Prodia Raup Pendapatan Rp1,71 Triliun, Perkuat Ekspansi

- Prodia membukukan pendapatan Rp1,71 triliun hingga kuartal III 2026, naik 8,3% secara tahunan dan menjadi pendapatan kumulatif sembilan bulan tertinggi dalam lima tahun.
- Laba bersih meningkat 10% menjadi Rp125,9 miliar, didukung segmen rujukan dokter dan klien korporasi; volume tes naik 12,8% hingga melampaui 15 juta pemeriksaan.
- Prodia menyiapkan pengembangan layanan diagnostik, specialty clinics, digitalisasi, dan kemitraan strategis; realisasi capex Rp57,6 miliar serta buyback mencapai 61,43 juta saham pada September 2026.
Jakarta, FORTUNE - Emiten Prodia, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) membukukan pendapatan senilai Rp1,71 triliun hingga kuartal-III 2026, naik 8,3 persen (YoY).
Itu merupakan pendapatan kumulatif 9 bulan tertinggi Prodia dalam lima tahun terakhir. Sejalan dengan itu, perseroan pun mencatatkan laba bersih senilai Rp125,9 miliar, naik 10 persen (YoY). President Director Prodia, Liana Kuswandi, mengatakan, pencapaian hingga kuartal-III 2026 menjadi momentum untuk mendorong pertumbuhan berkualitas.
"Ke depan, kami akan terus memperkuat strategi Perseroan melalui peningkatan efektivitas customer engagement untuk mendorong frekuensi kunjungan dan retensi pelanggan, serta mempercepat adopsi tes-tes baru agar dapat memberikan kontribusi optimal terhadap pendapatan," kata Liana, dikutip Jumat (30/10).
Kinerja pendapatan terutama didukung oleh kontribusi dari segmen rujukan dokter dan klien korporasi. Dari sisi operasional, jumlah kunjungan pelanggan (visit) tumbuh di seluruh segmen. Selain itu, volume tes meningkat 12,8 persen (YoY), dengan total pemeriksaan melampaui 15 juta tes.
Pertumbuhan itu menjadi bagian dari upaya Prodia dalam meningkatkan pendapatan per kunjungan (revenue per visit) demi menjaga kualitas pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Dari sisi profitabilitas, EBITDA PRDA meningkat 9,7 persen (YoY) menjadi Rp340,2 miliar hingga September 2026.
Sejalan dengan pengembangan bisnis, Prodia juga terus mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) secara terukur untuk mendukung kebutuhan operasional dan pengembangan kapasitas layanan, dengan realisasi capex hingga September 2026 sebesar Rp57,6 miliar dari total Rp150 miliar anggaran 2026.
Prodia akan lanjut mengembangkan layanan diagnostik dan kesehatan yang lebih advanced dan terintegrasi, termasuk penguatan layanan pada specialty clinics. "Kami juga akan terus memperkuat product mix, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengakselerasi transformasi teknologi digital dan kemitraan strategis untuk mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan," kata Liana.
Perseroan juga sedang melaksanakan program pembelian kembali saham (buyback) di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi. Hingga 30 September 2026, jumlah saham hasil buyback (treasury stock) mencapai 61,43 juta saham atau sekitar 6,5 persen dari modal disetor.




















