Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (6/11). Pada perdagangan sebelumnya, indeks ditutup naik 2,25 persen ke level 5.030,26. Pendorong utama pergerakan ini mencakup rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal III-2026 dan hasil pemilu sela Amerika Serikat (AS).
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan perekonomian Indonesia kuartal III-2026 tumbuh 5,47 persen secara tahunan (YoY). Angka ini melampaui ekspektasi pasar pada 5,18 persen. Capaian tersebut mengindikasikan ketahanan aktivitas ekonomi domestik.
Secara teknikal, pergerakan IHSG mengundang dua pandangan berbeda dari analis. Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, menilai IHSG berhasil kembali ke atas batas psikologis 5.000. Indeks berpeluang menguji resisten 5.072–5.127.
"Apabila mampu breakout 5.127 disertai peningkatan volume, peluang penguatan menuju 5.305 semakin terbuka," kata Reza.
Dia mengatakan volume transaksi Rp9,85 triliun masih di bawah rata-rata 20 hari sebesar Rp15,49 triliun. Indikator MACD juga berada pada area minus. Support terdekat berada di 4.960. Jika gagal bertahan, risiko gap filling menuju 4.829 perlu diwaspadai.
Di sisi lain, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, melihat IHSG sedang membentuk pola dead cat bounce. Indeks berada dalam fase antara pemulihan dan potensi penurunan lanjutan.
"Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, namun volume perdagangan terus mengalami penurunan," kata Nafan.
Dari pasar global, kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS menjadi sorotan utama. Demokrat kini menguasai senat dan parlemen. Hal ini berpotensi menciptakan pemerintahan yang terbelah. Ruang gerak Presiden Donald Trump dalam menjalankan agenda ekonomi dan perdagangan menjadi terbatas.
Kondisi tersebut awalnya diapresiasi pasar karena menciptakan mekanisme checks and balances.
"Namun, setelah reli awal, investor kembali mencermati risiko regulasi terhadap industri teknologi, khususnya AI, semikonduktor, dan pembangunan pusat data," kata Nafan.
Dinamika geopolitik turut memengaruhi sentimen pasar, terutama terkait harga komoditas energi. Terdapat perbedaan pendorong harga minyak dunia. Sentimen deeskalasi konflik AS-Iran sempat membuat harga minyak Brent terkoreksi 8,7 persen ke US$94,62 per barel.
Namun, investor juga menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah. Iran melaporkan kerusakan kapal tanker akibat serangan di Selat Hormuz. Selain itu, serangan drone Ukraina menyasar kilang minyak Rusia. Hal ini membuat harga minyak mentah WTI dan Brent melonjak masing-masing lebih dari 3 persen dan 4 persen. Harga emas dunia turut terapresiasi lebih dari 0,60 persen.
Pada perdagangan hari ini, investor menanti rilis data cadangan devisa Indonesia per Oktober. Posisi sebelumnya tercatat US$146,3 miliar. Pasar juga akan meninjau indeks harga properti kuartal III-2026. Proyeksi pertumbuhan indeks ini berada pada angka 1 persen secara tahunan, di bawah catatan kuartal sebelumnya pada 1,32 persen.
Dari AS, pasar mencermati rilis Non-Farm Payrolls Oktober. Konsensus pasar memperkirakan penambahan 65.000 tenaga kerja. Tingkat pengangguran diproyeksikan stabil pada 4,2 persen. Data ini berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga Fed, pergerakan dolar AS, dan aliran dana asing.
Untuk perdagangan 6 November, tim BRIDS menetapkan saham BBTN, INET, dan PGAS sebagai pilihan. Sementara itu, Mirae Asset menyoroti saham BBTN, TINS, dan TLKM.