Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi perdagangan di bursa saham. (Fortune Indonesia/Tanayastri Dini)
  • IHSG diproyeksikan konsolidasi setelah naik 0,79% ke 5.096,83; peluang rebound terbuka jika support 5.027–4.962 bertahan, tetapi tren utama masih bearish karena jauh di bawah MA200.
  • Pasar mencermati pengecualian 81 saham HSC dari perhitungan indeks, pemilu sela AS, data JOLTS, PDB Indonesia kuartal III, serta data tenaga kerja AS.
  • Sentimen domestik didukung inflasi 3,23%, surplus perdagangan US$3,36 miliar, dan PMI 54,0; namun aksi jual asing serta rupiah sekitar Rp18.156 per dolar menekan IHSG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan kembali mengalami konsolidasi pada Selasa (3/11), setelah ditutup naik 0,79 persen ke level 5.096,83.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG berpotensi melanjutkan konsolidasi dengan menguji resisten 5.116–5.170. Candle terakhir membentuk bullish candle dengan ekor bawah panjang setelah sempat menembus 5.000, mengindikasikan respons beli di area bawah.

Namun, menurutnya, RSI di 29,67 masih berada di area oversold, sementara indeks tetap jauh di bawah MA200 (6.846), sehingga tren utama masih bearish. "Selama support 5.027–4.962 mampu dipertahankan, peluang rebound tetap terbuka. Penembusan resisten 5.170 diperlukan untuk memperkuat pemulihan jangka pendek," kata Reza.

Memasuki perdagangan hari ini, pasar mulai mencermati implementasi kebijakan BEI yang mengecualikan 81 saham kategori High Shareholding Concentration (HSC), dengan bobot sekitar 18 persen terhadap IHSG, dari perhitungan indeks.

Dari sisi makro, inflasi Oktober melandai ke 3,23 persen (YoY) dan neraca perdagangan September masih surplus US$3,36 miliar, meski menyusut dari US$3,55 miliar pada Agustus.

Selanjutnya, perhatian tertuju pada pemilu sela AS dan data JOLTS malam ini, disusul rilis PDB Indonesia kuartal III pada 5 November dengan konsensus pertumbuhan 5,0 persen (YoY), serta data tenaga kerja AS (NFP) pada 6 November.

Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah INET, INDY, dan PGAS.

Lebih lanjut, Reza mengatakan, penguatan IHSG kemarin mencerminkan respons beli setelah tekanan jual tajam pada pekan sebelumnya, dengan sektor utilitas menjadi pendorong utama melalui kenaikan 9,86 persen. Sentimen turut terbantu oleh PMI Manufaktur Indonesia Oktober yang meningkat ke 54,0 dari 52,4 pada September, menandakan ekspansi aktivitas industri semakin kuat. Namun, pemulihan masih perlu diuji mengingat indeks belum sepenuhnya keluar dari tekanan tren sebelumnya.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG berhasil mengalami rebound meskipun dibayangi ketidakpastian di tengah sinyal dari beberapa indikator yang bervariasi (mixed). Sinyal Stochastics K-D menunjukkan pergerakan negatif dan volume mengalami penurunan. Walaupun demikian, sinyal RSI tercatat positif.

Dari sisi global, para pelaku pasar akan menyoroti US midterm elections pada 3 November 2026 karena menjadi katalis penting yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar global. Hasil pemilu akan menentukan konfigurasi kekuatan politik di Kongres dan memengaruhi arah kebijakan pemerintahan Donald Trump, khususnya terkait regulasi industri teknologi, pembangunan infrastruktur pusat data, kebijakan fiskal, serta sektor pertahanan dan kesehatan.

Nafan menilai, jika Partai Demokrat berhasil menguasai DPR maupun Senat, terdapat potensi peningkatan pengawasan terhadap perusahaan teknologi dan investasi pusat data, sehingga dapat memunculkan ketidakpastian baru bagi saham-saham AI. Sebaliknya, apabila Partai Republik mampu mempertahankan kendali Kongres, kesinambungan kebijakan pemerintahan Trump relatif lebih terjaga.

"Kendati demikian, dampak pemilu perlu dilihat secara proporsional karena faktor fundamental ekonomi dan kinerja korporasi tetap menjadi penentu utama arah pasar dalam jangka menengah hingga panjang," kata Nafan.

Di sisi komoditas, penurunan harga minyak mentah Brent yang sempat melemah sekitar 7,6 persen ke level US$104,81 per barel turut memberikan sentimen positif terhadap pasar saham karena meredakan sebagian kekhawatiran mengenai tekanan inflasi energi. Penurunan itu dipicu oleh munculnya harapan penyelesaian diplomatik konflik AS-Israel dengan Iran yang berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan minyak global.

Apabila harga energi terus terkendali, tekanan inflasi dapat berkurang sehingga memberikan ruang lebih besar bagi stabilitas kebijakan moneter. Namun, perkembangan geopolitik masih perlu diperhatikan karena eskalasi konflik berpotensi kembali meningkatkan harga energi dan memicu volatilitas pasar keuangan internasional.

"Apalagi jika Partai Republik mampu mempertahankan kendali Kongres sehingga mendukung kebijakakan politik luar negeri Trump yang keras terhadap Iran, termasuk ancaman militer, pengiriman armada tempur AS ke kawasan, serta pernyataan kesiapan mengontrol dan memberlakukan blokade ketat di Selat Hormuz," catat Nafan.

Dari dalam negeri, terdapat beberapa sentimen penting, yakni perkembangan reformasi pasar modal, aksi jual investor asing, stabilitas nilai tukar rupiah, serta penantian terhadap evaluasi MSCI berikutnya pada 11 November 2026. Tekanan terhadap IHSG masih cukup besar karena konsistensi aksi jual bersih asing secara harian. Selain itu, pelemahan rupiah yang berada di kisaran Rp18.156 per dolar AS turut menjadi tantangan karena dapat meningkatkan persepsi risiko investasi di pasar domestik.

Di sisi lain, sentimen positif pendorong indeks berasal dari kondisi data fundamental Indonesia masih solid dengan inflasi per Oktober yang melandai ke level 3,23 persen (YoY), capaian surplus neraca perdagangan per September sebesar US$3,36 miliar, serta posisi PMI Manufaktur yang konsisten di area ekspansif, yang naik sebesar 54,0 per Oktober dari sebelumnya 52,4.

Editorial Team

Related Article