CDMO Dongkrak Pendapatan PYFA hingga Q3, Tembus Rp2,41 Triliun

- PYFA membukukan pendapatan neto Rp2,41 triliun hingga kuartal III 2026, naik 17,2% secara tahunan, terutama ditopang layanan Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO).
- Kapabilitas CDMO diperkuat melalui fasilitas Indonesia-Australia, lisensi TGA untuk akses ekspor, serta ekspansi lini injeksi steril Ethica yang ditargetkan mulai produksi komersial pada 2027.
- Laba bruto PYFA naik 29,9% menjadi Rp542,76 miliar dan margin mencapai 22,5%; perseroan juga mendapat izin edar BPOM untuk Fenofibrate 145 mg pada September 2026.
Jakarta, FORTUNE — PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) meraih pendapatan neto senilai Rp2,41 triliun hingga kuartal-III 2026, meningkat 17,2 persen (YoY) dari Rp2,06 triliun pada periode yang sama di 2025. Pertumbuhan ini ditopang layanan Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO).
Kapabilitas CDMO dibangun bertahap sejak perseroan mengakuisisi Probiotec dan meluncurkan layanan CDMO pada 2024. Cakupannya meliputi pengembangan formula, registrasi produk, hingga produksi massal untuk beragam bentuk sediaan mulai dari tablet, kapsul, sirup, krim, sampai injeksi, didukung fasilitas manufaktur di Indonesia dan Australia.
"Capaian hingga kuartal III-2026 menunjukkan bahwa integrasi strategi ekspansi dan efisiensi operasional yang kami jalankan selama dua tahun terakhir berada di jalur yang tepat," ujar Direktur Keuangan PT Pyridam Farma Tbk, Sinta Ningsih dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (4/11).
Fasilitas perseroan di Australia telah mengantongi lisensi Therapeutic Goods Administration (TGA), yang membuka akses ke pasar ekspor dengan standar internasional.
Selain itu, PYFA juga telah menyelesaikan ekspansi fasilitas injeksi steril lini 3 di PT Ethica Industri Farmasi. Perluasan itu ditargetkan mulai memproduksi secara komersial pada tahun 2027 untuk mengoptimalkan kapasitas terpasang dan monetisasi layanan CDMO.
Sebagai mitra strategis bagi sejumlah perusahaan farmasi, PYFA juga terus memperluas portofolio produk berlisensi untuk menjawab kebutuhan terapi penyakit dengan beban kesehatan nasional terbesar. Pada September 2026, perseroan resmi mengantongi Persetujuan Izin Edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI untuk produk Fenofibrate 145 mg.
Produk Fenofibrate fokus pada penanganan gangguan lipid dan pencegahan masalah kardiovaskular. Kehadiran produk ini melengkapi portofolio perseroan pada area terapi kardiovaskular mencatatkan pembiayaan penyakit jantung sebesar Rp17,35 triliun dan stroke sebesar Rp7,21 triliun, berdasarkan data BPJS Kesehatan pada Januari sampai September 2026. Kontribusi produk itu akan mulai terlihat pada periode berikutnya seiring berjalannya distribusi.
Dengan langkah-langkah tersebut, laba bruto perseroan tumbuh 29,9 persen (YoY) menjadi Rp542,76 miliar hingga kuartal-III 2026 dari Rp417,86 miliar pada periode yang sama di 2025. Sejalan dengan itu, margin laba bruto menguat menjadi 22,5 persen dari sebelumnya 20,3 persen. Penguatan margin itu bersumber dari volume produksi yang lebih besar yang menekan biaya tetap per unit biaya per unitnya menjadi lebih rendah.
"Pertumbuhan pendapatan yang diiringi kenaikan laba bruto serta penyusutan rugi usaha 91,5 persen mencerminkan bahwa model bisnis manufaktur terintegrasi dan layanan CDMO kami semakin solid. Kami tidak hanya memperluas skala bisnis di pasar domestik dan regional, tetapi juga secara konsisten memperbaiki struktur biaya operasional untuk mempercepat pencapaian profitabilitas Perseroan," ujar Sinta.

















