IHSG Diprediksi Menguat, Resisten 6.650 Jadi Penentu

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pada perdagangan Rabu (2/9), setelah ditutup naik 1,14 persen ke level 6.599,94 kemarin.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, memperkirakan IHSG melanjutkan penguatan kemarin dengan resisten di 6.650. Secara teknikal, IHSG berhasil bertahan di atas MA20, yakni di 6.416 dan mempertahankan struktur uptrend.
"Jika mampu breakout dan bertahan di atas 6.650, momentum penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.665–6.732," kata Reza dalam risetnya.
Katalis selanjutnya akan berfokus pada keberlanjutan foreign inflow, terutama setelah investor asing mencatat net buy Rp1,76 triliun di pasar reguler pada perdagangan terakhir, dengan perhatian pada akumulasi saham-saham big caps seperti BBRI, BBCA, dan BMRI.
Di sisi lain, investor tetap perlu mencermati perkembangan AS–Iran serta meningkatnya kembali ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih hawkish, yang dapat menjaga volatilitas rupiah dan pasar global.
Saham-saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah BMRI, ASII, dan CUAN.
Kemarin, IHSG ditutup menguat setelah bergerak di rentang 6.535–6.608. Pendorong utama kenaikan IHSG kemarin adalah laju saham perbankan, dengan BBRI, BBCA, dan BMRI menjadi kontributor utama. Penguatan juga didukung net buy asing Rp1,76 triliun di pasar reguler, meski rupiah masih berada di bawah tekanan di Rp17.744 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesia mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG telah berhasil menciptakan higher high baru sehubungan dengan struktur bullish yang masih berlaku. Di sisi lain, MAs20&60 berada dalam kondisi bullish crossover sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif. Meskipun demikian, volume mulai mengalami penurunan.
Senior Technical Analyst Mirae Asset, Nafan Aji, mengatakan, pada hari ini, sentimen IHSG cenderung positif namun dibayangi risiko konsolidasi.
Kenaikan harga minyak hingga di atas US$90 per barel menjadi perhatian utama karena berpotensi meningkatkan inflasi melalui kenaikan biaya energi, sehingga mempersempit ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter. Pada saat yang sama, yield Treasury AS yang meningkat. Nafan menilai, itu membuat valuasi saham, terutama saham teknologi dan growth yang memiliki valuasi relatif tinggi, menjadi kurang menarik.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar kini semakin mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September, setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole. Probabilitas kenaikan 25 bps bahkan telah meningkat ke kisaran 68 persen berdasarkan FedWatch Tool, sementara data data US JOLTS menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif resilien meskipun sedikit lebih lemah dari ekspektasi.
"Artinya, market menghadapi kombinasi yang kurang ideal berupa inflasi berpotensi kembali meningkat, yield tinggi, dan kebijakan moneter yang lebih ketat," kata Nafan.
Apa implikasinya bagi IHSG? Sentimen eksternal cenderung menjadi headwind pada perdagangan berikutnya, apalagi emiten dengan valuasi tinggi karena kenaikan yield AS dapat mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Namun, tekanan tersebut berpotensi diimbangi oleh saham sektor energi dan komoditas apabila harga minyak serta komoditas lainnya tetap tinggi. Bahkan, pasar sebenarnya menyambut positif publikasi data indikator ekonomi domestik terkini, termasuk rilis data inflasi yang terjaga, PMI Manufaktur, serta surplus neraca perdagangan Indonesia yang terus mempertegas solidnya fundamental ekonomi Indonesia, dengan inflasi Indonesia Agustus berada di 3,19 persen (YoY), PMI manufaktur Agustus berada di zona kontraksi tipis 49,8, sementara neraca perdagangan Juli berhasil mencatatkan surplus US$0,13 miliar.
"Aliran modal asing mulai membaik di awal bulan pada saham-saham blue-chip, serta ditopang oleh surplus neraca perdagangan," ujar Nafan.
Ke depannya, investor domestik akan mencermati data nonfarm payrolls AS pada Jumat dan inflasi AS pekan depan, karena kedua data tersebut berpotensi menentukan arah ekspektasi suku bunga The Fed sekaligus volatilitas IHSG dalam jangka pendek.
Saham-saham yang disoroti oleh tim Mirae Asset hari ini adalah COIN, HEAL, dan RMKE.


















