Apabila rupiah melemah, biaya impor hingga daya beli masyarakat bisa terdampak. Apalagi, jika suatu negara masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap barang impor.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan pelemahan rupiah membuat biaya impor meningkat dan akhirnya dibebankan ke harga barang di tingkat konsumen.
“Begitu rupiah melemah, cost naik dan pasti ditransmisikan ke harga konsumen, classic imported inflation. Justru desa yang paling rentan karena daya tawarnya paling terbatas,” ujarnya, Sabtu (16/5).
Tekanan akibat pelemahan rupiah mulai terlihat pada sektor pangan dan energi. Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas penting seperti gandum, kedelai, gula, susu, hingga sebagian kebutuhan daging sapi. Ketika nilai tukar rupiah turun, biaya impor ikut naik dan berpotensi memicu kenaikan harga di pasar domestik.
Selain pangan, sektor kesehatan dan layanan digital juga ikut terdampak. Industri farmasi masih bergantung pada impor bahan baku obat dan alat kesehatan. Sementara itu, berbagai layanan digital global seperti Netflix, Spotify, iCloud, dan Microsoft 365 menggunakan sistem pembayaran berbasis dolar AS.