Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi domestik. Ferry menyoroti besarnya belanja pemerintah, peningkatan subsidi energi, serta tingginya kebutuhan impor sebagai faktor yang mempersempit ruang penguatan rupiah.
Ia mengungkapkan pertumbuhan impor Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor. Data BPS mencatat nilai impor kuartal I-2026 menembus 61,30 miliar dolar AS atau naik 10,05 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, kinerja ekspor hanya merangkak naik 0,34 persen menjadi 66,85 miliar dolar AS. Ketimpangan tersebut membuat kebutuhan dolar meningkat, terutama untuk pembayaran impor bahan baku, energi, hingga komponen industri.
“Pertumbuhan ekspor kita melambat, beban subsidi semakin besar, belanja pemerintah semakin besar, sementara pendapatan negara kita enggak ngejar,” kata Ferry.
Berdasarkan dokumen APBN Kita, total belanja pemerintah pusat mencapai Rp610 triliun pada kuartal I 2026. Di sisi lain, subsidi energi meningkat signifikan sehingga memperbesar tekanan fiskal ketika rupiah melemah.
Ferry menilai pelemahan rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia. Stabilitas kurs dipengaruhi kebijakan fiskal, moneter, hingga arah kebijakan ekonomi pemerintah.