Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IHSG Diproyeksi Konsolidasi 6.600-6.700 Jelang Data CPI AS
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
  • IHSG diproyeksikan konsolidasi di rentang 6.600–6.700 setelah ditutup turun 0,25 persen ke 6.619,67; tembus 6.700 berpeluang menguat, sedangkan turun dari 6.600 berisiko melemah.
  • Pasar menanti PPI AS pada 10 September dan CPI pada 11 September sebagai petunjuk kebijakan The Fed; data tenaga kerja AS yang kuat memicu kekhawatiran suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
  • Tekanan saham perbankan besar membayangi IHSG, sementara sektor kesehatan, energi, komoditas, serta ritel-konsumer mendapat beli selektif; cadangan devisa US$146,5 miliar mendukung stabilitas eksternal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan kembali konsolidasi pada perdagangan Selasa (8/9), setelah ditutup turun 0,25 persen ke 6.619,67.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas MA20 dengan MACD positif, namun momentum mulai melandai. Konsolidasi IHSG diproyeksikan akan terjadi di kisaran 6.600–6.700, dengan 6.600 sebagai support dan 6.700 sebagai resisten.

"Breakout 6.700 membuka peluang penguatan lanjutan, sementara break 6.600 berisiko menuju 6.475–6.375," kata Reza dalam risetnya.

Katalis utama pekan ini adalah CPI AS pada 11 September, dengan konsensus headline 3,4 persen (YoY) dan core 2,4 persen (YoY). Data inflasi akan menjadi penentu ekspektasi kebijakan The Fed setelah data tenaga kerja AS yang relatif solid, sehingga CPI di atas ekspektasi berpotensi menekan IHSG, sementara hasil yang lebih rendah dapat kembali meningkatkan risk appetite.

Pelemahan IHSG kemarin melanjutkan konsolidasi setelah reli pekan sebelumnya. Tekanan berasal dari BBCA, BBRI, dan BMRI, sedangkan sektor kesehatan dan energi masih menjadi penopang. Sentimen domestik relatif positif dari kenaikan cadangan devisa menjadi US$146,5 miliar, meski perkembangan erupsi dan bencana masih menjadi perhatian sektoral.

Daftar saham yang disoroti oleh tim BRIDS hari ini adalah IMPC, TINS, dan KOTA.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG berada dalam fase uptrend dengan membentuk struktur bullish walaupun terjadi koreksi wajar. Berdasarkan indikator, MAs20&60 berada dalam kondisi bullish crossover sementara RSI menunjukkan sinyal positif, didukung dengan kenaikan volume. Meskipun demikian, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif.

"Pada 8 September 2026, IHSG diperkirakan cenderung bergerak terbatas bahkan sideways dengan kecenderungan konsolidasi lanjutan," kata Nafan.

Dari sisi global, terdapat rilis data ketenagakerjaan AS yang melampaui ekspektasi. Data US nonfarm payrolls periode Agustus bertambah 162.000, dibanding konsensus sekitar 56.000, sehingga memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa The Fed masih akan bersikap hawkish atau menahan suku bunga tinggi lebih lama. Hal tersebut membayangi pergerakan bursa saham emerging market termasuk Indonesia.

Sentimen lain berasal dari harga minyak Brent, yang telah naik sekitar 1,07 persen ke US$97,31 per barel akibat eskalasi konflik AS-Iran dan kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Bagi Indonesia yang merupakan net importer minyak, harga minyak tinggi dapat memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan, inflasi, rupiah, dan margin perusahaan tertentu.

Di sisi lain, para investor global juga kemungkinan masih bersifat wait and see menjelang data inflasi AS, terutama PPI pada 10 September dan CPI pada 11 September. "Kedua data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan The Fed pada pertemuan September," ujar Nafan.

Dari sisi domestik, rupiah terapresiasi 0,01 persen pada level Rp17.640 per dolar Amerika Serikat pada penutupan Senin dan mendapat dukungan dari kenaikan cadangan devisa periode Agustus yang dilaporkan meningkat menjadi sekitar US$146,5 miliar, sehingga memberikan bantalan positif terhadap stabilitas eksternal Indonesia.

Bahkan terjadi aksi rotasi sektor domestik dimana meskipun saham big-cap perbankan dan berbobot besar masih tertahan. Nafan menambahkan, sejumlah saham berbasis komoditas dan industri ritel atau konsumer pilihan masih mendapatkan aksi beli selektif yang dapat menahan penurunan IHSG lebih dalam.

Saham-saham yang masuk pantauannya hari ini adalah ADRO, DEWA, dan INKP.

Editorial Team

Related Article