Suatu negara tidak hanya dinilai dari tingkat pertumbuhan ekonominya untuk masuk kategori Emerging Market. Lembaga seperti MSCI juga mempertimbangkan ukuran pasar modal, aksesibilitas bagi investor asing, likuiditas, hingga kualitas infrastruktur pasar keuangan.
Secara umum, berikut karakteristik negara dengan status Emerging Market.
Negara Emerging Market mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dibandingkan negara maju. Kondisi ini didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat, investasi, industrialisasi, serta perkembangan sektor bisnis.
Ekspansi dunia usaha dan pertumbuhan berbagai sektor ekonomi membuka peluang bagi investor untuk memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi. Karena itu, pasar berkembang kerap menjadi tujuan investasi bagi investor global yang mencari potensi pertumbuhan jangka panjang.
Negara berstatus Emerging Market biasanya telah memiliki pasar modal yang berfungsi dengan baik, didukung oleh bursa efek, lembaga kliring, serta kerangka regulasi yang terus diperkuat. Meski belum sematang negara maju, infrastruktur tersebut memungkinkan aktivitas investasi berjalan lebih efisien.
Harga saham, obligasi, maupun nilai tukar di negara berkembang umumnya lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi global, arus modal asing, maupun sentimen pasar. Akibatnya, pergerakan harga aset dapat berlangsung lebih fluktuatif dalam jangka pendek.
Selain menawarkan peluang pertumbuhan, Emerging Market juga menghadapi berbagai risiko, seperti perubahan kebijakan pemerintah, kondisi politik, inflasi, hingga pelemahan nilai tukar. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kepercayaan investor dan kinerja pasar keuangan.