IHSG Tertekan di 6.009, Investor Menanti Sinyal Pembalikan Tren

- IHSG ditutup turun 1,02 persen ke 6.009,5 dan diperkirakan bergerak konsolidatif, dengan perhatian pasar tertuju pada data tenaga kerja AS serta arah kebijakan The Fed.
- Data domestik menunjukkan surplus perdagangan Agustus US$3,55 miliar dan inflasi September 3,28 persen; pasar juga menilai dampak reshuffle kabinet serta penerapan short selling.
- Secara teknikal, tekanan bearish masih terlihat, tetapi kondisi jenuh jual dan meredanya foreign selling membuka peluang pemulihan jika IHSG menembus resistance 6.185.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan terkonsolidasi pada Jumat (2/10), setelah ditutup melemah 1,02 persen ke level 6.009,5 kemarin.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, fokus sentimen selanjutnya bergeser ke rilis data ekonomi global, terutama data tenaga kerja AS yang akan menjadi perhatian dalam membaca arah kebijakan The Fed. Dari domestik, surplus perdagangan Agustus mencapai US$3,55 miliar, sementara inflasi September tercatat 3,28 persen (YoY), menunjukkan aktivitas ekspor masih solid namun tekanan harga domestik mulai meningkat.
"Pasar juga akan mengevaluasi dampak reshuffle kabinet dan implementasi short selling terhadap sentimen serta aktivitas perdagangan," kata Reza.
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tekanan setelah menembus support Fibonacci 6.019 dan ditutup dekat level psikologis 6.000. MACD masih menunjukkan momentum bearish, sehingga indeks berpotensi konsolidasi di area 6.000–6.200. Support berikutnya berada di 5.854, sedangkan resisten ada di antara 6.185–6.240.
"Kemampuan kembali menembus 6.185 menjadi konfirmasi awal untuk membuka ruang technical rebound," ujar Reza.
Daftar saham pilihannya pada perdagangan hari ini adalah ENRG, COCO, dan VKTR.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) menambahkan, para pelaku investor juga akan menyambut musim laporan keuangan kuartal-III 2026 dan october effect. Senior Technical Analyst MASI, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara historis, masuknya kuartal-IV 2026 sering investor manfaatkan untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat menjelang rilis kinerja keuangan kuartal-III.
Dari sisi fundamental makro, kenaikan inflasi dinilai belum menunjukkan tekanan yang mengkhawatirkan. Namun, itu tetap menjadi faktor yang perlu dicermati karena bersamaan dengan kenaikan harga minyak dunia.
"Apabila harga energi bertahan tinggi, ruang pelonggaran moneter BI dapat menjadi lebih terbatas dan hal tersebut berpotensi memengaruhi valuasi saham domestik," kata Nafan.
Ia menilai, secara teknikal, IHSG masih akan memiliki ruang untuk pemulihan dari permulaan wave (X) mengingat indikator RSI sudah sangat jenuh jual. Berdasarkan indikator lain, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif namun vollume mengalami kenaikan.
"Pelemahan IHSG pada Kamis (1/10) tidak lagi disertai akselerasi foregin selling sebesar hari sebelumnya, sehingga terdapat indikasi tekanan jual mulai mereda, tinggal menantikan konfirmasi pembalikan tren," ujar Nafan.
Saham-saham pilihan tim MASI hari ini adalah BRIS, BULL, dan TINS.












