Astra Otoparts Ungkap Strategi Kejar Target Pertumbuhan di Atas Industri 2027

Astra Otoparts menargetkan pertumbuhan bisnis 2027 di atas 5 persen melalui penguatan manufaktur, perdagangan, aftermarket, komponen kendaraan listrik, dan jaringan ritel.
Hingga kuartal III 2026, pendapatan bersih mencapai Rp17,02 triliun dan laba bersih Rp1,8 triliun, ditopang segmen manufaktur serta perdagangan.
Perseroan berencana menambah sekitar 30 toko modern retail dan memperluas pengembangan komponen kendaraan listrik serta infrastruktur pengisian daya.
Jakarta, FORTUNE — Emiten komponen otomotif Grup Astra, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) menargetkan pertumbuhan kinerja bisnis pada 2027 di atas 5 persen atau di atas target pertumbuhan industri otomotif tahun ini. Target tersebut ditopang oleh penguatan bisnis manufaktur dan perdagangan, ekspansi aftermarket, pengembangan komponen kendaraan listrik, serta perluasan jaringan ritel.
Diketahui, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menargetkan penjualan mobil nasional pada 2026 sebesar 850.000 unit. Angka tersebut tumbuh 5 persen dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar 803.000 unit.
Presiden Direktur Astra Otoparts, Yusak Kristian Solaeman mengatakan perseroan akan mengoptimalkan peluang pertumbuhan dari sisi portofolio bisnis, pelanggan, serta perluasan jaringan atau wilayah.
“Kalau ditanya bagaimana target kami di 2027, tentu kami menetapkan target di atas pertumbuhan industri atau pertumbuhan pasar,” ujar Yusak dalam paparan publik virtual di Jakarta, Kamis (5/11).
Menurut dia, hingga kuartal III 2026 Astra Otoparts mencatat pertumbuhan di atas pertumbuhan industri maupun produk domestik bruto (PDB) pada 2026. Oleh karenanya, perseroan berharap tren tersebut berlanjut pada tahun depan.
“Kami berharap pada 2027 kita juga akan mengalami hal yang sama, bahkan harapannya lebih baik dari berbagai sektor yang bisa kita optimalkan berbagai peluang,” katanya.
Perseroan akan mengandalkan pengembangan portofolio produk, pelanggan, serta jaringan regional. Strategi tersebut diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan Astra Otoparts pada tahun depan.
Hingga kuartal III/2026, Astra Otoparts mencatat pendapatan bersih Rp17,02 triliun atau tumbuh 15 persen secara tahunan. Laba bersih meningkat 14,7 persen menjadi Rp1,8 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh dua segmen utama, yakni manufaktur dan perdagangan.
Segmen manufaktur membukukan pendapatan Rp9,18 triliun, naik 17,6 persen. Sementara itu, segmen perdagangan mencatat pendapatan Rp7,84 triliun atau tumbuh 12 persen.
Ekspansi Retail
Di segmen perdagangan, Astra Otoparts berencana memperluas jaringan modern retail pada 2027. Direktur Astra Otoparts, Martogi mengatakan perseroan akan menambah sekitar 30 toko modern retail pada tahun depan.
Penambahan jaringan tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kelayakan masing-masing unit operasi.
“Kami terus berencana mengembangkan bisnis ini karena bisnis tersebut juga sangat dibutuhkan oleh pelanggan. Pada 2027, kami berencana menambah jumlah toko modern retail sekitar 30 toko,” ujar Martogi.
Hingga kuartal III 2026, Astra Otoparts telah mengoperasikan 673 gerai modern retail yang mencakup Shop & Drive, Super Shop & Drive, Astra Otoservice, Shop & Bike, dan Aspira Motoquick. Jaringan tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan memperluas akses terhadap produk dan layanan aftermarket.
Perseroan juga memperkuat kanal digital melalui Astra Otoshop yang mengintegrasikan pembelian produk secara daring dengan layanan pemasangan secara luring.
Kejar Peluang EV
Di tengah perkembangan teknologi kendaraan listrik, Astra Otoparts juga menyiapkan ekspansi pada komponen kendaraan listrik dan infrastruktur pengisian daya.
Yusak mengatakan, strategi elektrifikasi perseroan mencakup pengembangan komponen kendaraan listrik atau XEV serta infrastruktur pengisian daya. Perseroan juga mengembangkan komponen yang dapat digunakan baik pada kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) maupun kendaraan listrik.
“Perubahan teknologi di kendaraan tidak mengubah komponen-komponen ini. Misalnya shock absorber dan brake. Berubahnya teknologi dari ICE ke EV tidak akan memengaruhi komponen tersebut,” ujarnya.
Selain komponen yang sudah ada, perseroan mengembangkan komponen khusus kendaraan listrik. Pengembangan tersebut didukung oleh fungsi riset dan pengembangan yang mencakup product development dan process development.
Terkait infrastruktur pengisian daya, Astra Otoparts telah mengoperasikan 71 unit Astra Otopower di 61 lokasi hingga September 2026. Perseroan juga memasarkan EV charger bermerek Altro untuk pelanggan B2B dan B2C.
Perseroan juga telah bekerja sama dengan PT PLN (Persero) untuk pengembangan fasilitas pengisian daya, termasuk charger untuk kendaraan roda dua.
Untuk ekspansi SPKLU berikutnya, Yusak mengatakan perseroan akan menyesuaikan pengembangan dengan kebutuhan pasar serta perilaku pengguna kendaraan listrik.
“Kami akan terus memperhatikan pergerakan pasar dan tidak menutup kemungkinan untuk berbagai bentuk kerja sama seperti yang hari ini sudah kami lakukan bersama PLN,” katanya.



















