Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harga Minyak Global Kembali Melonjak Dipicu Saling Serang AS-Iran
Kapal AS di Selat Hormuz. (Specialist Noah Martin, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Harga minyak global melonjak lebih dari 3 persen setelah meningkatnya serangan timbal balik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk Persia.
  • Eskalasi konflik menyebabkan penurunan drastis lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur penting yang biasanya mengangkut seperlima pasokan minyak dunia.
  • Kepercayaan pelaku pelayaran kembali menurun, sementara IEA menilai pemulihan pasokan penuh baru mungkin terjadi jika ketegangan AS-Iran mereda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Harga minyak kembali melonjak akibat meningkatnya aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan Euronews, harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, naik 3,9 persen menjadi US$78,96 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 4 persen ke level US$74,26 per barel.

Kedua patokan harga minyak tersebut sempat mengalami penurunan setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik, sehingga kapal-kapal dapat kembali melanjutkan pengangkutan minyak melalui Selat Hormuz.

Namun, situasi kembali memanas setelah AS melancarkan sejumlah serangan ke Iran pada Senin pagi. Serangan tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz pada akhir pekan hingga menyebabkan kapal terbakar dan satu awak dilaporkan hilang. Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah target AS di kawasan Timur Tengah.

Berlanjutnya serangan antara Iran dan Amerika Serikat di Teluk Persia menimbulkan risiko baru bagi kapal-kapal yang berupaya melewati Selat Hormuz. Lalu lintas kapal harian melalui selat tersebut, yang biasanya mengangkut seperlima minyak dunia, baru-baru ini turun ke level terendah dalam beberapa minggu. Data terbaru menunjukkan hanya 22 kapal yang berani melewatinya pada hari Kamis. Padahal, berdasarkan data Kpler, perusahaan data maritim asal Belgia, lebih dari 130 kapal melewatinya setiap hari sebelum perang.

Dalam serangan terbaru pada akhir pekan, militer AS mengklaim telah menghantam sekitar 140 target di Iran. Sebagai balasan, militer Iran menyatakan telah menyerang sejumlah target milik AS di kawasan tersebut.

Kepala Riset Timur Tengah Kpler, Amena Bakr, mengatakan kepercayaan pelaku pelayaran untuk kembali melintasi Selat Hormuz kini kembali memudar. Menurutnya, rasa aman yang sempat muncul setelah gencatan senjata sementara kini hilang akibat eskalasi terbaru.

"Kepercayaan itu terkikis sangat cepat. Kini situasinya kembali ke titik awal," ujar Bakr, seperti dikutip The New York Times, Senin (13/7).

International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional dalam sebuah laporan yang dirilis pada hari Jumat mengatakan bahwa pemulihan lalu lintas pengiriman setelah Amerika Serikat dan Iran sempat terjadi setelah keduanya menandatangani perjanjian gencatan senjata sementara bulan lalu.

Hal tersebut kemudian mendorong terjadinya peningkatan tajam pasokan minyak global. Ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia pada Juni naik sekitar 6,5 juta barel per hari menjadi sekitar 16 juta barel per hari, sehingga membantu menekan harga minyak.

Meski demikian, volume ekspor tersebut masih sekitar dua pertiga dari level sebelum konflik. IEA menilai pemulihan pasokan secara penuh hanya dapat terjadi jika ketegangan kembali mereda.

Namun jika situasi keamanan di Selat Hormuz terus memburuk dan kapal-kapal semakin enggan melintas, perhatian pasar diperkirakan akan bergeser dari potensi kelebihan pasokan minyak menjadi kekhawatiran terhadap pelemahan permintaan.

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article