Tingkatkan Infrastruktur Omnichannel, Pendapatan Blibli Tumbuh 46%

Blibli membukukan pendapatan neto Rp22.238 miliar pada sembilan bulan 2026, naik 46 persen secara tahunan, didorong pertumbuhan seluruh segmen usaha.
Segmen institusi tumbuh tertinggi 70 persen menjadi Rp9.916 miliar, sementara ekspansi toko fisik menambah 31 gerai baru pada kuartal ketiga 2026.
Efisiensi operasional menekan rugi usaha 53 persen menjadi Rp783 miliar dan rugi EBITDA 61 persen menjadi Rp566 miliar, meski marjin bruto turun menjadi 15,6 persen.
Jakarta, FORTUNE - PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) membukukan pendapatan neto konsolidasian sebesar Rp22.238 miliar pada sembilan bulan pertama 2026 (9M26). Angka tersebut tumbuh 46 persen secara tahunan (year-on-year/y.o.y) dibandingkan Rp15.239 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan kontribusi dari seluruh segmen usaha, terutama segmen institusi dan toko fisik. Di tengah pola belanja konsumen yang selektif dan persaingan pasar yang ketat, perseroan juga mencatatkan perbaikan profitabilitas dan efisiensi operasional.
“Sembilan bulan pertama tahun 2026 kembali menunjukkan ketangguhan ekosistem omnichannel terintegrasi serta konsistensi kami dalam menjalankan rencana strategis jangka panjang. Di tengah pola belanja konsumen yang selektif dan persaingan pasar yang ketat, kami terus mencatatkan pertumbuhan sekaligus meningkatkan profitabilitas dan efisiensi operasional. Kemajuan ini mencerminkan fokus kami pada pertumbuhan berkualitas tinggi, investasi yang disiplin, serta perbaikan berkelanjutan, alih-alih sekadar mengejar pertumbuhan dengan cara apa pun,” ujar Kusumo dalam keterangan resmi, Jumat (30/10).
Pendorong pertumbuhan utama

ilustrasi pelanggan menerima paket Blibli (dok. Blibli) Sepanjang 9M26, pendapatan neto Blibli meningkat di seluruh segmen usaha. Segmen institusi mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 70 persen secara tahunan menjadi Rp9.916 miliar. Berikutnya, pendapatan dari toko fisik tumbuh 37 persen menjadi Rp6.626 miliar, sementara segmen ritel 1P naik 29 persen menjadi Rp4.499 miliar dan ritel 3P tumbuh 9 persen menjadi Rp1.197 miliar.
Kinerja segmen institusi ditopang oleh ekspansi regional pada kategori elektronik konsumen, khususnya smartphone, dan elektronik rumah tangga. Sepanjang periode tersebut, segmen ini melayani sekitar 93.000 klien institusi. Belanja per klien juga meningkat 63 persen secara tahunan menjadi Rp145,1 juta, sedangkan tingkat monetisasi naik dari 59 persen pada 9M25 menjadi 74 persen pada 9M26.
Sementara itu, pertumbuhan segmen ritel 1P didukung oleh fokus perseroan pada produk dengan marjin lebih tinggi di sejumlah kategori utama, termasuk elektronik konsumen, elektronik rumah tangga, barang konsumsi, serta olahraga dan gaya hidup. Adapun pada segmen ritel 3P, perseroan mengalihkan sebagian kategori pihak ketiga yang dinilai lebih strategis ke segmen ritel 1P untuk memperoleh pendapatan dan marjin yang lebih tinggi.
Dari sisi toko fisik, Blibli menambah 31 toko baru sepanjang kuartal ketiga 2026. Hingga akhir September, perseroan mengoperasikan 347 toko elektronik konsumen, 24 toko elektronik rumah tangga, dan 1 toko fesyen dan olahraga. Perseroan juga mengelola 60 gerai supermarket premium Ranch Market serta 39 home and living experience centers yang dioperasikan Dekoruma.
Selain memperluas jaringan, perseroan memperkuat integrasi rantai pasok dan efisiensi pemenuhan pesanan melalui layanan Fulfillment at Speed (FAS). Sinergi ekosistem juga diperkuat lewat peluncuran kartu kredit co-brand BCA Blibli Tiket Mastercard, yang menawarkan pengalaman berbelanja terintegrasi, pilihan pembayaran fleksibel, dan keuntungan eksklusif bagi pelanggan.
Secara keseluruhan, TPV konsolidasian tumbuh 11 persen secara tahunan menjadi Rp67.165 miliar pada 9M26. Sementara itu, Laba Bruto Sebelum Diskon (Gross Profit Before Discount/GPBD) meningkat 20 persen menjadi Rp6.107 miliar. Peningkatan tersebut turut mendorong take rate perseroan dari 8,4 persen pada 9M25 menjadi 9,1 persen pada 9M26.
Efisiensi operasional membaik

Gudang Blibli di Marunda, Jakarta Utara. (dok. Blibli) Di tengah pertumbuhan pendapatan, Blibli juga mencatatkan perbaikan pada sejumlah indikator profitabilitas. Laba bruto konsolidasian meningkat 29 persen secara tahunan menjadi Rp3.462 miliar pada 9M26. Sementara itu, beban operasional turun 1 persen menjadi Rp4.306 miliar dari Rp4.369 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Efisiensi tersebut terlihat dari rasio beban operasional konsolidasian terhadap TPV yang turun dari 7,2 persen pada 9M25 menjadi 6,4 persen pada 9M26. Perbaikan terutama ditopang oleh lebih efisiennya beban iklan dan pemasaran serta beban umum dan administrasi terhadap TPV.
Sejalan dengan perbaikan struktur biaya, rugi usaha perseroan menyusut 53 persen secara tahunan menjadi Rp783 miliar, dibandingkan Rp1.677 miliar pada 9M25. EBITDA juga membaik, dengan rugi EBITDA turun 61 persen dari Rp1.460 miliar menjadi Rp566 miliar. Rasio EBITDA terhadap TPV turut meningkat dari minus 2,4 persen menjadi minus 0,8 persen, atau membaik 160 basis poin secara tahunan.
CFO Blibli, Ronald Winardi, mengatakan perbaikan bauran pendapatan dan pengelolaan biaya yang disiplin menjadi bagian dari kinerja perseroan pada periode tersebut.
“Kinerja keuangan kami pada sembilan bulan pertama tahun 2026 mencerminkan manfaat dari perbaikan bauran pendapatan serta pengelolaan biaya yang disiplin. Pendapatan kami tumbuh 46 persen y.o.y, didukung oleh pertumbuhan di seluruh segmen usaha. Peningkatan take rate menjadi 9,1 persen serta perbaikan kinerja EBITDA sebesar 160bps semakin menunjukkan kemajuan dalam kualitas pertumbuhan dan efisiensi operasional. Kami tetap fokus pada upaya memperluas marjin, meningkatkan leverage operasional, dan menjaga kedisiplinan dalam alokasi modal guna mempercepat langkah menuju profitabilitas, sekaligus membangun fondasi yang lebih kuat bagi pertumbuhan profitabilitas yang berkelanjutan serta nilai jangka panjang bagi pemegang saham,” ujar Ronald.
Untuk 2026, perseroan menegaskan kembali target pertumbuhan pendapatan neto konsolidasian sebesar 15–20 persen. Fokus berikutnya mencakup peningkatan marjin dan efisiensi struktur biaya, penguatan kemitraan dengan prinsipal merek dan klien institusional, serta pengembangan ekosistem omnichannel terintegrasi.
Perseroan juga melihat momentum musiman, seperti Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) dan liburan akhir tahun, sebagai peluang tambahan, khususnya pada kategori elektronik konsumen, perjalanan, dan gaya hidup. (WEB)






















