Comscore Tracker
FINANCE

BI: Bank Digital Berpotensi Ubah Struktur Perbankan Nasional

Awal perubahan struktur perbankan dimulai selama pandemi.

BI: Bank Digital Berpotensi Ubah Struktur Perbankan NasionalIlustrasi bank digital. (Shutterstock/Song_about_summer)

by Tanayastri Dini Isna KH

Jakarta, FORTUNE - “Banking is necessary, but banks are not.” Miliarder Bill Gates telah mencetuskan pernyataan itu sejak 1994, yang tampaknya mulai tercermin pada kondisi saat ini ketika sebagian nasabah lebih memilih menikmati layanan perbankan digital ataupun bank digital.

Bahkan, Bank Indonesia (BI) menilai skalabilitas bank digital berpotensi mengubah struktur perbankan Indonesia di masa mendatang. Terlebih, Indonesia masih memiliki ruang untuk perkembangan layanan perbankan digital dan bank digital

Dalam Kajian Stabilitas Keuangan edisi September 2021, BI menyebut masih ada sekitar 28 juta penduduk yang belum terhubung dengan bank (unbanked). Pada saat yang sama, sekitar dua persen dari 139 juta pengguna internet global berada di Indonesia, yakni mencakup 50 persen populasi negara.

“Bank digital berpotensi meningkatkan skalabilitas dengan mengandalkan model bisnis berbasis konektivitas tanpa diikuti dengan penambahan jumlah jaringan fisik kantor cabang,” begitu bunyi laporan BI itu dikutip Rabu (6/10).

1. Adopsi Perbankan Digital Terakselerasi Sejak Pandemi

Tahap awal perubahan struktur perbankan Indonesia dimulai selama pandemi ketika terjadi lonjakan penggunaan layanan perbankan digital sejak tahun lalu. Mengutip data BI, pada Juni 2021 volume transaksi perbankan digital melambung 59,33 persen (yoy) dengan nominal transaksi yang meroket 60,12 persen (yoy).

Faktor utama di balik kenaikan volume transaksi daring tersebut, yakni penggunaan SMS atau mobile banking serta internet banking; masing-masing melonjak 63,7 persen (yoy) dan 49,3 persen (yoy) pada periode sama.

Selain tercermin dalam volume dan nominal transaksi, menurut survei lembaga analitik FICO, 54 persen konsumen lebih memilih menyampaikan dan menyelesaikan keluhan layanan bank lewat saluran daring ketimbang mendatangi kantor cabang.

2. Tren Kelahiran Bank Digital di Indonesia

Diinisiasi oleh BTPN yang meluncurkan Jenius pada 2016, kini pasar perbankan digital Indonesia pun semakin ramai. Khususnya pada 2021, saat berbagai perusahaan teknologi turut menerjunkan diri ke tengah kolam persaingan melalui akuisisi. Contoh, Bank Artos yang bertransformasi menjadi Bank Jago setelah dibeli oleh Gojek; Bank Yudha Bakti menjadi Bank Neo Commerce karena akuisisi Akulaku, hingga Bank BKE yang menjadi Bank SeaBank Indonesia berkat induk usaha Shopee, SEA Ltd.

Belum lagi dengan hadirnya layanan bank digital dari berbagai bank induk, seperti BCA, BRI, DBS, Bukopin, Bank Permata, OCBC NISP, Danamon, hingga Bank UOB.

3. Manfaat Transformasi Bank Digital

Pada tahap awal transformasi, perbankan perlu menggelontorkan biaya investasi teknologi informasi dan promosi yang cukup tinggi. Menurut BI, “dampaknya terhadap efisiensi sisi operasional ataupun biaya dana, belum terlihat (dalam jangka pendek).”

Akan tetapi, dalam jangka panjang, adopsi saluran daring oleh perbankan dapat berefek terhadap pengurangan kantor cabang fisik dan kantor cabang kas. Dengan begitu, akan terjadi efisiensi biaya operasional dan pendanaan.

“Di samping itu, fee-based income pun diharapkan dapat meningkat seiring bertambahnya transactional banking, terutama pada penguatan cross selling dan value of chain terhadap nasabah,” tulis BI.

Related Articles