Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Lonjakan Permintaan Emas Bikin HPE September Naik 7,87 persen

Lonjakan Permintaan Emas Bikin HPE September Naik 7,87 persen
ilustrasi sejumlah emas batangan yang tersusun berdekatan (unsplash.com/Jingming Pan)
  • Kemendag menetapkan HPE emas periode 1–14 September 2026 sebesar US$142.154,10 per kilogram, naik 7,87 persen dari periode kedua Agustus.

  • Harga Referensi emas turut naik menjadi US$4.421,49 per troy ounce, mengikuti penguatan harga selama periode pengumpulan data.

  • Kenaikan dipicu permintaan global dan pasokan terbatas, diperkuat depresiasi mata uang utama, turunnya imbal hasil obligasi, ekspektasi suku bunga turun, serta ketidakpastian pasar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE Kementerian Perdagangan (Kemendag) menaikkan Harga Patokan Ekspor (HPE) emas untuk periode pertama September 2026. Kenaikan tersebut dipicu lonjakan permintaan emas di pasar global di tengah pasokan yang relatif terbatas.

Kemendag menetapkan HPE emas US$142.154,10 per kilogram untuk periode 1–14 September 2026, naik 7,87 persen dibandingkan HPE pada periode kedua Agustus 2026 yang mencapai US$131.777,67 per kilogram.

Sejalan dengan kenaikan HPE, Harga Referensi (HR) emas juga meningkat menjadi US$4.421,49 per troy ounce dari sebelumnya US$4.098,75 per troy once.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan (Kepmendag) No.1776/2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, mengatakan peningkatan HPE dan HR emas mengikuti kenaikan harga emas selama periode pengumpulan data yang mencapai 7,87 persen.

Menurut dia, penguatan harga emas tidak terlepas dari meningkatnya permintaan di pasar global ketika pasokan relatif terbatas. Kondisi tersebut diperkuat oleh sejumlah sentimen makroekonomi global.

“Peningkatan HPE dan HR emas pada periode pertama September 2026 didorong beberapa faktor, salah satunya peningkatan permintaan emas di tengah keterbatasan pasokan,” kata Tommy dalam keterangannya, Selasa (1/9).

Selain faktor permintaan dan pasokan, depresiasi mata uang utama dunia serta penurunan imbal hasil obligasi di pasar internasional turut mendorong harga emas. Wacana pemangkasan suku bunga acuan oleh sejumlah bank sentral global juga memberikan sentimen positif terhadap pergerakan harga emas.

Ekspektasi penurunan suku bunga menjadi salah satu faktor yang membuat emas makin menarik bagi investor. Ketika imbal hasil instrumen berbasis obligasi menurun, investor cenderung mencari alternatif aset yang dapat berfungsi sebagai penyimpan nilai.

Tommy mengatakan ketidakpastian pasar keuangan global turut mendorong investor mengalihkan likuiditas ke emas yang dipandang sebagai aset aman atau safe haven.

“Dinamika tersebut mendorong para pelaku pasar untuk mengalihkan modal mereka ke instrumen emas yang dianggap sebagai safe haven dengan tingkat stabilitas yang lebih tinggi. Hal ini berdampak langsung pada meningkatnya permintaan emas di pasar global,” katanya.

Dengan meningkatnya permintaan tersebut, tekanan terhadap harga emas kian kuat. Pada saat bersamaan, pasokan yang relatif terbatas membuat keseimbangan pasar makin ketat sehingga turut menopang kenaikan harga.

Tommy menjelaskan penetapan HPE dan HR emas dilakukan berdasarkan data serta masukan teknis dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dengan mengacu pada publikasi London Bullion Market Association (LBMA).

Proses penetapan juga melibatkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perindustrian.

“Penetapan HPE dan HR emas dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, dengan mempertimbangkan informasi, data, serta masukan teknis dari kementerian dan lembaga terkait,” ujar Tommy. 

    Share Article
    Editorial Team

    Latest in Market

    See More