian, kepastian regulasi dan percepatan izin tetap menjadi faktor penentu daya saing investasi Indonesia ke depan.





















