Jakarta, FORTUNE — Pasar pakaian anak di Indonesia terus mencatat pertumbuhan seiring meningkatnya daya beli kelas menengah dan perhatian orang tua terhadap kenyamanan serta keamanan produk. Kondisi tersebut turut mendorong perubahan preferensi konsumen dalam memilih pakaian untuk aktivitas anak.
Pasar Pakaian Anak Capai Rp16 Triliun, Segmen Sports Lifestyle Jadi Incaran

Nilai penjualan ritel pakaian anak di Indonesia mencapai Rp16,8 triliun pada 2025 dan tumbuh sekitar 5 persen.
Produk sports-lifestyle anak membuka ruang baru dengan menggabungkan pakaian aktif dan penggunaan sehari-hari.
Orang tua semakin mempertimbangkan kenyamanan, material, ukuran, keleluasaan bergerak, serta respons anak.
Data Euromonitor International yang dipublikasikan melalui MarketResearch.com menunjukkan, nilai penjualan ritel pakaian anak di Indonesia mencapai Rp16,8 triliun pada 2025. Angka tersebut tumbuh sekitar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pasar tersebut turut membuka ruang bagi produk pakaian anak yang menggabungkan fungsi olahraga dan penggunaan sehari-hari.
Jenama moodytiger salah satunya, brand sports-lifestyle anak melalui produk pakaian aktif, alas kaki, dan aksesori olah raga tenis, renang, golf, kegiatan luar ruang, dan aktivitas harian ini ekspansi di Indonesia lewat pembukaan flagship store di Pacific Place, Jakarta, pada Desember 2025.
Berdasarkan Physical Activity Factsheet: Indonesia 2024 dari World Health Organization (WHO), sekitar 58 persen anak dan remaja Indonesia usia 10–14 tahun tergolong kurang aktif secara fisik, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.
Pada kelompok usia 15–19 tahun, proporsi anak yang kurang aktif secara fisik tercatat sebesar 50,4 persen.
Managing Director moodytiger Indonesia, Hengky Wijaya mengatakan kondisi tersebut turut membuka perhatian terhadap aspek fungsional pakaian anak, terutama untuk aktivitas fisik.
“Orang tua biasanya menjadi pihak yang menentukan pembelian, tetapi setelah itu anak membuat keputusan lain, apakah mereka mau memakai pakaian tersebut lagi atau tidak,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (22/9).
Menurutnya, pada kategori pakaian aktif, faktor kenyamanan dapat memengaruhi pengalaman anak ketika beraktivitas. Ukuran, material, dan keleluasaan bergerak menjadi beberapa aspek yang perlu diperhatikan selain tampilan.
“Pakaian bisa saja terlihat bagus dan sesuai dengan ukuran anak, tetapi ketika anak merasa geraknya terbatas, kepanasan, atau tidak nyaman, hal-hal tersebut pada akhirnya bisa menjadi lebih penting daripada penampilan,” katanya.
Perubahan preferensi tersebut dinilai membuat orang tua tidak hanya mempertimbangkan warna, tren, dan ukuran ketika membeli pakaian anak. Faktor kenyamanan saat bergerak, kesesuaian ukuran untuk berbagai aktivitas, material yang sesuai dengan kondisi cuaca, serta respons anak terhadap pakaian turut menjadi pertimbangan.
Keluhan seperti gatal, terlalu ketat, panas, atau sulit bergerak dapat menjadi indikator bahwa pakaian kurang sesuai untuk aktivitas anak dan berpotensi mengurangi frekuensi penggunaan produk.
Maka dari itu, Hengky mengatakan, keterlibatan anak dalam menentukan pilihan pakaian juga menjadi salah satu aspek yang semakin penting.
“Anak tidak harus menentukan setiap keputusan pembelian, tetapi mendengarkan apa yang mereka rasakan dapat membantu orang tua membuat pilihan yang lebih tepat,” ujarnya.


















