J.P. Morgan Proyeksi IHSG Capai 7.000 di Akhir 2026, Ini Katalisnya

- J.P. Morgan Indonesia memproyeksikan IHSG mencapai 7.000 pada akhir Desember 2026, didukung sentimen membaik, positioning investor rendah, likuiditas domestik kuat, dan valuasi saham murah.
- Arus keluar saham sekitar US$4,2 miliar sejak awal 2026 dinilai telah membatasi tekanan penurunan lebih lanjut, sementara laba emiten semester I tumbuh 6 persen.
- Penjualan mobil Januari-Juli 2026 naik dua digit, mencerminkan dampak belanja pemerintah; namun J.P. Morgan tetap berhati-hati karena bunga tinggi dan risiko perlambatan semester II.
Jakarta, FORTUNE - J.P. Morgan Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat menyentuh 7.000 pada akhir Desember 2026.
Pandangan tersebut dilandasi oleh sentimen yang lebih positif, serta pemosisian (positioning) investor yang dinilai sudah cukup rendah sepanjang perdagangan 2026. Tim riset J.P. Morgan Indonesia mencatat, telah terjadi outflow atau arus keluar saham sebesar sekitar US$4,2 miliar sejak awal tahun. Ditambah likuiditas domestik kuat dan valuasi murah, kondisi itu dinilai dapat mengendalikan tekanan untuk menurunkan harga lebih lanjut di pasar.
Sentimen positif pertama adlaah pertumbuhan laba para emiten sepanjang semester-I 2026. "Jika dilihat dari perusahaan yang kami cover tahun ini, di paruh-I, pertumbuhan laba mereka masih 6 persen, sedangkan banyak ekspektaasi analis itu sudah down," kata Head of Indonesia Equity Research J.P. Morgan Indonesia, Benny Kurniawan di Jakarta, Kamis (3/9).
Contohnya adalah perusahaan-perusahaan dari sektor consumer, yang rata-rata melaporkan pertumbuhan kinerja dua digit. Benny mengatakan, itu jauh lebih baik daripada periode serupa di 2025.
Selain itu, sentimen positif lain juga berasal dari penjualan mobil yang tumbuh dua digit sepanjang Januari sampai dengan Juli 2026. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil nasional naik 18,3 persen (YoY) secara wholesales dan 12,3 persen (YoY) secara ritel.
"Itu menurut kami adalah salah satu dampak atau efek dari pengeluaran pemerintah yang tahun ini sebenarnya naik. Jadi kami melihat ada beberapa trickle down impact ke beberapa sektor ril di para emiten," ujar Benny.
Kendati demikian, memasuki semester-II 2026, konsensus pasar memperkirakan momentum itu akan melambat. Itu karena suku bunga lebih tinggi dan perubahan tren investasi yang berpotensi menekan pertumbuhan.
J.P. Morgan menyatakan akan tetap bersikap hati-hati dalam jangka pendek, mengingat tingginya imbal hasil global dan berbagai perkembangan terkait indeks berpotensi terus membatasi penguatan pasar.



















