Bahlil Klaim Program PLTS 100 GWp Bisa Hemat Rp73,9 Triliun

- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengklaim program PLTS 100 GWp berbasis BESS berpotensi menghemat APBN Rp73,9 triliun per tahun dibanding pembangkit gas dan diesel.
- Program ini ditargetkan menekan impor solar, menggantikan sebagian kapasitas 12,6 GW pembangkit diesel, serta menurunkan emisi GRK hingga 140,16 juta ton CO₂ per tahun.
- Tahap awal mencakup 14 proyek berkapasitas 5,3 GWp, dengan proyeksi penghematan listrik Rp4,6 triliun per tahun dan penguatan industri panel surya serta baterai domestik.
Jakarta, FORTUNE - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengklaim Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) berpotensi menghemat anggaran negara hingga Rp73,9 triliun per tahun.
Penghematan tersebut berasal dari pemanfaatan PLTS yang dipadukan dengan teknologi Battery Energy Storage System (BESS) dibandingkan dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, khususnya gas dan diesel.
Program PLTS 100 GWp resmi diluncurkan pemerintah pada akhir Agustus lalu. Dalam implementasinya, energi surya akan dimanfaatkan dalam skala besar dan terintegrasi dengan sistem penyimpanan baterai.
“Ini mampu menghemat APBN kita dari subsidi solar. Dan rata-rata kita targetkan total listrik yang ada di Indonesia masih ada 12,6 GW yang memakai solar,” kata Bahlil yang dikutip dari keterangannya, Jumat (4/9).
Menurut dia, kapasitas pembangkit berbahan bakar solar tersebut membutuhkan pasokan minyak dalam jumlah besar. Konsumsinya diperkirakan setara dengan produksi sekitar 230.000-250.000 barel per hari.
Karena itu, Bahlil menilai pengembangan PLTS dapat menjadi salah satu instrumen untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar. Penggunaan energi surya juga dinilai dapat meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik.
“Kalau ini mampu kita lakukan, maka penurunan terhadap impor BBM khususnya dari solar akan turun dan semuanya akan memakai energi nasional,” katanya.
Selain penghematan Rp73,9 triliun per tahun, pemerintah memperkirakan program PLTS 100 GWp dapat memberikan manfaat lingkungan yang signifikan. Pengembangan tersebut berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 140,16 juta ton CO₂ per tahun.
Penurunan emisi tersebut sekaligus membuka potensi pasar karbon yang diperkirakan mencapai Rp6,31 triliun.
Bahlil menambahkan, pengembangan PLTS 100 GWp juga ditujukan untuk memperkuat industri dalam negeri. Pasalnya, Indonesia dinilai sudah memiliki industri panel surya dan baterai penyimpanan listrik atau BESS.
“Terlebih lagi, Indonesia sudah memiliki industri panel surya dan industri baterai penyimpanan listrik/BESS di dalam negeri, sehingga melalui PLTS 100 GWp kita betul-betul akan berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujarnya.
Tahap awal 5,3 GWp

Default Image Pada tahap awal, pemerintah akan mengembangkan 14 proyek PLTS dengan total kapasitas 5,3 GWp yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dari proyek tahap awal tersebut, pemerintah memperkirakan penghematan penggunaan BBM mencapai 319.998 kiloliter per tahun. Proyek yang sama juga berpotensi mengurangi penggunaan gas alam sebesar 35,66 ribu MMSCF per tahun, atau setara dengan 36.980 BBTU.
Tak hanya mengurangi konsumsi bahan bakar, tahap awal program PLTS tersebut diproyeksikan memberikan penghematan APBN sekitar Rp4,6 triliun per tahun untuk biaya listrik.
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, mengatakan pengembangan PLTS dalam skala besar merupakan strategi pemerintah mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT), terutama energi surya yang melimpah di Indonesia.
“Dengan meningkatkan pemanfaatan energi surya, kita dapat mengurangi ketergantungan pembangkit listrik terhadap bahan bakar fosil sekaligus menciptakan efisiensi biaya energi,” kata Darmawan.
Menurut dia, pemanfaatan PLTS dan BESS juga memungkinkan PLN mengintegrasikan karakter energi surya yang intermiten ke dalam sistem kelistrikan secara lebih optimal. Dengan demikian, sumber energi domestik dan terbarukan dapat dimanfaatkan lebih besar dalam sistem nasional.
Program ini juga diproyeksikan memberikan dampak terhadap perekonomian melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai pasok industri dalam negeri.
Dia berharap program tersebut tidak hanya mempercepat transisi menuju energi bersih, tetapi juga memperkuat ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.











