Profil Kideco Jaya Agung, Dirumorkan Akan Diakuisisi BUMI

Kideco Agung Jaya dikenal sebagai salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia.
Kideco beroperasi di Kalimantan Timur, dengan volume produksi batu bara mencapai 30,5 juta ton pada 2025.
Volume penjualan sebesar 14,8 juta ton mencakup 6,4 juta ton untuk pasar domestik dan 8,3 juta ton untuk pasar ekspor pada semester I/2026.
Jakarta, FORTUNE – Profil Kideco Jaya Agung tengah menjadi sorotan setelah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) buka suara terkait rumor akuisisi. Kideco dikabarkan sebagai kandidat terkuat untuk diakuisisi oleh BUMI.
Direktur Bumi Resources RA Sri Dharmayanti menjelaskan perseroan tidak bisa berkomentar atas rumor pasar maupun transaksi yang bersifat hipotesis. Manajemen juga tidak dapat memverifikasi sumber atau dasar informasi yang beredar.
“Perseroan tidak dapat memberikan komentar atas rumor pasar, spekulasi, maupun transaksi yang bersifat hipotesis, serta setiap perkembangan korporasi yang material akan diungkapkan sesuai dengan peraturan dan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku,” ungkap Dharmayanti.
Table of Content
Profil Kideco Agung Jaya
PT Kideco Jaya Agung adalah salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia. Perusahaan ini juga dikenal sebagai tambang dengan biaya produksi terendah secara nasional.
Kideco memiliki dua kantor utama yang terletak di Jakarta Selatan, DKI Jakarta dan Balikpapan, Kalimantan Timur. Sementara itu, lokasi tambang batu bara berpusat di kawasan Kalimantan Timur.
Struktur kepemilikan Kideco Agung Jaya saat ini didominasi oleh PT Indika Energy Tbk (INDY) dengan menguasai 91 persen saham. Sisanya 9 persen dimiliki oleh Samtan Co., Ltd, perusahaan energi dan investasi asal Korea Selatan.
Sejarah Kideco Jaya Agung
Kideco Jaya Agung didirikan pada 1982 dan bergerak di sektor pertambangan batu bara. Setelah melewati proses eksplorasi, Kideco mulai melakukan produksi batu bara secara komersial pada 1993.
Tahun 2004 menjadi titik balik bagi keberlanjutan bisnis Kideco. Indika Energy mulai masuk ke bisnis Kideco melalui akuisisi 41 persen saham.
Porsi kepemilikan tersebut naik menjadi 46 persen pada 2026, sebelum perusahaan mengantongi 91 persen saham pada 2017. Sejak saat itu, Kideco menjadi salah satu aset utama dalam portofolio bisnis energi Indika Energy.
Kideco memperoleh Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) sebagai kelanjutan operasi kontrak atau perjanjian pada 16 Desember 2022. Perizinan tersebut berlaku hingga 13 Maret 2033 dan dapat diperpanjang sesuai kebijakan yang berlaku.
Wilayah operasional dan produksi tambang
Cakupan operasional pertambangan batu bara Kideco berpusat di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Sebanyak enam tambang yang dikelola Kideco, seperti Roto North, Roto South, Roto South (Biu), Roto Middle, Susubang, dan Samarangau.
Perusahaan tersebut menggunakan metode tambang terbuka (open-pit mining). Produk batu bara Kideco diminati pasar berkat karakteristik kadar abu dan sulfur yang relatif rendah. Rata-rata kandungan abu campurannya 2,1 persen hingga 4,9 persen, sedangkan kandungan sulfur 0,1 persen.
Berdasarkan Laporan Tahunan Indika Energy 2025, produksi batu bara Kideco mencapai 30,5 juta ton atau turun dari capaian 30,7 juta ton pada 2024. Sementara itu, volume penjualan menyentuh level 30,8 juta ton.
Kideco pernah mencatat jumlah produksi batu bara mencapai 40,3 juta pada 2014. Capaian ini menjadi produksi tahunan tertinggi sepanjang sejarah Kideco pada laporan tersebut.
Cakupan pemasaran batu bara kideco
Sebagai produsen batu bara, Kideco Agung Jaya dikenal memiliki cakupan pasar luas. Kideco menyumbang 41,5 persen atau 12,8 juta ton batu bara pada 2025. Pasokan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sektor kelistrikan maupun nonkelistrikan dalam negeri.
Di sisi lain, perusahaan memasok 58,5 persen atau 18 juta ton dari total penjualan ke pasar internasional. Target penjualannya mencakup China, India, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan beberapa negara di kawasan Asia Tenggara.
Jaringan bisnis Kideco memperlihatkan pasar global menjadi tujuan utama penjualan batu bara sepanjang 2025. Namun, perusahaan tetap memasok lebih dari dua perlima dari total volume penjualan batu bara untuk menopang kebutuhan energi nasional.
Kontribusi Kideco terhadap kinerja Indika Energy
Dalam laporan tersebut, Indika Energy mencatatkan pendapatan konsolidasi senilai 1,1469 miliar dolar AS sepanjang enam bulan pertama 2026. Angka ini tumbuh 19,9 persen dibandingkan 956,8 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Kideco Jaya Agung menjadi salah satu kontributor terbesar pada seluruh kinerja keuangan Indika Energy. Pertumbuhan pendapatan tercatat naik 10,2 persen menjadi 855,1 juta dolar AS secara tahunan.
Peningkatan pendapatan Kideco dipicu kenaikan harga jual rata-rata batu bara global sebesar 54,7 dolar AS per ton atau bertambah 6,8 persen. Volume penjualan batu bara turut naik 2,4 persen dan berada di level 14,8 juta ton.
Komposisi pemasarannya meliputi 6,4 juta ton atau 43,5 persen untuk pasar domestik. Sebanyak 56,5 persen atau 8,3 juta ton dari volume penjualan untuk pasar ekspor.
Kideco juga membukukan perbaikan margin laba kotor sebesar 19 persen pada semester I/2026. Persentase tersebut naik sekitar 4 persen dibandingkan 14,2 persen pada semester I/2025.
FAQ seputar profil Kideco Agung Jaya
PT Kideco Jaya Agung adalah perusahaan apa? Kideco Jaya Agung adalah perusahaan produsen dan tambang batu bara di Indonesia.
PT Kideco Jaya Agung milik siapa? Kideco Jaya Agung dimiliki oleh Indika Energy dengan kepemilikan sebesar 91 persen.
Kideco apakah BUMN? Tidak. Kideco Agung Jaya merupakan perusahaan swasta yang bergerak di sektor pertambangan batu bara.
Berapa produksi batu bata Kideco Jaya Agung? Total produksi batu bara Kideco mencapai 30,5 juta ton dengan volume penjualan sebesar 30,8 juta ton pada 2025.




















