Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melaju terbatas pada perdagangan Rabu (19/8), setelah ditutup naik 0,75 persen ke level 6.449,83 kemarin.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan, dari domestik, pasar masih mencermati hasil RDG Bank Indonesia pada 19 Agustus, dengan konsensus memperkirakan BI-Rate dipertahankan di 5,75 persen. Rilis ULN Indonesia kuartal II-2026 sebesar US$454,4 miliar serta arah kebijakan fiskal dalam RAPBN 2027 juga menjadi perhatian investor.
"Sementara dari global, pasar mencermati perkembangan ekonomi China dan Jepang, ketegangan AS-Iran, serta FOMC Minutes untuk melihat arah kebijakan The Fed menjelang September," kata Reza dalam riset hariannya,
Ia memproyeksikan IHSG bergerak relatif terbatas dengan support 6.400–6.430 dan resisten 6.490. Secara teknikal, menurutnya, IHSG membentuk gap up dan ditutup di 6.449,83, namun candle terakhir membentuk shooting star di area previous high 6.491, mengindikasikan adanya potensi profit taking di sekitar resisten.
"Selama IHSG mampu bertahan di atas 6.400, struktur bullish jangka pendek masih terjaga dengan peluang menguji kembali 6.490. Namun, kegagalan bertahan di area tersebut dapat membuka ruang pullback dan konsolidasi," ujar Reza.
Saham-saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah EMTK, ADRO, dan BWPT.
Kemarin, penguatan IHSG utamanya ditopang sektor energi yang naik 7,10 persen. BYAN menjadi kontributor terbesar setelah melonjak sekitar 20 persen di tengah sentimen akuisisi oleh Haji Isam. BRMS dan EMAS juga turut menopang penguatan indeks.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menilai, pergerakan IHSG berhasil menciptakan formasi high baru setelah terjadinya solid rebound dari MA20. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, berdasarkan indikator, MA20&60 telah menunjukkan positive crossover, sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif.
Meskipun demikian, volume mulai mengalami penurunan. Adapun momentum bullish pada tren pergerakan IHSG masih berlaku. Meski demikian, sentimen IHSG pada Rabu, 19 Agustus 2026 diperkirakan mixed cenderung positif.
"Investor cenderung mencermati pengumuman keputusan BI Rate serta mewaspadai dampak lonjakan harga energi sebelum melakukan akumulasi masif," kata Nafan.
Dari global, ketidakpastian hubungan AS-Iran serta risiko terkait Selat Hormuz menyebabkan Brent sempat menembus US$92 per barel dan WTI menyentuh US$85. Kenaikan harga minyak dunia memberikan efek terhadap peningkatan tekanan inflasi sekaligus menahan ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed.
Nafan menambahkan, lonjakan yield Treasury tenor panjang, khususnya yield 30 tahun yang sempat menembus level tertinggi dalam 19 tahun di angka 5,33 persen turut disebabkan oleh kekhawatiran inflasi jangka panjang. Dengan demikian, kombinasi higher-for-longer yields dan kenaikan harga energi meningkatkan kembali kekhawatiran inflasi serta menekan ekspektasi pelonggaran moneter The Fed.
"Di sisi lain, hal itu memberi dampak positif bagi saham-saham sektor energi dan komoditas, misalnya PGAS, PTBA, ADMR, BUMI, dan sebagainya," ujar Nafan.
Faktor domestik berpotensi menjadi penahan tekanan IHSG. Respon positif pasar atas paparan pidato Nota Keuangan RAPBN 2027 yang menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen serta peningkatan target investasi terus memberikan buffering pada pergerakan saham-saham blue-chip.
Kemudian, para pelaku pasar menantikan keputusan RDG BI pada hari ini. Konsensus pasar saat ini memperkirakan BI mempertahankan BI Rate. Ia menilai, mengingat keputusan tersebut sudah cukup diantisipasi, perhatian justru akan tertuju pada forward guidance BI mengenai ruang pemangkasan suku bunga berikutnya, stabilitas rupiah, serta respons terhadap tekanan inflasi global akibat kenaikan minyak.
Saham-saham yang disoroti Mirae hari ini adalah AMRT, PGAS, dan PTBA.
