IHSG Diproyeksikan Menguat, Ditopang Dana Asing dan Rupiah

- IHSG diproyeksikan menguat setelah naik 1,09 persen ke 6.667,89, didukung tren teknikal bullish, arus beli asing Rp1,11 triliun, serta minat pada saham berkapitalisasi besar dan perbankan.
- Sentimen global positif berasal dari pelemahan imbal hasil Treasury AS, sinyal disinflasi The Fed, dan kinerja sektor teknologi; pasar tetap menanti data tenaga kerja serta inflasi AS.
- Rupiah menguat 0,47 persen ke Rp17.679 per dolar AS, ditopang stabilisasi BI dan pasokan valas. Analis menyoroti peluang IHSG menuju 6.724, dengan risiko profit taking jangka pendek.
Jakarta, FORTUNE — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat pada perdagangan Jumat (4/9), setelah ditutup menguat 1,09 persen ke level 6.667,89.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI), Nafan Aji, mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG berada dalam fase kondisi reli bullish secara berkesinambungan sembari membentuk fase uptrend. Berdasarkan indikator, MAs20&60 berada dalam kondisi bullish crossover sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif. Meskipun demikian, volume mulai mengalami penurunan.
Menurutnya, sentimen IHSG hari inj cukup kuat. "Bahkan arus dana asing yang mulai kembali masuk dalam beberapa hari terakhir, khususnya ke saham-saham berkapitalisasi besar dan perbankan, menjadi indikasi membaiknya keyakinan investor. Terakhir ini, aksi beli investor asing di pasar regulertercatat Rp1,11 triliun," katanya.
Dari sisi global, pergerakan positif pasar Amerika Serikat (AS) ditopang melandainya dari selain kinerja saham di sektor korporasi dan teknologi yang ciamik, seperti lonjakan tajam saham Snowflake hingga sekitar 21 persen berkat proyeksi pendapatan berbasis AI yang solid, serta pengumuman Nvidia yang mengakuisisi platform AI open-source Hugging Face senilai US$12,9 miliar.
Selain itu, imbal hasil obligasi US Treasury 10-tahun kini menyentuh level 4,77 persen setelah sempat menyentuh rekor tertinggi dalam beberapa bulan. "Penurunan yield obligasi itu memberikan dorongan bagi pasar ekuitas karena menurunkan biaya pinjaman serta meredakan kekhawatiran investor terhadap beban utang dan inflasi," kata Nafan.
Sentimen positif pasar semakin diperkuat oleh pernyataan Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, yang memberikan less hawkish effect. Waller mengindikasikan adanya tanda-tanda disinflasi dan mendukung penahanan suku bunga acuan Fed pada pertemuan mendatang jika tren penurunan inflasi berlanjut.
Menurut Nafan, pernyataan itu memberikan napas lega bagi para pelaku investor, meskipun perhatian pasar tetap tertuju pada data nonfarm payrolls dan angka inflasi yang akan datang terkait kepastian arah kebijakan moneter The Fed.
Dari sisi geopolitik dan pasar komoditas, harga minyak mentah seperti Brent dan WTI cenderung stabil namun bertahan di level tinggi seiring meningkatnya ketegangan militer antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Kemudian, dari sisi domestik, penguatan rupiah menjadi katalis penting, dimana rupiah terapresiasi 0,47 persen pada Rp17.679 per dolar AS, dan diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan apresiasi seiring efektivitas stabilisasi BI serta membaiknya pasokan valas domestik.
"Kepastian kepemimpinan BI setelah Destry Damayanti dikonfirmasi sebagai Gubernur BI memberikan sinyal kontinuitas kebijakan moneter, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas rupiah dan pasar keuangan," ujar Nafan.
Di sisi lain, fundamental ekonomi domestik masih relatif resilien, dengan pertumbuhan ekonomi yang dijaga sekitar 5 persen, surplus perdagangan, serta prospek pertumbuhan 2026 yang menurut BI berada pada kisaran 4,9 persen-5,7 persen. Terakhir, inflasi yang tetap terkendali memberikan ruang bagi kebijakan ekonomi untuk mendukung pertumbuhan tanpa menghadapi tekanan harga yang berlebihan.
Saham-saham pilihan MASI hari ini adalah ARCI, INCO, dan MAPA.
Sementara itu, Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, menilai, secara teknikal, IHSG mengalami breakout resisten 6.650 dan ditutup di 6.668, mengonfirmasi momentum bullish dengan MACD tetap positif. Selama bertahan di atas 6.650, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.724, dengan 6.550 sebagai support terdekat.
"Namun, posisi yang sudah relatif tinggi membuka peluang profit taking jangka pendek," kata Reza.
Katalis selanjutnya akan berasal dari data tenaga kerja AS, dengan NFP dan unemployment rate Agustus yang dijadwalkan rilis Jumat (4/9). Data tersebut menjadi penting bagi ekspektasi arah kebijakan The Fed; data tenaga kerja yang lebih lemah dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran, sementara data yang solid berpotensi mempertahankan stance hawkish.
Daftar saham yang BRIDS soroti hari ini adalah BBCA, LSIP, dan ARCI.

















