Laba ANTAM Naik 46 Persen, Emas dan Nikel Jadi Penopang

ANTAM membukukan laba Rp9,66 triliun pada Januari–September 2026, naik 46 persen tahunan.
Emas menyumbang 77 persen penjualan senilai Rp68,41 triliun, sementara pendapatan nikel melonjak 52 persen menjadi Rp16,98 triliiun.
Aset ANTAM naik 24 persen menjadi Rp59,74 triliun dan kas Rp10,54 triliun.
Jakarta, FORTUNE — PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau ANTAM mencatat pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang Januari–September 2026. Laba periode berjalan meningkat 46 persen secara tahunan menjadi Rp9,66 triliun, dibandingkan Rp6,61 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan laba tersebut sejalan dengan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 23 persen, dari Rp72,03 triliun menjadi Rp88,48 triliun. Pasar domestik menjadi kontributor utama dengan nilai penjualan Rp83,86 triliun atau sekitar 95 persen dari total pendapatan perusahaan.
Seiring peningkatan penjualan, EBITDA ANTAM turut tumbuh 45 persen menjadi Rp13,48 triliun. Pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan kinerja operasional perusahaan selama sembilan bulan pertama 2026.
Table of Content
Laba usaha tumbuh lebih cepat
Kinerja ANTAM menguat di sejumlah lapisan profitabilitas. Laba kotor naik 42 persen menjadi Rp15,56 triliun dari Rp10,98 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Sementara itu, laba usaha tumbuh lebih tinggi, yakni 53 persen dari Rp7,89 triliun menjadi Rp12,05 triliun.
Direktur Utama ANTAM Untung Budiharto mengatakan perusahaan mempertahankan pertumbuhan melalui optimalisasi operasional dan strategi komersial.
“Kami terus memperkuat fundamental bisnis melalui optimalisasi operasional, penguatan strategi komersial, serta pengembangan portofolio usaha untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Untung dalam keterangannya, Selasa (27/10).
Kinerja tersebut turut diikuti kenaikan laba bersih per saham dasar sebesar 48 persen menjadi Rp367,78, dibandingkan Rp248,62 pada periode yang sama tahun lalu. Selain itu, keuntungan dari entitas asosiasi meningkat 115 persen menjadi Rp300,58 miliar.
Emas masih menjadi kontributor terbesar
Emas menyumbang 77 persen terhadap total penjualan ANTAM selama sembilan bulan pertama 2026. Penjualan produk ini mencapai Rp68,41 triliun, meningkat 17 persen dari Rp58,67 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi volume, penjualan emas mencapai 25.217 kilogram atau sekitar 810.745 troy ounce. Sementara itu, produksi emas dari tambang perusahaan tercatat sebesar 634 kilogram, naik 7 persen secara tahunan berdasarkan laporan kuartalan perusahaan.
ANTAM memperluas pemasaran produk Logam Mulia melalui pengembangan produk, peningkatan layanan, perluasan kanal distribusi, dan kolaborasi dengan mitra strategis di dalam negeri. Upaya tersebut berjalan seiring besarnya kontribusi emas terhadap pendapatan perusahaan.
Pendapatan nikel naik 52 persen
Segmen nikel yang mencakup bijih nikel dan feronikel menyumbang 19 persen terhadap total penjualan ANTAM. Pendapatan segmen ini mencapai Rp16,98 triliun, meningkat 52 persen dibandingkan Rp11,15 triliun pada Januari–September 2025.
Produksi bijih nikel mencapai 12,16 juta wet metric ton (wmt), sedangkan penjualannya sebesar 10,73 juta wmt. Seluruh penjualan bijih nikel tersebut diserap pasar domestik untuk mendukung hilirisasi.
Untuk feronikel, produksi tercatat sebesar 11.638 ton nikel dalam feronikel (TNi). Penjualannya mencapai 13.971 TNi, melonjak 71 persen dari 8.182 TNi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Seluruh volume feronikel tersebut terserap pasar ekspor, terutama ke Tiongkok, India, dan Korea Selatan.
Segmen bauksit dan alumina juga mencatat pertumbuhan. Penjualannya meningkat 35 persen menjadi Rp2,64 triliun. Volume penjualan bauksit naik 49 persen menjadi 1,64 juta wmt, sementara produksi chemical grade alumina (CGA) tumbuh 14 persen menjadi 153.399 ton.
Kas menguat, proyek hilirisasi berlanjut
Posisi keuangan ANTAM ikut meningkat. Total aset perusahaan mencapai Rp59,74 triliun, naik 24 persen dibandingkan Rp48,07 triliun. Ekuitas bertambah 17 persen menjadi Rp41,22 triliun, sedangkan kas dan setara kas meningkat 14 persen menjadi Rp10,54 triliun.
Arus kas bersih dari aktivitas operasi mencapai Rp5,06 triliun, tumbuh 26 persen dari Rp4,02 triliun. Penerimaan kas dari pelanggan juga naik 29 persen menjadi Rp87,92 triliun, sejalan dengan peningkatan penjualan.
Di luar kinerja sembilan bulan pertama 2026, ANTAM telah membagikan dividen tunai Rp5,05 triliun untuk tahun buku 2025 pada Juli 2026. Nilainya meningkat 38 persen dibandingkan dividen tahun buku 2024 sebesar Rp3,65 triliun. Pembagian tersebut setara dengan 70 persen laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 2025.
Perusahaan juga melanjutkan pengembangan usaha hilir. Salah satunya, proyek ekosistem baterai kendaraan listrik di Halmahera Timur bersama konsorsium yang melibatkan Grup CATL dan Zhejiang Huayou Cobalt. Sementara itu, proyek SGAR Mempawah Fase 1 dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun diarahkan untuk memperkuat rantai pasok industri aluminium nasional.
FAQ seputar laba ANTAM
Berapa laba ANTAM hingga September 2026? ANTAM mencatat laba periode berjalan Rp9,66 triliun, tumbuh 46 persen secara tahunan.
Berapa penjualan bersih ANTAM pada Januari–September 2026? Penjualan bersih ANTAM mencapai Rp88,48 triliun, naik 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produk apa yang paling besar menyumbang penjualan ANTAM? Emas menjadi kontributor terbesar dengan porsi 77 persen dari total penjualan.
Berapa pendapatan segmen nikel ANTAM? Pendapatan segmen nikel mencapai Rp16,98 triliun, meningkat 52 persen secara tahunan.






















