Laba Bersih BNI Naik Jadi Rp16,11 Triliun hingga Kuartal III-2026

BNI membukukan laba bersih Rp16,11 triliun hingga kuartal III-2026, naik 6,62% secara tahunan, ditopang pendapatan bunga bersih Rp33,23 triliun dan fee-based income Rp13,9 triliun.
Kredit mencapai Rp992,51 triliun pada September 2026, sementara CASA tumbuh 19,6% menjadi Rp733,7 triliun.
NIM turun 30 basis poin menjadi 3,5% akibat penurunan loan yield, tetapi kualitas aset membaik.
Jakarta, FORTUNE — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp16,11 triliun hingga kuartal III-2026. Angka tersebut tumbuh 6,62 persen secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan dengan Rp15,12 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba BNI ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan berbasis komisi. Sejalan dengan ekspansi kredit, laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) meningkat 11,6 persen YoY menjadi Rp27,5 triliun.
Table of Content
Pendapatan bunga bersih naik 13,6 persen
Berdasarkan laporan keuangan interim per 30 September 2026, pendapatan bunga BNI meningkat dari Rp51,17 triliun menjadi Rp60 triliun. Meski beban bunga turut naik dari Rp21,91 triliun menjadi Rp26,77 triliun, pendapatan bunga bersih perseroan tetap tumbuh 13,62 persen secara tahunan menjadi Rp33,23 triliun.
Selain itu, pendapatan berbasis komisi (fee-based income) meningkat 8,3 persen menjadi Rp13,9 triliun. Pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan komisi tersebut turut menopang kenaikan laba bersih BNI sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Dari sisi operasional, laba operasional BNI tumbuh 9,3 persen menjadi Rp20,27 triliun dibandingkan dengan Rp18,55 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemulihan aset yang telah dihapusbukukan juga meningkat dari Rp3,56 triliun menjadi Rp3,96 triliun. Sementara itu, keuntungan selisih kurs valuta asing yang telah direalisasi naik dari Rp789,6 miliar menjadi Rp1,16 triliun.
Kredit mendekati Rp1.000 triliun
Hingga September 2026, kredit BNI mencapai Rp992,51 triliun. Nilai tersebut meningkat 10,34 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp899,53 triliun. Sementara itu, dalam perbandingan tahunan yang disampaikan perseroan, pertumbuhan kredit tercatat 22,2 persen.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan standar analisis kelayakan debitur yang disiplin. Strategi tersebut mendorong pangsa pasar kredit perseroan meningkat 113 basis poin menjadi 10,6 persen secara tahunan.
"Pertumbuhan kredit yang selektif dan penguatan dana murah menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan profitabilitas. Kami terus mengoptimalkan struktur pendanaan agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan," papar Paolo.
Pada saat yang sama, dana murah atau current account savings account (CASA) tumbuh 19,6 persen YoY menjadi Rp733,7 triliun. Giro meningkat 25,9 persen, melampaui pertumbuhan industri sebesar 9,8 persen berdasarkan data Agustus 2026.
Pangsa pasar giro BNI naik 120 basis poin menjadi 13,2 persen. Sementara itu, pangsa pasar tabungan meningkat 10 basis poin menjadi 9,2 persen.
Margin bunga tertekan, kualitas aset membaik
Meski pendapatan bunga bersih tumbuh, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BNI turun 30 basis poin menjadi 3,5 persen hingga September 2026. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh imbal hasil kredit (loan yield) yang turun dari 7,3 persen menjadi 6,9 persen.
Di sisi pendanaan, biaya dana (cost of fund/CoF) justru menurun dari 2,83 persen menjadi 2,77 persen, didukung pertumbuhan CASA. Perkembangan tersebut berlangsung bersamaan dengan perbaikan indikator kualitas aset.
Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun dari 2 persen menjadi 1,9 persen. Rasio loan at risk (LaR) juga menyusut dari 10,4 persen menjadi 7,8 persen. BNI mempertahankan rasio total pencadangan terhadap kredit sebesar 3,8 persen, di atas rata-rata industri 3,5 persen, dengan NPL coverage ratio mencapai 193,3 persen.
Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan perseroan menerapkan pengelolaan risiko kredit sejak proses pemilihan sektor prioritas dan penilaian kelayakan debitur. Pengawasan juga dilakukan setelah kredit dicairkan, termasuk melalui penguatan sistem peringatan dini untuk mendeteksi potensi penurunan kualitas kredit.
Transaksi digital terus bertumbuh
Aktivitas digital menjadi bagian lain dari perkembangan bisnis BNI. Hingga September 2026, pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 16,6 juta, tumbuh 58 persen YoY. Nilai transaksinya naik 25 persen menjadi Rp1.774 triliun.
Sementara itu, platform korporasi BNIdirect mencatat nilai transaksi Rp9.324 triliun, meningkat 16 persen YoY, dengan jumlah pengguna mencapai 293.000 atau tumbuh 19 persen. BNI mengintegrasikan layanan digital dan jaringan cabang melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) untuk meningkatkan produktivitas cabang, aktivitas transaksi, dan penghimpunan dana murah.
Dari sisi permodalan dan likuiditas, BNI mencatat rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) 19,2 persen, loan to deposit ratio (LDR) 87,9 persen, liquidity coverage ratio (LCR) 143,4 persen, dan net stable funding ratio (NSFR) 128,4 persen.
FAQ seputar BNI cetak laba
Berapa laba bersih BNI hingga kuartal III-2026? BNI membukukan laba bersih Rp16,11 triliun, tumbuh 6,62 persen secara tahunan.
Berapa nilai kredit BNI per September 2026? Kredit BNI mencapai Rp992,51 triliun per 30 September 2026.
Bagaimana perkembangan NIM BNI? NIM BNI turun 30 basis poin menjadi 3,5 persen hingga September 2026.
Berapa nilai transaksi wondr by BNI? Nilai transaksi wondr by BNI mencapai Rp1.774 triliun hingga September 2026.





















