Comscore Tracker
FINANCE

8 Pelajaran Keuangan Terpenting dari “Squid Game”

Ada jurus menghindari jerat utang hingga gagal investasi.

8 Pelajaran Keuangan Terpenting dari “Squid Game”Squid Game. (nerdevil.it)

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Squid Game, serial asal negeri ginseng “Korea Selatan” yang tayang di Netflix ini menyuguhkan cerita sisi gelap manusia, tetapi disuguhkan dengan sangat menarik. Dari mini series bergenre survival thriller ini, ada fakta menarik menceritakan kisah nyata tentang tingginya utang warga Korea Selatan (Korsel). 

Pandemi pun membuat kondisi semakin parah, banyak warga yang mengambil jalan instan untuk mendapat uang dengan cara berutang. Bisa jadi fakta ini menjadi benang merah, para peserta rela mengorbankan nyawa dan mengikuti permainan mematikan demi memenangkan uang 45,6 miliar won.

Jalan cerita serial dari sutradara dan penulis Hwang Dong Hyuk ini mengungkap bahwa utang rumah tangga Korsel sangat tinggi, mencapai 96,9 persen dari produk domestik bruto (PDB). Hal itu diketahui dari salah satu cuplikan film Squid Game yang terselip sebuah pemberitaan. Dengan catatan itu, Korsel menduduki posisi kedua sebagai negara yang memiliki utang rumah tangga tertinggi di dunia.

"Peningkatan utang rumah tangga Korea menduduki posisi ke-2 teratas di dunia. Laju peningkatan utang rumah tangga negara kita, melampaui rata-rata global. Tiga kuartal terakhir, Bank of Korea dan Bank Penyelesaian Internasional melaporkan bahwa rasio PDB terhadap utang rumah tangga adalah 96,9 persen," demikian narasi pembawa berita di Squid Game.

Berdasarkan data Bank of Korea (BOK), utang rumah tangga Korsel mencapai rekor tertinggi pada kuartal II-2021. Kredit rumah tangga, yang mencakup utang rumah tangga kepada bank dan lembaga keuangan lainnya, berjumlah 1.805,9 triliun won pada akhir Juni, naik 41,2 triliun won dari tiga bulan sebelumnya.

"Ini menandai yang tertinggi sejak data mulai dikompilasi pada tahun 2003," kata laporan Xinhuanet, dikutip Selasa (4/10).

Pada 2020, BOK juga merilis laporan terkait utang rumah tangga Korsel tumbuh pada tingkat paling lambat dalam satu tahun pada kuartal pertama. Pertambahan hanya 11 triliun won dari tiga bulan sebelumnya, menjadi 1.611,3 triliun won pada akhir Maret. Di sisi lain, GDP Korsel diperkirakan telah menyusut 1,3 persen dari tiga bulan sebelumnya pada periode Januari-Maret, menandai kontraksi on-quarter yang terbesar dalam lebih dari satu dekade.

Laporan Institute of International Finance (IIF) juga menyebut pada akhir Maret 2020, utang dari bisnis nonfinansial mencapai 104,6 persen dari PDB Korsel, naik 7,4 persen dari tiga bulan sebelumnya. 

Ditambah kemerosotan akibat pandemi, banyak pihak termasuk perusahaan meningkatkan pinjaman hingga pada tingkat yang mengkhawatirkan. Dilansir dari QM Financial pada Senin (4/10), berikut beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari Squid Game agar Anda memiliki finansial yang sehat.

Asuransi itu penting

Masih banyak di antara kita yang tidak menganggap remeh asuransi. Padahal, jaminan asuransi menjadi sangat penting pada keadaan darurat. Dalam Squid Game diceritakan, ibu dari tokoh utama Gi Hun  mendesak untuk pulang karena tidak punya uang membayar tagihan rumah sakit, padahal Beliau mengidap diabetes.

Peserta nomor 456 ini mengatakan, asuransi dapat menanggung biaya rumah sakit. Namun, ibunya mengingatkan bahwa ia tidak dapat membayar premi secara teratur. Dari situlah bisa dipahami, arti penting asuransi terutama sebagai jaminan akan munculnya risiko keuangan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Don’t put eggs in one basket

Sang Woo, teman Gi Hun yang juga peserta Squid Game mengatakan, “Don’t put your eggs in one basket”. Pepatah bijak soal investasi ini lazim didengar untuk mengingatkan berinvestasi di berbagai instrumen. Tentunya ada potensi keuntungan, tetapi harus dipahami risikonya. High risk, high return.

Ketika kita mengambil instrumen yang yang menjanjikan keuntungan tinggi, maka risiko juga akan sangat tinggi. Bahkan bisa jadi modal kita ikut hilang. Namun, jika hanya mengandalkan investasi risiko rendah, bisa jadi tujuan keuangan tidak tercapai.

Pelajari dahulu sebelum berinvestasi dan memilih investasi dengan bijak. Jangan sampai seperti Sang Woo yang menderita kerugian besar, hingga melakukan tindakan kriminal dan penggelapan dana perusahaan untuk menutup kerugian itu.

Bijak berutang, waspadai rentenir

UTANG menjadi penyebab semua kekacauan di Squid Game. Mulai dari kaum marjinal hingga orang berpendidikan, sebagian besar peserta butuh uang untuk membayar utang pada rentenir. Percaya atau tidak, utang bikin kecanduan. Sering kali terjadi, belanja pakai kartu kredit atau pay later misalnya. 

Terbuai pinjaman online juga menjadi gerbang pembuka pintu utang yang kini lazim terjadi. Utang sekali, tapi tidak bisa bayar. Lalu berutang lagi alias gali lubang tutup lubang, hingga jatuh dalam sumur utang. Lalu bagaimana?

Prioritas adalah koentji. Alih-alih menggunakan uang hasil pinjaman untuk menutup pengeluaran atau dijadikan modal untuk mendapatkan penghasilan. QM Financial juga menyarankan, untuk memprioritaskan penggunaan uang dari utang untuk hal-hal yang lebih penting.

Awas jebakan keinginan sesaat

Keinginan sesaat yang diutamakan bisa jadi risiko serius dan melupakan hal-hal yang lebih penting, seperti Gi Hun yang kecanduan judi. Terkadang judi dianggap jalan pintas dan solusi dari masalah keuangan. 

Faktanya, yang terjadi di meja judi justru mempertaruhkan harta untuk sesuatu yang tak pasti. Akibatnya bisa diduga, ketika terjadi risiko kerugian, tak cuma modal berkurang tapi kehilangan segalanya.

Keserakahan adalah jalan menuju kegagalan hidup

Squid Game juga bicara mengenai kegigihan dalam menghadapi segala tantangan. Agar dapat bertahan dan menang, memang banyak hal harus dilakukan.

Akan tetapi, jangan sampai keserakahan mewarnai kebijakan finansial yang akhirnya ingin untung malah rugi berlipat ganda. Keserakahan juga berpotensi menggiring pada tindakan kriminal, seperyi para peserta Squid Game yang saling membunuh demi menambah nominal uang.

Mengenal kata ‘cukup’ itu memang jadi hal yang krusial, apalagi kalau soal keuangan. Namun, setiap orang pasti bisa merasa cukup dan rela menerima dengan apa yang diberikan dan telah menjadi ketentuan rezeki dari Sang Pencipta.

Keuangan yang sehat tak diraih dalam semalam

Kondisi keuangan yang stabil, tak dapat diraih hanya dalam semalam. Butuh waktu dan perjuangan. Misalnya, jika ingin menikah atau membeli rumah tentu sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari.

Squid Game mengajarkan, bagaimana kita harus berjuang, bekerja, dan berusaha lebih keras meskipun rasa-rasanya dunia memperlakukan kita secara tak adil. Tapi memang kenyataannya, kisah sukses itu tak datang dengan cepat. Baik dalam permainan seperti Squid Game, maupun di dunia nyata.

Bersyukur dengan hasil yang sudah dicapai

Nikmati hasil yang sudah dicapai dan jangan lupa bersyukur atas pencapaian. Hasil kerja keras jangan sampai tidak dinikmati untuk membahagiakan keluarga atau self reward

Dalam cerita, si kakek Oh Il Nam—pemodal di balik layar—yang bertanya pada Gi Hun, mengapa ia tak mempergunakan uangnya sama sekali? Dari sanalah Gi-Hun kemudian kembali pada tujuan awal mengikuti Squid Game, yakni membahagiakan putri satu-satunya.

Intinya, Anda pantas memanfaatkan apa pun yang sudah didapatkan dan menikmatinya. Namun, tentu saja harus terukur dan tercatat. “That money was the reward you got for your luck and hard work. You have the right to use it,” kata Oh Il Nam di episode penutup.

Uang bukan segalanya

Last but not least, jelang adegan akhir Squid Game mengajarkan berapa pun uang yang dimiliki toh hidup tetap akan butuh perjuangan. Mungkin bentuknya saja yang berbeda.

Petuahnya bukan sekadar harus bertahan hidup. Akan tetapi, juga soal menghargai dan melihat keindahan dalam hal-hal kecil yang ada di sekitar kita.

Seperti Oh Il Nam yang kaya raya, tapi didera kesepian di akhir hidupnya. Seolah mengatakan, uang bisa mendatangkan kesenangan, tapi apabila tidak bahagia maka uang juga tidak berguna. Demikian pelajaran finansial dari 9 episode Squid Game yang viral. Belum terlambat untuk belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi.

Related Topics

Related Articles