Comscore Tracker
FINANCE

Memahami Deflasi, Penyebab, dan Dampaknya bagi Perekonomian

Sekilas menguntungkan, tapi deflasi bagai pisau bermata dua.

Memahami Deflasi, Penyebab, dan Dampaknya bagi PerekonomianPedagang melayani pembeli telur di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (1/10/2021). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Deflasi adalah sebuah keadaan di mana harga barang terus-menerus turun dalam waktu tertentu. Kebalikan dari deflasi adalah inflasi. 

Istilah deflasi mungkin tak asing bagi masyarakat yang sering kali mengikuti perkembangan pemberitaan ekonomi nasional. Lalu, apa itu deflasi dan bagaimana dampaknya?

Dikutip dari laman resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam OJK Pedia tertera deflasi adalah keadaan yang menunjukkan daya beli uang meningkat dalam masa tertentu karena jumlah uang yang beredar relatif lebih kecil daripada jumlah barang dan jasa yang tersedia (deflation).

Deflasi bagai pisau bermata dua

Secara sederhana, kondisi deflasi adalah saat harga-harga barang dan jasa secara terus menerus turun dalam jangka waktu tertentu. Sekilas situasi ini tampak menguntungkan, sebab harga-harga barang dan jasa jadi lebih terjangkau bagi konsumen. 

Adanya deflasi adalah jalan yang dianggap bisa menghemat pengeluaran lebih besar dibanding sebelumnya. Namun, deflasi bisa jadi pisau bermata dua, yang berarti bisa merugikan atau berdampak negatif. Terutama dalam hal ini produsen barang atau penyedia jasa. 

Deflasi yang terjadi secara tajam atau terus menerus bisa merugikan aktivitas jual beli. Penurunan harga barang dan jasa sering kali membuat produsen atau penyedia jasa mengalami kerugian karena penjualan tak mampu menutup biaya produksi maupun ataupun operasional.

Dampak negatif deflasi

Jika deflasi semakin parah, tak jarang produsen atau penyedia jasa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk mengurangi beban. Semakin tinggi deflasi, semakin tinggi pula potensi PHK tenaga kerja.

Itu sebabnya, deflasi sering kali dikaitkan dengan kondisi resesi dan terjadi saat kondisi perekonomian melesu. Roda perekonomian yang melambat terjadi karena permintaan atas konsumsi dan investasi yang anjlok.

Situasi deflasi yang berlebihan bisa memicu meningkatnya angka PHK yang secara langsung membuat pengangguran meningkat. Tak hanya itu, deflasi pun berpengaruh pada menurunnya upah minimum. 

Di Indonesia sendiri, salah satu komponen upah minimum adalah angka inflasi. Jika yang terjadi adalah deflasi yang merupakan kebalikan dari inflasi, maka upah minimum yang ditetapkan bisa lebih rendah. 

Situasi ketidakpastian juga mendorong lebih banyak kredit macet di perbankan dan lembaga keuangan. Hal ini diakibatkan karena banyak produsen atau penyedia jasa yang jadi debitur tengah dalam kondisi sulit karena angka penjualannya mengalami penurunan.

Bisa ditebak, efek domino deflasi berimbas pada pendapatan negara, yakni pajak. Meruginya produsen barang dan penyedia jasa, otomatis membuat mereka tak bisa membayar pajak sebagaimana saat kondisi normal.

Penyebab deflasi

Penyebab deflasi antara lain terlalu banyak barang yang sama yang diproduksi dalam satu waktu. Ini sesuai dengan prinsip ekonomi, semakin banyak pasokan barang di pasar (penawaran), maka harga akan semakin murah. 

Penyebab deflasi yang dominan kedua, yakni penurunan permintaan. Saat kondisi ekonomi memburuk, perilaku konsumen seringkali menghemat belanja dan menyimpan uangnya untuk kebutuhan yang lebih prioritas. 

Hal ini membuat permintaan akan barang atau jasa melemah, sehingga memicu harganya menurun. Penyebab lain deflasi juga bisa datang dari kebijakan pemerintah maupun bank sentral. 

Contohnya kebijakan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter terkait suku bunga. Ketika suku bunga tinggi, secara tak langsung mendorong masyarakat cenderung lebih suka menyimpan uangnya di bank karena faktor bunga, hal ini membuat uang yang beredar di masyarakat semakin sedikit.

Masyarakat yang lebih memilih uangnya disimpan di perbankan membuat permintaan barang dan jasa lesu, sehingga memicu terjadinya deflasi.

Perhitungan deflasi

Sebagaimana inflasi, arti deflasi juga dihitung dari Indeks Harga Konsumen (IHK). Dikutip dari laman resmi BPS, deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran. 

Beberapa IHK yang dipakai BPS dalam perhitungan apa itu deflasi antara lain kelompok makanan, minuman, tembakau, kelompok pakaian dan alas kaki, transportasi. 

Lalu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga.

Berikutnya kelompok kesehatan, kelompok pendidikan, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya.

Contoh deflasi

Deflasi yang cukup tinggi beberapa kali terjadi, baik di dalam maupun luar negeri, seperti di Romania dan Jepang. Berikut contoh deflasi dan dampaknya.

  • Jepang terjebak dalam spiral deflasi selama 30 tahun

Meskipun menjadi negara yang memiliki berbagai teknologi rupanya tidak dapat menghindarkan Jepang dari deflasi. Sejak tahun 1989 tepatnya suku bunga dinaikkan oleh Bank of Japan. Dari tahun tersebut pertumbuhan ekonomi Jepang melambat bahkan tidak mencapai 2 persen. Hal ini menyebabkan produktivitas pekerja menurun dan kegemaran masyarakat menabung. 

  • Harga komoditas anjlok di Romania

Romania pernah mengalami deflasi pada tahun 2016, bahkan mencapai angka 3,6 persen. Penyebab utama dari deflasi adalah karena produksi minyak mentah yang melimpah pada saat itu.

Banyak negara yang berlomba-lomba memproduksi minyak mentah untuk diolah menjadi bahan bakar untuk keperluan industri. Produksi minyak secara berlebihan itu justru membuat harga minyak mentah anjlok dan berimbas pada harga komoditas di Romania pun ikut anjlok.

  • Deflasi di Indonesia 

Deflasi beberapa kali pernah terjadi di Indonesia. Laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap pada September 2021 terjadi deflasi sebesar 0,04 persen. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–September) 2021 sebesar 0,80 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2021 terhadap September 2020) sebesar 1,60 persen. 

Penyumbang deflasi terbesar adalah kelompok pengeluaran makanan minuman dan tembakau di mana terjadi deflasi 0,47 persen dan andilnya 0,12 persen

“Ini adalah deflasi kedua selama tahun 2021. Kalau kita perhatikan komoditas penyebab utama deflasi September tahun 2021 adalah telur ayam ras andilnya sebesar 0,07 persen. Kemudian komoditas cabai rawit andilnya 0,03%, ketiga yaitu bawang merah andilnya 0,03 persen,” ucap Kepala BPS Margo Yuwono dalam telekonferensi pers pada Jumat (1/10).

Sementara komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi, yaitu minyak goreng sebesar 0,02 persen; sawi hijau, rokok putih, daging ayam ras, dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01 persen.

Kelompok kedua yang mengalami deflasi adalah informasi, komunikasi, dan jasa keuangan pada September 2021 yang mengalami deflasi 0,01 persen. Dari empat subkelompok pada kelompok ini, satu subkelompok mengalami deflasi dan tiga subkelompok tidak mengalami perubahan. Subkelompok yang mengalami deflasi, yaitu subkelompok peralatan informasi dan komunikasi sebesar 0,05 persen. Sementara subkelompok yang tidak mengalami perubahan, yaitu subkelompok layanan informasi dan komunikasi; subkelompok asuransi; dan subkelompok jasa keuangan. 

Demikian penjelasan mengenai deflasi, penyebab deflasi, dan dampaknya bagi perekonomian, baik di dalam maupun luar negeri.

Related Articles