Strategi BI Hadapi Lonjakan Yield Global Bond

- BI mengantisipasi tekanan pasar global akibat yield obligasi negara maju, inflasi, dan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama serta berpotensi menekan ekonomi Indonesia.
- Fokus awal BI adalah stabilitas, dengan policy mix moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, serta kebijakan UMKM, ekonomi syariah, dan pendalaman pasar untuk menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan.
- Yield obligasi AS, Jepang, Eropa, dan Inggris meningkat; dampaknya merambat ke domestik, dengan yield SBN tenor 10 tahun naik dari 6,990 persen menjadi 7,229 persen pada 2 September.
Jakarta, FORTUNE - Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan fokus bank sentral dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global, yang salah satu bentuknya adalah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara maju.
Kenaikan yield surat utang di Amerika Serikat (AS), Jepang, hingga negara lainnya menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap pasar keuangan domestik masih tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang BI akan perhitungkan dalam merumuskan kebijakan ke depan.
“Ini sesuai dengan pengamatan kami juga dalam assessment kami terakhir. Kami memang menghadapi situasi higher for longer,” kata Destry usai pengucapan sumpah jabatan di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (2/9).
Menurut dia, kondisi higher-for-longer itu ditandai dengan tingginya yield obligasi, inflasi di negara-negara maju, serta tingkat suku bunga. Situasi tersebut membuat ketidakpastian global masih cukup besar dan berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia.
“Ini sesuatu yang pasti akan kami antisipasi pada saat kami membuat kebijakan untuk domestik,” ujarnya.
Destry menambahkan, dalam menghadapi tekanan tersebut, BI pada tahap awal akan tetap menempatkan stabilitas sebagai fokus utama kebijakan. Namun, BI memiliki ruang menggunakan kombinasi berbagai instrumen kebijakan agar stabilitas dan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan beriringan.
“Stance kami di awal ini memang tetap akan fokus pada stabilitas,” kata Destry.
Dia menjelaskan, BI tidak hanya memiliki instrumen kebijakan moneter. Bank sentral juga memiliki kebijakan makroprudensial serta kebijakan sistem pembayaran yang dapat digunakan untuk merespons dinamika ekonomi dan pasar keuangan.
Selain itu, BI memiliki sejumlah kebijakan lain yang berkaitan dengan pengembangan UMKM, ekonomi syariah, serta pendalaman pasar keuangan.
“Nah tentunya di kebijakan itu kami akan bermain, mana yang akan lebih pro-stability, mana yang akan lebih pro-growth,” ujarnya.
Dengan demikian, BI akan menggunakan kombinasi kebijakan atau policy mix sebagai instrumen utama merespons tekanan eksternal. Pendekatan tersebut memungkinkan BI menentukan instrumen yang lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas maupun mendorong pertumbuhan, tergantung kondisi ekonomi yang dihadapi.
Yield global melonjak
Tekanan terhadap pasar keuangan global belakangan tecermin pada terkereknya yield obligasi pemerintah di sejumlah negara utama.
Laporan Bloomberg menunjukkan di AS, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak hingga 4,78 persen pada 1 September 2026, menjadi level tertinggi baru sejak awal 2025. Sementara yield Treasury tenor 30 tahun naik ke kisaran 5,25 persen.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap ketegangan geopolitik AS-Iran yang berpotensi meningkatkan risiko inflasi melalui lonjakan harga minyak dunia. Kondisi itu sekaligus meningkatkan spekulasi pasar mengenai arah suku bunga Fed pada pertemuan September 2026.
Tekanan serupa terjadi di Jepang. Yield Japanese Government Bond (JGB) tenor 10 tahun menembus 3,02 persen pada 2 September 2026. Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam sekitar tiga dekade, atau sejak 1996.
Kenaikan yield JGB terjadi setelah Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, memberikan sinyal kuat terkait kemungkinan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi yang dipicu pelemahan yen dan tingginya biaya impor energi.
Gelombang aksi jual obligasi juga terjadi di pasar Eropa dan Inggris. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar obligasi global tidak hanya bersumber dari AS, tetapi telah meluas ke sejumlah pasar utama.
Tekanan global tersebut turut merambat ke pasar keuangan domestik. Hal itu terlihat dari kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun.
Pada perdagangan Rabu (2/9), yield SBN tenor 10 tahun naik menjadi 7,229 persen, dari posisi 6,990 persen pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya.
Kenaikan yield SBN menunjukkan meningkatnya tekanan di pasar obligasi domestik.
















