Comscore Tracker
FINANCE

Tumbuh 74%, Bank Permata Catatkan Laba Rp639 Miliar 

Kredit Bank Permata tumbuh 16,6 persen 

Tumbuh 74%, Bank Permata Catatkan Laba Rp639 Miliar Ilustrasi PermataBank/Tempo Eko Siswono Toyudho

by Suheriadi

Jakarta, FORTUNE- PT Bank Permata Tbk (PermataBank) hingga semester-I 2021 mencatatkan laba bersih setelah pajak senilai Rp639 miliar atau meningkat signifikan 74,3 persen dari Rp366 miliar pada periode sama tahun lalu. 

Raihan tersebut ditopang beberapa faktor, di antaranya pendapatan operasional yang tumbuh 19,4 persen YoY menjadi Rp4,9 triliun serta laba operasional sebelum pencadangan yang tumbuh sebesar 36,6 persen YoY. 

Direktur Utama PermataBank, Chalit Tayjasanant, mengatakan fokus PermataBank ialah meningkatkan kinerja melalui perluasan skala bisnis dan pertumbuhan kredit yang sehat didukung oleh teknologi terdepan. 

“Seiring dengan bertumbuhnya aset dan pendapatan operasional, dalam semester pertama 2021 ini PermataBank juga membukukan peningkatan transaksi digital yang signifikan dikontribusikan oleh perkembangan inovasi teknologi yang kami terapkan," kata Chalit melalui konferensi virtual di Jakarta, Selasa (14/9). 

Kredit tumbuh 16,6 persen

Direktur Keuangan Permatabank, Lea Kusumawijaya, juga mengatakan PermataBank mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 16,6 persen (YoY) menjadi Rp120,8 triliun. Pertumbuhan kredit yang kuat tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan segmen Wholesale Banking sebesar 39,8 persen YoY. 

Raihan tersebut menurut Lea juga dikontribusikan dari integrasi dengan Bangkok Bank Indonesia pada Desember 2020. Tak hanya itu, pertumbuhan kredit Permatabank juga didukung oleh pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang signifikan sebesar 21,7 persen YoY pada segmen ritel. 

Sedangkan untuk rasio Non-Performing Loan (NPL) gross dan NPL net pada Juni 2021 menjadi masing-masing 3,3 persen dan 1,2 persen, bila dibandingkan dengan posisi Desember 2020 yang masing-masing mencapai 2,9 persen dan 1,0 persen. 

"Prinsip kehati-hatian selalu dilakukan oleh bank dalam mengelola risiko dan menjalankan fungsi intermediari secara efektif dan efisien dalam komitmen untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam upaya pemulihan perekonomian nasional," kata Lea. 

PermataBank juga telah mengalokasikan biaya pencadangan kerugian penurunan nilai untuk mengantisipasi potensi kerugian akibat penurunan kualitas aset sebesar Rp1,5 triliun atau meningkat 41 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Dengan demikian, rasio cakupan NPL tetap terjaga baik di kisaran yang cukup konservatif, yaitu 218 persen. 

Aset mencapai Rp212 triliun

Lea menambahkan, PermataBank telah mencatatkan total aset sebesar Rp212,9 triliun atau tumbuh 34,8 persen (YoY). Capaian tersebut menjadikan PermataBank sebagai salah satu dari 10 bank komersial terbesar di Indonesia berdasarkan total aset. 

Sementara itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) PermataBank tercatat sebesar 75 persen pada akhir Juni 2021 atau turun dibandingkan dengan posisi tahun lalu yang sebesar 81 persen. Hal ini menurutnya disumbang oleh peningkatan simpanan nasabah yang tumbuh sebesar 25 persen (YoY) dengan rasio CASA sebesar 52 persen, menguat dibandingkan posisi Desember 2020 sebesar 51 persen. 

Sedangkan untuk rasio permodalan dinilai masih sangat kuat dengan rasio CAR dan CET-1 sebesar masing-masing 35,4 persen dan 26,9 persen atau jauh lebih kuat dari rasio CAR rata-rata industri perbankan pada kisaran 24 persen. 

Transaksi didominasi oleh kanal digital

PermataBank mengaku fokus untuk mempercepat proses digitalisasi layanan miliknya. Pada tahun pertama 2021 tercatat, jumlah total transaksi PermataBank meningkat 200% Year-on-Year (YoY) menjadi 937 juta. 

Dari angka transaksi tersebut, sebagian besar berasal dari kanal digital atau mencapai 766 juta. Menurut Lea, peningkatan transaksi digital ini mencerminkan kemitraan yang kuat dan efektif dengan pihak ketiga serta dengan banyak pemain utama dalam ekosistem PermataBank dan ekonomi digital pada umumnya. 

Pada lini Wholesale Banking, PermataBank juga terus melaksanakan kerja sama berbasis teknologi, salah satunya dengan Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DKI Jaya & Sekitarnya dalam memfasilitasi teknologi perbankan melalui PermataAPI (Application Programming Interface). Begitu pula kemitraan di sisi trade financing bersama Contour sebagai bank pertama di Indonesia yang mengadopsi teknologi blockchain. 

Tak berhenti di situ, pada Mei 2021, PermataBank Syariah meluncurkan “The First Shariah API Solution” untuk Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Layanan ini memungkinkan LKS untuk melakukan transfer in & transfer out bagi para nasabahnya dari dan ke bank lain secara online.

Related Articles