MARKET

Terdampak Sentimen Boikot Produk, Laba Unilever  Anjlok 10,51% di 2023

Penjualan domestik UNVR terkontraksi 5,2 persen

Terdampak Sentimen Boikot Produk, Laba Unilever  Anjlok 10,51% di 2023Unilever Indonesia

by Ekarina

07 February 2024

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Emiten barang konsumsi, PT Unilever Indonesia, Tbk (UNVR) mencatatkan penurunan kinerja keuangan sepanjang 2023. Perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp38,6 triliun, turun 6,32 persen dibandingkan2022 sebesar Rp41,21 triliun diikuti penurunan laba bersih sebesar 10,51 persen di 2023 menjadi Rp4,8 triliun dibandingkan torehan tahun sebelumnya sebesar Rp5,3 triliun. 

Kendati demikian, Unilever masih mampu menghasilkan peningkatan gross margin sebesar 346 basis points (bps) dibandingkan 2022.

Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap mengatakan perusahaan berupaya memperkuat fundamental bisnis menjadi prioritas utama sepanjang 2023. Pada kuartal III 2023, bisnis perseroan masih bertumbuh dengan mencatatkan peningkatan penjualan domestik sebesar 3,3 persen, terdorong oleh pertumbuhan volume dasar sebesar 4,3 persen. 

Meski sempat mengalami momentum positif, pada November dan Desember kinerja perseroan mulai terdampak oleh pergeseran sentimen konsumen yang disebabkan oleh kondisi geopolitik Timur Tengah dan maraknya aksi Boikot Produk. Hal ini menyebabkan penjualan domestik perseroan terkontraksi 5,2 persen hingga akhir tahun lalu. 

Dalam dua bulan terakhir di kuartal IV 2023, Unilever menghadapi tantangan eksternal yang tidak terduga, termasuk adanya penyebaran informasi yang tidak benar terkait situasi geopolitik. Meskipun tantangan ini berdampak pada bisnis dan operasional, namun Perseroan mampu mengatasi situasi tersebut dan mulai melihat perkembangan positif di awal tahun 2024.

“Upaya kami untuk secara konsisten mengklarifikasi informasi yang menyesatkan, serta berkat dukungan yang luar biasa dari para mitra terpercaya dan konsumen setia kami menjadi faktor penting dalam mencapai kemajuan Perseroan. Dengan adanya tren positif saat ini, kami yakin telah berada di jalur yang tepat untuk menumbuhkan bisnis kami di 2024," kata Benjie Yap dalam paparan publik virtual, Rabu (7/2). 

Benji mengatakan, untuk mengatasi tantangan sentimen negatif tahun lalu, perusahaan juga terjun langsung mengidentifikasi bidang dan area yang terdampak paling besar, seperti di  Aceh dan Padang. Oleh sebab itu, perusahaan secara aktif bekerja sama dengan komunitas dan tokoh agama melakukan sejumlah aksi dan mengklarifikasi informasi yang tidak benar.

"Upaya konsisten kami untuk menavigasi krisis ini telah mulai menunjukkan kemajuan pada Januari 2024. Ke depan, kami tetap berkomitmen untuk fokus pada pertumbuhan jangka panjang dengan secara konsisten melaksanakan lima prioritas strategis kami," kata Benjie . 

Adapun, kelima prioritas strategis tersebut adalah memperkuat dan unlock potensi dari brand-brand utama, memperluas portofolio ke premium dan value segment, membangun execution powerhouse. Kemudian, memimpin kapabilitas transformasional dan menempatkan prinsip keberlanjutan sebagai inti dari Perseroan.

Strategi bisnis

Sepanjang tahun lalu, Perseroan telah memperkenalkan sejumlah inovasi di seluruh segmen inti, premium dan value untuk memenuhi ekspektasi konsumen. Unilever juga melanjutkan upaya strategisnya untuk mendorong pengembangan pasar yang berfokus pada perluasan jangkauan di berbagai sektor. 

Seluruh inovasi, termasuk inovasi dari portofolio merek-merek inti Perseroan yang diluncurkan ke pasar turut didukung oleh peningkatan belanja iklan sebesar 8,4 persen dari penjualan bersih Unilever di 2023. 

Tahun ini, Unilever akan kembali melanjutkan ekspansi. Direktur Keuangan Unilever Indonesia, Vivek Agarwal mengatakan, investasi belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini, Unilever akan menganggarkan sekitar 2 persen dari total pendapatan khususnya untuk mendukung produktivitas dan efisiensi operasional. 

“Kami terus mengevaluasi berbagai keputusan investasi dan capex dengan berhati-hati. Strategi kami tetap sama dari tahun ke tahun. Jika tahun kemarin capexnya lebih tinggi dari 2022, pada 2024 kami perkirakan sekitar 2 persen terutama berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi,” kata Vivek.

Dengan pemulihan yang pemulihan kinerja yang mulai terjadi di awal tahun, ia berharap hal itu bisa terus berlanjut ke depannya.

“Kalau ini terus berjalan, kami perkirakan pertumbuhan bisa terjadi di kuartal II 2024 dari segi volume dan pangsa pasar yang akan berkorelasi terhadap pendapatan dan laba,” ujarnya.

Pada perdagangan Rabu (7/2), saham Unilever ditutup naik 0,62 persen di level Rp3.270 dengan kapitalisasi pasar Rp124,75 trilun.