IHSG Rawan Koreksi Dibayangi Konflik AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak

- IHSG diproyeksikan rentan terkoreksi setelah ditutup di 6.595,78; support berada di 6.500-6.550 dan resisten 6.650-6.799, meski struktur bullish jangka pendek dinilai masih terjaga.
- Lonjakan Brent di atas US$94 per barel dan CPO sekitar 4.950 ringgit per ton berpotensi menopang saham energi serta CPO, di tengah eskalasi konflik AS-Iran di Selat Hormuz.
- Sentimen domestik dari inflasi terjaga dan surplus dagang menjadi bantalan, sementara pasar menanti data tenaga kerja AS yang memengaruhi kebijakan The Fed dan yield Treasury.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan terkoreksi pada perdagangan Kamis (3/9), setelah ditutup turun 0,06 persen ke level 6.595,78.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG berpeluang mengalami pullback setelah mendekati area resisten. Level support berada di antara 6.500 dan 6.550, sedangkan resistennya di 6.650-6.799.
"Selama IHSG mampu bertahan di atas area support tersebut, struktur bullish jangka pendek masih terjaga dan peluang untuk kembali menguji area resisten tetap terbuka," kata Reza.
Katalis selanjutnya akan datang dari kenaikan harga komoditas, terutama Brent, yang harganya melampaui US$94 per barel; serta CPO yang mencapai sekitar 4.950 ringgit Malaysia per ton. Hal tersebut berpotensi menopang saham-saham sektor energi dan CPO.
Di sisi global, pasar juga menanti NFP dan unemployment rate Amerika Serikat (AS) pada 4 September, sebagai indikator penting bagi arah kebijakan The Fed dan pergerakan yield US Treasury.
Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah BULL, JARR, dan CUAN.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai, secara teknikal, pergerakan IHSG berada dalam fase upward trajectory meskipun telah terjadi koreksi wajar. Berdasarkan indikator, MAs20&60 berada dalam kondisi bullish crossover sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif. Di sisi lain, volume terus mengalami kenaikan.
Senior Technical Analyst Mirae Asset, Nafan Aji, memproyeksikan, sentimen IHSG pada perdagangan Kamis ini variatif dengan kecenderungan menguat, memanfaatkan katalis positif dari bursa global serta stabilisasi pasar komoditas.
Dari sisi global, pergerakan positif US market ditopang oleh selain dari performa yang positif dari sektor teknologi, khususnya booming AI pada Dell dan Nvidia, juga turut ditopang oleh meredanya tekanan pada pasar obligasi atau treasury yields dan harga minyak dunia yang sempat melonjak akibat dinamika geopolitik.
Ia menilai, walaupun harga minyak Brent masih bergerak naik ke kisaran US$95,45 per barel dipicu oleh eskalasi konflik militer antara AS dan Iran di Selat Hormuz, kenaikan tersebut tidak seagresif hari sebelumnya.
"Stabilnya yield obligasi AS tenor 10-tahun di level 4,78 persen memberikan ruang bernapas bagi saham-saham berkonsep pertumbuhan (growth stocks), yang sebelumnya tertekan oleh kekhawatiran tingginya suku bunga dan pembengkakan utang fiskal," kata Nafan.
Dari sisi domestik, inflasi Agustus yang masih berada dalam sasaran serta surplus neraca perdagangan memberikan bantalan terhadap IHSG. Namun, risiko eksternal masih cukup dominan, terutama eskalasi konflik AS-Iran dan ketegangan di Selat Hormuz yang berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi.
"Kondisi tersebut dapat kembali memicu kekhawatiran inflasi global dan membuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama," ujar Nafan.

















