Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Rupiah Melemah, Klinik Gigi Hadapi Tantangan Kenaikan Biaya Operasional

4 min read
Rupiah Melemah, Klinik Gigi Hadapi Tantangan Kenaikan Biaya Operasional
CEO Audy Dental, drg. Yulita Bong, dalam temu media di Jakarta, Kamis (5/11).
  • Pelemahan rupiah menekan biaya Audy Dental karena mayoritas alat dan bahan kedokteran gigi masih impor, sementara permintaan pasien relatif stabil.
  • Audy Dental mengandalkan digitalisasi operasional dan fitur Easy Appointment berbasis WhatsApp untuk meningkatkan efisiensi, mengendalikan biaya, serta memudahkan pasien memilih jadwal.
  • Pada 2025, Audy Dental membuka 21 klinik baru hingga kapasitas pasien dan transaksi naik 40%; perusahaan menargetkan 70 klinik pada akhir 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan bagi bisnis klinik gigi yang masih bergantung pada peralatan dan bahan kedokteran impor. Di tengah permintaan pasien yang relatif stabil, kenaikan harga material medis mendorong penyedia layanan kesehatan gigi untuk lebih cermat mengelola biaya operasional.

Kondisi tersebut turut dihadapi Audy Dental. Perusahaan yang telah beroperasi lebih dari 17 tahun itu menyebut sebagian besar peralatan dan bahan kedokteran gigi yang digunakan masih berasal dari luar negeri. Akibatnya, pelemahan rupiah memberikan tekanan terhadap pengeluaran perusahaan.

CEO Audy Dental, drg. Yulita Bong, mengatakan permintaan pasien terhadap layanan kesehatan gigi sejauh ini masih terjaga. Namun, kenaikan harga alat dan bahan membuat perusahaan menghadapi tantangan dari sisi biaya, meskipun ia tak menyebutkan detailnya.

"Tentu dengan pelemahan rupiah ini tantangannya sangat besar karena semua alat bahan dari dental material ya kita sebutnya alat bahan untuk melakukan itu memang impor. Jadi yang mungkin pasien kita cukup stabil tapi cost kita naik cukup signifikan," ujarnya dalam temu media di Jakarta, Kamis (5/11).

Untuk menghadapi tekanan tersebut, Audy Dental mulai mengandalkan teknologi dan digitalisasi proses internal termasuk untuk pengadaan kebutuhan klinik. Perusahaan mengembangkan sistem operasional sendiri sejak tahun lalu untuk meningkatkan efisiensi kerja tim sekaligus membantu pengendalian biaya.

Dari sisi pasien, salah satu pengembangan layanan digital yang diperkenalkan tahun ini adalah fitur Easy Appointment. Melalui layanan berbasis WhatsApp tersebut, pasien dapat memilih jadwal kunjungan secara mandiri berdasarkan ketersediaan waktu dokter dan klinik.

Di sisi lain, perusahaan melihat peluang pertumbuhan dari perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan gigi. Kunjungan pasien kini tidak hanya dipicu keluhan atau rasa sakit, tetapi juga kebutuhan pemeriksaan berkala, perawatan estetika, hingga pemeliharaan kesehatan gigi anak sejak dini.

Menurut dia, perubahan tersebut sejalan dengan pergeseran kebutuhan masyarakat dari sekadar layanan kesehatan (health care) menuju konsep kebugaran dan kesejahteraan (wellness). Konsumen tidak hanya ingin terhindar dari penyakit, tetapi juga mempertahankan kemampuan beraktivitas dan menikmati hidup hingga usia lanjut. Dalam konteks kesehatan gigi misalnya termasuk kemampuan mengunyah dan menikmati makanan.

"Orang ingin bukan hanya usianya lebih panjang tapi benar-benar punya kualitas hidup yang lebih baik. Nah, kita di Audy Dental sangat melihat tren ini," kata Yulita.

Berdasarkan pengamatan internal Audy Dental, kelompok usia produktif menjadi salah satu segmen dengan kunjungan preventif tertinggi. Pada usia 13-24 tahun estetika menjadi treatment teratas. Usia 18-14 tahun tindakan preventif teratas, diikuti restoratif dan estetika. Usia 36-59 tahun healthcare menjadi sorotan, seperti restoratif, dan kuratif.

Peluang pasar tersebut menjadi salah satu pertimbangan Audy Dental dalam memperluas jaringan kliniknya. Perusahaan kini memiliki lebih dari 65 klinik dengan dukungan lebih dari 800 dokter gigi. Jaringannya tersebar di Jawa dan Bali, dengan basis utama di Jawa Barat. Dalam sebulan, perusahaan mengklaim mampu melayani sekitar 50.000 pasien.

Pada 2025, Audy Dental membuka 21 klinik baru, jumlah ekspansi tahunan terbesar sepanjang perjalanan bisnisnya. Penambahan jaringan tersebut turut mendorong peningkatan kapasitas pasien dan transaksi perusahaan hingga 40 persen pada tahun yang sama. "Jadi 2025 itu kita buka 21 cabang, jumlah ekspansi klinik terbesar yang kita lakukan," ujarnya.

Untuk 2026, Audy Dental menargetkan penambahan delapan cabang baru dan jumlah jaringan mencapai 70 klinik hingga akhir tahun. Sejumlah lokasi ekspansi yang disebutkan perusahaan antara lain di Pasar Minggu, Pondok Indah, Kebon Sirih, Bandung, dan Agora Mall di Jakarta.

Perusahaan juga mempertimbangkan perluasan jangkauan geografis pada 2027. Meski rencana ekspansi masih dibahas secara internal, Yulita menyebut perusahaan ingin menambah lebih banyak cabang dibandingkan ekspansi tahun sebelumnya dan membuka peluang masuk ke luar Jawa dan Bali.

Berbeda dengan model kemitraan atau waralaba yang digunakan sejumlah jaringan klinik, seluruh cabang Audy Dental dimiliki dan dikelola langsung oleh perusahaan. Pengelolaan terpusat tersebut ditujukan untuk menjaga konsistensi standar layanan di seluruh lokasi. Di tengah pertumbuhan jaringan klinik gigi dan persaingan yang semakin ramai, Yulita mengatakan perusahaan tidak ingin hanya mengandalkan jumlah cabang sebagai keunggulan bisnis. Audy Dental juga menempatkan kepercayaan pasien sebagai faktor penting untuk mempertahankan pelanggan.

    Related Articles

    See More