Emas Spot dan Antam Kompak Melonjak, Simak Ini Sentimen Penguatannya

- Harga emas global mencapai US$3.423 per troy ounce, naik 3,9 persen sepanjang Agustus 2024.
- Emas Antam juga menguat menjadi Rp1.964.000 per gram, dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS dan meningkatnya minat investor.
- Logam mulia juga mengalami tren penguatan sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pelemahan rupiah.
Jakarta, FORTUNE - Harga emas global naik menembus level US$3.423 per troy ounce pada perdagangan Jumat (29/8). Dengan demikian, sepanjang Agustus 2024, emas spot telah naik sekitar 3,9 persen.
Capaian ini menempatkan emas di harga tertingginya dalam lebih dari sebulan dan menempatkannya di jalur kenaikan mingguan kedua berturut-turut, seiring pelemahan dolar AS serta meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai.
Tidak hanya emas global, emas dalam negri pun tercatat menguat peda perdagangan hari ini. Berdasarkan laman resmi Antam, logam mulia tersebut dibandrol Rp1.964.000 per gram. Level harga ini melonjak Rp20.000 hanya dalam sehari. Sejumlah sentimen di dalam dan luar negeri mempengaruhi tren bullish harga emas.
Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, mengatakan pasa tengah menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) malam ini, indikator inflasi The Fed.
Pasar memiliki tingkat kepercayaan mencapai 86–88 persen terhadap peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed berikutnya .
"Harapan penurunan suku bunga ini menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga emas, seiring dengan meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (29/8).
Selain faktor moneter, permintaan emas global juga meningkat signifikan. Negara-negara BRICS dan Asia Tenggara semakin mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dengan memperbesar cadangan emas. Data menunjukkan, lebih dari 244 ton emas dibeli oleh bank sentral pada kuartal I 2025. Kini, emas mendekati 20 persen dari total cadangan devisa global.
Permintaan juga datang dari investor, sebagaimana yang tercermin dari aliran dana masuk ke ETF emas sebesar US$30 miliar pada semester pertama 2025.
Menurut Andy, kontroversi politik di Amerika Serikat hingga wacana pemecatan salah satu gubernur The Fed, menimbulkan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral. "Kondisi ini menambah kecemasan pasar dan mendorong investor mencari perlindungan pada emas," tambah Andy.
Secara teknikal, ia juga menilai adanya arah bullish terhadap harga emas. Kombinasi pola candlestick dengan indikator Moving Average menunjukkan tren naik yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir pekan ini, bahkan berpotensi bertahan hingga pekan depan.
“Jika tekanan bullish berlanjut, XAU/USD berpotensi naik hingga ke area US$3.450 pada minggu depan,” kata Andy.
Kendati demikian ia mengingatkan adanya skenario alternatif. Jika harga mengalami reversal dan menembus key point di US$3.300, sehingga ada potensi penurunan lebih lanjut ke level US$3.250. Dengan demikian, level US$3.300 dipandang sebagai titik penentu arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek.
Logam Mulia Bullish
Tidak hanya emas spot, harga logam mulia juga mengalami tren penguatan. Pengamat komoditas sekaligus mata uang Ibrahim Assuabi mengatakan bahwa aksi demonstrasi yang berlangsung sejak kemarin memicu amarah masyarakat, dipicu peristiwa pengemudi ojek online yang terlindas oleh kendaraan rantis Brimob.
Kejadian tersebut kemudian memicu pelemahan rupiah dan IHSG secara bersamaan sejak pagi tadi. Hal ini kemudian memicu lonjakan logam mulia sebagai aset safe haven di tengah tidak kondusifnya perekonomian.
"Tensi politik semakin memanas dengan adany kabar tunjangan perumahan DPR," ujar Ibrahim, Jumat (29/8).
Menurut Ibrahim, logam mulia berpotensi melanjutkan tren penguatan seiring dengan pelemahan rupiah. Ia memperkirakan harga logam mulia bisa mendekati Rp2 juta dalam waktu dekat, bahkan berpeluang menembus Rp2,15 juta hingga akhir tahun.