Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IHSG Senin 12 Oktober: Mampukah Bertahan di Level 6.000?
IHSG saat menembus level 9.000, Rabu (14/1).
  • IHSG ditutup naik 1,04% ke 6.093,76 dan diperkirakan konsolidasi menguat bila bertahan di atas 6.000; support krusial 5.996-6.000, resisten terdekat 6.100.
  • Pasar memantau yield Treasury AS, DXY, rupiah, minyak Brent, data perdagangan China, serta CPI, PPI, dan penjualan ritel AS yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed.
  • Sentimen domestik didukung rupiah stabil, pertumbuhan ritel Agustus 1,3%, dan rencana investasi Danantara; investor tetap selektif menjelang evaluasi MSCI November 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan dapat kembali konsolidasi dan cenderung menguat pada perdagangan Senin (12/10) jika mampu bertahan di atas level 6.000. Sebelumnya, IHSG ditutup naik 1,04 persen ke 6.093,76 pada Jumat (9/10).

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG berhasil kembali ke atas 6.000, tetapi sempat menembus level tersebut secara intraday sebelum rebound. Area 5.996-6.000 menjadi support krusial yang perlu dipertahankan, sedangkan 6.100 adalah level resisten terdekat.

"Jika support 6.000 kembali ditembus, tekanan bearish berpotensi berlanjut menuju 5.854," kata Reza.

Pada Senin ini, pasar akan mencermati pergerakan yield US Treasury, DXY, USD/IDR, serta harga minyak Brent di tengah risiko inflasi dan sikap hawkish The Fed. Secara kalender, hari ini relatif minim data ekonomi utama AS. Perhatian akan lebih tertuju pada data perdagangan Cina pada awal pekan, lalu CPI AS pada Rabu (14/10) serta PPI dan penjualan ritel AS pada Kamis (15/10).

"Data tersebut berpotensi mengubah ekspektasi suku bunga The Fed dan memengaruhi arus dana ke emerging markets," ujar Reza.

Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah EMAS, KLBF, dan PACK.

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menilai, secara teknikal, dominasi bullish masih bertahan, seiring keberhasilan pergerakan IHSG mengalami rebound dari level support terdekat. Selain itu, indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal positif, meskipun volume perdagangan mulai menurun.

Senior Technical Analyst Mirae Asset, Nafan Aji, mengatakan, sentimen bagi IHSG menyongsong perdagangan Senin, 12 Oktober 2026 berada dalam kategori cautiously optimistic, ditopang oleh beberapa indikator fundamental dalam negeri serta sentimen negatif dari global yang mulai mereda.

Para pelaku investor global menyoroti bahwa kekhawatiran geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai mereda setelah muncul pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu mulai 3 November 2026. Hal ini membuat harga minyak mentah Brent melandai 0,29 persen pada US$104,42 per barel. Dengan demikian, penurunan harga energi berpotensi mengurangi tekanan inflasi dan memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih akomodatif pada 28 Oktober 2026 mendatang, dengan probabilitas suku bunga tetap sebesar 82,3 persen.

"Bagi pasar saham Indonesia, kondisi ini berpotensi memberikan sentimen eksternal yang relatif positif apabila harga minyak terus melandai dan saham global terus menguat," kata Nafan.

Bahkan rupiah pun cenderung stabil, dengan terapresiasi 0,09 persen di level Rp17.899 per dolar AS, sehingga memberikan ruang stabilitas bagi sektor perbankan big caps dan industri berbasis impor. Sementara itu, data penjualan ritel Indonesia untuk Agustus 2026 mencatatkan pertumbuhan 1,3 persen (YoY), meningkat dibanding bulan Juli sebesar 1,1% YoY, tentunya memberikan sinyal bahwa konsumsi rumah tangga masih terakomodasi dengan baik.

Kemudian, rencana Danantara untuk memanfaatkan peluang investasi ketika market mengalami tekanan dapat menjadi sentimen psikologis positif. Danantara menyatakan terbuka untuk masuk ke pasar saham apabila valuasi dinilai menarik, dengan rencana tambahan investasi sekitar US$1 miliar hingga akhir 2026, bergantung pada kondisi pasar.

Selain itu, reformasi pasar modal dan evaluasi MSCI tetap menjadi perhatian para pelaku investor. Hal itu mengingat bahwa implementasi penyesuaian batas harga minimum saham, penyempurnaan mekanisme perdagangan, transparansi kepemilikan, serta upaya peningkatan kualitas tata kelola akan memengaruhi persepsi investor terhadap investabilitas pasar saham Indonesia.

"Menjelang pengumuman evaluasi MSCI pada 11 November 2026, para pelaku pasar berpotensi tetap selektif dan mengurangi eksposur pada saham yang dinilai memiliki risiko likuiditas atau transparansi lebih tinggi," kata Nafan.

Saham-saham yang disoroti oleh Mirae Asset hari ini adalah AMMN, BUMI, dan TPIA.

Curated For You

Editorial Team

Related Article