Bisnis Tambang Tertekan, Laba Astra Menyusut 12%

Laba bersih Astra turun 12 persen menjadi Rp21,6 triliun akibat tekanan bisnis pertambangan, alat berat, dan pos nonberulang.
Bisnis otomotif dan jasa keuangan tetap menopang kinerja grup dengan pertumbuhan laba masing-masing 8 persen dan 6 persen.
Segmen pertambangan mulai membaik pada kuartal III 2026, sementara Astra melanjutkan buyback dan penambahan kepemilikan anak usaha.
Jakarta, FORTUNE— PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih Rp21,6 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, turun 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp24,47 triliun. Penurunan ini terjadi di tengah pelemahan bisnis solusi pertambangan dan alat berat serta pembebanan pos nonberulang yang lebih besar.
Presiden Direktur Astra International, Rudy mengatakan Astra mencatat kinerja yang resilien selama sembilan bulan pertama tahun 2026. “Pertumbuhan pada sebagian besar bisnis Astra diimbangi oleh kondisi yang menantang pada bisnis solusi pertambangan dan alat berat,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10).
Berdasarkan laporan keuangan ASII hingga 30 September 2026, pendapatan bersih Astra mencapai Rp243,87 triliun, relatif stagnan dibandingkan Rp243,61 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara jika tidak memperhitungkan pos nonberulang (non-recurring items), laba bersih Astra relatif stabil di level Rp24,57 triliun, turun tipis 1 persen dari Rp24,72 triliun. Pos nonberulang yang terutama berasal dari penurunan nilai dan penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas mencapai Rp2,96 triliun, jauh lebih besar dibandingkan Rp244 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.
Tekanan kinerja terutama berasal dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat. Segmen ini membukukan laba bersih sebelum pos nonberulang Rp5,07 triliun, turun 28 persen secara tahunan.
Pelemahan tersebut dipengaruhi penurunan penjualan emas dari tambang Martabe yang sempat menghentikan produksi pada awal tahun. Selain itu, penurunan kuota produksi batu bara nasional melalui alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) turut menekan permintaan alat berat, jasa penambangan, serta volume penjualan batu bara.
Sejalan lesunya bisnis pertambangan, sepanjang Januari–September 2026, penjualan alat berat Komatsu anak usaha perseroan turun 17 persen menjadi 3.000 unit. Penjualan batu bara juga menyusut 23 persen menjadi 7,1 juta ton. Adapun, penjualan emas turun menjadi 54.000 ons dari 178.000 ons pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, kinerja segmen ini mulai membaik pada kuartal III 2026 dengan pertumbuhan laba 15 persen secara tahunan. Perbaikan tersebut ditopang peningkatan volume kontrak pertambangan dan dimulainya kembali produksi tambang emas Martabe pada kuartal II 2026.
Bisnis Otomotif Tumbuh
Kendati bisnis pertambangan menghadapi tekanan, lini bisnis otomotif dan jasa keuangan masih menjadi penopang kinerja grup secara keseluruhan. Laba bersih bisnis otomotif tumbuh 8 persen menjadi Rp9,79 triliun, sedangkan jasa keuangan tumbuh 6 persen menjadi Rp7,15 triliun.
Dari sisi volume, penjualan mobil nasional meningkat 21 persen menjadi 679.000 unit selama sembilan bulan pertama tahun ini, sementara penjualan mobil Astra tumbuh 13 persen. Dengan demikian, grup konglomerasi ini mencatat pangsa pasar 49 persen dari total penjualan mobil nasional.
Sedangkan pada segemen pasar kendaraan roda dua, ASII mencatat pertumbuhan penjualan motor nasional 4 persen menjadi 5 juta unit, penjualan sepeda motor Honda meningkat 3 persen, dengan perohan pangsa pasar tetap sebesar 77 persen.
Bisnis jasa keuangan memperoleh dukungan dari peningkatan pembiayaan. Nilai pembiayaan baru grup naik 8 persen menjadi Rp92,5 triliun, sedangkan piutang pembiayaan bersih meningkat 6% menjadi Rp132 triliun dibandingkan posisi akhir 2025.
Segmen lain-lain, yang terutama mencerminkan bisnis Astra di luar bisnis inti otomotif, mencatat kenaikan laba bersih sebelum pos nonberulang sebesar 36 persen menjadi Rp2,56 triliun. Pertumbuhan terutama ditopang kenaikan harga dan produktivitas agribisnis serta kontribusi dari platform pergudangan industri yang baru diakuisisi.
Di tengah kondisi pasar yang volatil, Astra melanjutkan strategi alokasi modal melalui pembelian kembali saham (share buyback) dan penambahan kepemilikan pada anak usaha.
Sejak November 2025 hingga September 2026, grup telah menyelesaikan program buyback senilai Rp10 triliun. Di luar program buyback Astra senilai Rp8 triliun yang masih berlangsung, United Tractors mengumumkan buyback hingga Rp2 triliun untuk periode Oktober–Desember 2026. Astra Agro Lestari juga menyiapkan buyback hingga Rp400 miliar pada periode yang sama.
Astra turut melaksanakan penawaran tender sukarela atas maksimal 4,95% saham Astra Otoparts dengan harga Rp3.600 per saham. Nilai transaksi maksimal mencapai sekitar Rp858 miliar. Jika seluruh saham yang ditawarkan berhasil diperoleh, kepemilikan Astra di Astra Otoparts akan meningkat dari 80 persen menjadi 84,95 persen.
Rudy menyatakan di tengah volatilitas pasar, perusahaan tetap optimistis terhadap kekuatan Core Businesses Astra dan akan terus meningkatkan efisiensi operasional, menjaga posisi neraca yang kuat, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif.
“Astra akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus menciptakan nilai bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan,” pungkasnya.




















