Jakarta, FORTUNE - Grab Holdings menaikkan proyeksi pendapatan dan laba pada tahun buku 2026 seiring dengan tingginya permintaan layanan transportasi daring dan pesan antar. Perusahaan teknologi asal Singapura itu juga mengandalkan pertumbuhan bisnis layanan keuangan sebagai sumber pendapatan baru.
Grab Naikkan Proyeksi Kinerja 2026, Pengguna Aktif Tembus 57 Juta

Grab mencatat pertumbuhan pendapatan, laba, EBITDA yang disesuaikan, arus kas bebas, serta rekor 57 juta pengguna aktif bertransaksi setiap bulan pada kuartal III/2026.
Perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan grup dan adjusted EBITDA 2026, serta menjalankan buyback saham senilai US$400 juta pada September-Oktober 2026.
Pertumbuhan datang dari segmen pengantaran, mobilitas, dan layanan keuangan, sementara Grab tetap memantau kualitas kredit dan menghadapi biaya pembatalan akuisisi.
Berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit kuartal III/2026 yang berakhir pada 30 September 2026, perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 27 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$1,11 miliar.
Sejumlah indikator kinerja utama Grab juga menunjukkan pertumbuhan. Laba periode berjalan tercatat sebesar US$18 juta dengan EBITDA yang disesuaikanUS$237 juta.
Sementara itu, arus kas bebas yang disesuaikan (adjusted free cash flow) selama 12 bulan terakhir hampir dua kali lipat menjadi US$533 juta.
Seiring dengan pencapaian tersebut, Grab menaikkan proyeksi pendapatan grup sepanjang 2026 menjadi US$4,20 milar dari proyeksi sebelumnya US$4,10-US$4,15 miliar, serta target EBITDA yang disesuaikan yang juga ditingkatkan menjadi US$790 hingga US$800 juta dari yang sebelumnya US$720-US$740 juta,
Grab juga telah melakukan pembelian kembali saham (buyback) senilai US$400 juta speanjang September-Oktober 2026. Dengan demikian masih terdapat alokasi dana US$500 juta pada program buyback saham perusahaan.
CEO sekaligus Co-Founder Grab Anthony Tan mengatakan perusahaan mencatatkan rekor 57 juta pengguna aktif bertransaksi setiap bulan (monthly transacting users/MTU) pada kuartal III/2026. Capaian tersebut berlangsung di tengah kenaikan harga bahan bakar dan tekanan kondisi makroekonomi di berbagai negara kawasan.
Menurutnya, semakin banyak pengguna yang bertransaksi melalui platform Grab. Skala bisnis dan efisiensi jaringan memungkinkan perusahaan menawarkan layanan yang lebih terjangkau sekaligus meningkatkan peluang pendapatan bagi mitra pengemudi dan pedagang.
Hal tersebut didukung oleh pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dikembangkan Grab serta akses pembiayaan bagi para mitra.
“Asia Tenggara masih menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, tetapi tingkat penetrasi layanan digitalnya masih relatif rendah. Oleh karenanya, Grab akan mempercepat strategi lintas platform untuk menangkap peluang pertumbuhan dan menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan serta menguntungkan,” katanya dalam keterangan resmi dikutip Selasa (3/11).
Sementara itu, CFO Grab, Peter Oey menambahkan perusahaan kembali membukukan pertumbuhan yang menguntungkan pada kuartal III/2026. Pendapatan grup tumbuh 27 persen secara tahunan atau 30 persen setelah memperhitungkan dampak perubahan nilai tukar mata uang.
Grab juga mencatatkan pertumbuhan EBITDA yang disesuaikan selama 19 kuartal berturut-turut hingga mencapai rekor US$237 juta. Margin EBITDA yang disesuaikan meningkat 565 basis poin secara tahunan menjadi 21,3 persen dari pendapatan, dibandingkan dengan 15,6 persen pada kuartal III/2025.
“Perusahaan akan terus meningkatkan efisiensi operasional di seluruh segmen bisnis utama. Grab juga mengoptimalkan struktur permodalan melalui pembelian kembali saham untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham,” ujarnya.
Kinerja Segmen Bisnis
Berdasarkan segmen bisnis, pendapatan segmen pengantaran, Grab mencatat kenaikan 21 persen secara tahunan atau 22 persen berdasarkan nilai tukar konstan menjadi US$561 juta pada kuartal III/2026.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan GMV layanan pesan-antar makanan dan kebutuhan sehari-hari (groceries), serta perbaikan monetisasi bisnis periklanan.
GMV segmen pengantaran meningkat 21 persen secara tahunan atau 24 persen berdasarkan nilai tukar konstan menjadi US$4,5 miliar terdorong oleh peningkatan jumlah pengguna aktif dan nilai transaksi rata-rata per pengguna.
Adjusted EBITDA segmen pengantaran naik 58 persen secara tahunan menjadi US$123 juta, diikuti peningkatan margin adjusted EBITDA terhadap GMV menjadi 2,7 persen, dibandingkan dengan 2,1 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspansi margin tersebut terutama didorong oleh peningkatan monetisasi iklan dan leverage operasional yang lebih tinggi.
Rata-rata jumlah mitra pedagang aktif bulanan meningkat 7 persen secara tahunan. Sementara itu, rata-rata pendapatan para mitra pedagang tersebut tumbuh 15 persen.
Sementara itu, pendapatan segmen mobilitas meningkat 10 persen secara tahunan atau 12 persen berdasarkan nilai tukar konstan menjadi US$349 juta pada kuartal III/2026.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan GMV mobilitas serta peningkatan jumlah pengguna aktif dan transaksi.
GMV segmen mobilitas meningkat 14 persen secara tahunan atau 17 persen berdasarkan nilai tukar konstan menjadi US$2,34 miliar.
Jumlah transaksi mobilitas tumbuh 21 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan GMV. Grab menyebutkan, ketersediaan layanan dengan harga terjangkau turut menarik lebih banyak pengguna aktif ke dalam platform.
Adjusted EBITDA segmen mobilitas meningkat 15 persen secara tahunan menjadi US$207 juta. Sementara itu, margin adjusted EBITDA terhadap GMV mobilitas tetap stabil sebesar 8,9 persen.
Jumlah mitra pengemudi aktif meningkat 4 persen secara kuartalan dan 20 persen secara tahunan hingga mencapai rekor tertinggi baru. Peningkatan tersebut sejalan dengan investasi Grab pada insentif untuk mitra pengemudi, termasuk dalam upaya mempercepat peralihan menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Di tingkat regional, penetrasi kendaraan listrik mencapai 18 persen dari total perjalanan yang diselesaikan menggunakan kendaraan roda empat. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan 13 persen pada kuartal I/2026.
Layanan Keuangan
Segmen layanan keuangan mencatatkan pertumbuhan pendapatan tertinggi di antara segmen bisnis Grab. Pendapatannya melonjak 124 persen secara tahunan atau 132 persen berdasarkan nilai tukar konstan menjadi US$201 juta pada kuartal III/2026.Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan kontribusi bisnis pinjaman melalui GrabFin dan layanan perbankan digital Grab. Kinerja tersebut turut mencakup konsolidasi Superbank sejak Juni 2026 serta akuisisi Stash yang mulai dikonsolidasikan pada kuartal III/2026.
Total pinjaman yang disalurkan meningkat 115% secara tahunan menjadi US$1,9 miliar selama kuartal III/2026.
Portofolio pinjaman bruto (gross loan portfolio) juga meningkat signifikan sebesar 200% secara tahunan menjadi US$2,7 miliar. Tanpa memperhitungkan kontribusi Superbank, portofolio pinjaman bruto tetap tumbuh 115 persen secara tahunan.
Dari sisi profitabilitas, segmen layanan keuangan untuk pertama kalinya membukukan adjusted EBITDA positif sebesar US$12 juta, berbalik dari yang sebelumnya minus US$28 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan demikian, terjadi perbaikan sebesar US$40 juta secara tahunan, yang mencerminkan peningkatan kontribusi pendapatan dari bisnis pinjaman serta tambahan kontribusi Superbank dan Stash.
Di tengah ekspansi portofolio pinjaman, Grab menyatakan terus memantau kualitas kredit. Rasio kredit bermasalah (non-performing loans/NPL) dengan tunggakan lebih dari 90 hari tercatat sebesar 2,6% dari total portofolio pinjaman bruto pada akhir kuartal III/2026.
Sementara itu, cadangan kerugian kredit ekspektasian (expected credit loss/ECL) mencapai 6,5 persen dari portofolio pinjaman bruto. Dengan demikian, cadangan tersebut mencakup sekitar 2,4 kali nilai NPL.
Total simpanan nasabah pada GXS Bank di Singapura, GXBank di Malaysia, dan Superbank di Indonesia meningkat menjadi US$2,7 miliar pada akhir kuartal III/2026.
Pada Oktober 2026, Komisi Persaingan Usaha Taiwan (Taiwan Fair Trade Commission/TFTC) menolak rencana akuisisi bisnis foodpanda Taiwan milik Delivery Hero yang sebelumnya telah diumumkan Grab.
Sebagai konsekuensinya, Grab akan dikenakan biaya pembatalan transaksi (break fee) sebesar US$60 juta yang akan dibukukan pada kuartal IV/2026.
Biaya tersebut merupakan pengeluaran terkait merger dan akuisisi yang akan sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan berdasarkan standar International Financial Reporting Standards (IFRS). Pengeluaran itu dicatat sebelum perhitungan laba periode berjalan dan tidak dimasukkan dalam perhitungan adjusted EBITDA, yang merupakan ukuran keuangan non-IFRS.
Grab menegaskan biaya pembatalan transaksi tersebut tidak akan memengaruhi proyeksi pendapatan grup maupun adjusted EBITDA sepanjang


















