Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Bursa Asia Hari Ini Variatif, Kospi Sempat Naik 2 Persen

Bursa Asia Hari Ini Variatif, Kospi Sempat Naik 2 Persen
ilustrasi saham (unsplash.com/Nicholas Cappello)
  • Bursa Asia bergerak variatif, yang mana Kospi sempat menguat lebih dari 2 persen sebelum berbalik turun.

  • Ketidakpastian konflik AS-Iran setelah berakhirnya gencatan senjata 60 hari mendorong WTI naik ke US$85,30 per barel, memicu kekhawatiran inflasi dan tekanan pasar saham.

  • Investor menanti data ekonomi AS serta laporan Home Depot untuk menilai ekonomi konsumen dan arah kebijakan The Fed.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNEBursa Asia hari ini, Selasa (18/8), bergerak variatif. Kospi Korea Selatan sempat melonjak lebih dari 2 persen pada awal perdagangan usai kembali dibuka usai libur, tetapi kemudian berbalik melemah. Sementara itu, ASX 200 Australia naik tipis 0,19 persen.

Di Jepang, Nikkei 225 turun 0,91 persen. Hang Seng Hong Kong melemah 0,79 persen, Shanghai Composite terkoreksi 0,09 persen, dan Straits Times Index Singapura turun 0,95 persen.

Bursa Asia juga dibayangi pelemahan Wall Street pada perdagangan sebelumnya. S&P 500 ditutup turun 0,5 persen, Dow Jones Industrial Average melemah 0,5 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,3 persen.

  1. Bursa Asia hari ini dibayangi konflik AS-Iran

    Pergerakan bursa Asia hari ini turut dipengaruhi ketidakpastian konflik AS-Iran. Gencatan senjata selama 60 hari telah berakhir, sedangkan peluang tercapainya kesepakatan baru antara kedua negara kembali mengecil.

    Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak berminat memperpanjang kesepakatan dengan Iran. Sikap tersebut memicu kekhawatiran konflik kembali meningkat dan mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah.

    Kekhawatiran itu ikut mendorong harga minyak. Harga West Texas Intermediate (WTI) naik 1 persen menjadi 85,30 dolar AS per barel pada Selasa pagi, setelah melonjak hampir 3 persen pada perdagangan sebelumnya.

    Kenaikan harga minyak akhirnya menambah tekanan bagi pasar saham. Harga energi yang lebih tinggi berisiko mendorong inflasi, sehingga investor kembali mempertimbangkan dampaknya terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.

  2. Kenaikan yield Treasury

    Kenaikan harga minyak juga dibarengi dengan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun naik 0,8 basis poin menjadi sekitar 4,72 persen. Sementara itu, tenor 30 tahun meningkat 0,6 basis poin ke sekitar 5,31 persen, level tertinggi sejak 2007.

    Pergerakan serupa terjadi di Jepang. Yield Japanese Government Bond (JGB) tenor 10 tahun naik 2,5 basis poin menjadi sekitar 2,94 persen, mencapai level tertinggi dalam tiga dekade.

    Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi menambah tekanan terhadap pasar saham Asia. Investor tengah mempertimbangkan risiko inflasi dan dampaknya terhadap prospek kebijakan moneter AS.

  3. Data ekonomi AS dan laporan Home Depot ditunggu

    Investor selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang dirilis hari ini. Agenda tersebut mencakup harga impor dan ekspor Juli, pembangunan rumah baru atau housing starts, serta pending home sales.

    Data ekonomi AS menjadi sorotan setelah penjualan ritel sebelumnya secara tak terduga mengalami penurunan. Hasil data terbaru akan menjadi salah satu acuan investor dalam membaca kondisi ekonomi dan memperkirakan arah kebijakan The Fed.

    Dari sisi korporasi, Home Depot dijadwalkan merilis laporan keuangan sebelum perdagangan bursa AS dibuka. Kinerja perusahaan tersebut dapat memberikan gambaran tambahan mengenai kondisi belanja konsumen di AS.

    FAQ seputar bursa Asia hari ini

    Bagaimana pergerakan bursa Asia hari ini?

    Bursa Asia hari ini bergerak variatif dengan Kospi menguat lebih dari 2 persen sebelum akhirnya melemah.

    Apa yang menekan bursa Asia?

    Ketegangan AS-Iran, kenaikan harga minyak, dan imbal hasil obligasi menjadi perhatian pasar.

    Apa yang diperhatikan investor selanjutnya?

    Investor mencermati harga minyak, perkembangan AS-Iran, data ekonomi AS, dan laporan keuangan perusahaan.

Share Article
Editorial Team

Latest in Market

See More