Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IHSG Tertekan Konflik AS-Iran, Risiko Turun ke 6.375
Ilustrasi perdagangan di bursa saham. (Fortune Indonesia/Tanayastri Dini)
  • IHSG diproyeksikan melemah setelah turun 1,33% ke 6.589,34, dipicu eskalasi konflik AS-Iran, harga minyak sekitar US$100 per barel, dan kenaikan yield Treasury AS.
  • Secara teknikal, IHSG berisiko menguji 6.475–6.375 jika belum menembus 6.600; data CPI AS Agustus menjadi katalis penting bagi ekspektasi kebijakan The Fed.
  • Penjualan ritel Juli tumbuh 1,1% secara tahunan, tetapi tekanan global dominan. Defisit APBN Juli Rp235,6 triliun, dengan risiko melebar bila harga minyak tinggi berkepanjangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan kembali melemah pada perdagangan Jumat (11/9), setelah ditutup turun 1,33 persen ke level 6.589,34.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan, IHSG masih volatile dengan bias menurun di tengah risiko eskalasi AS–Iran dan kenaikan minyak. Secara teknikal, selama belum reclaim 6.600, IHSG berisiko turun ke 6.475–6.375, dengan 6.600–6.700 sebagai resisten.

"Katalis utama adalah US CPI Agustus (11 Sep). CPI di atas konsensus (headline 3,4 persen dan core 2,4 persen, YoY) berisiko memperkuat ekspektasi Fed hawkish, sementara CPI lebih rendah dapat membuka ruang technical rebound," kata Reza.

Daftar saham yang disoroti oleh tim BRIDS hari ini adalah UNTR, PTBA, dan JARR.

Kemarin, tekanan utama IHSG berasal dari sentimen global, khususnya memanasnya konflik AS–Iran yang kembali mendorong harga minyak hingga sekitar US$100 per barel, sehingga meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mempersempit ruang pelonggaran moneter. Di sisi lain, kenaikan yield US Treasury, dengan yield 10 tahun mencapai sekitar 4,84 persen, juga menjadi tekanan bagi aset berisiko dan emerging market seperti Indonesia.

Dari domestik, penjualan ritel Juli tumbuh 1,1 persen (YoY) setelah tiga bulan sebelumnya mengalami kontraksi, menunjukkan konsumsi mulai membaik. Namun, sentimen global masih lebih dominan menekan pergerakan IHSG.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas menilai, secara teknikal, IHSG ditutup di bawah level MA5 dan MA10. Di sisi lain, indikator MACD dan Stochastic RSI membentuk Death Cross.

"Sehingga diperkirakan IHSG akan menguji level MA20 di 6.525. Jika break dari level tersebut, berpeluang menguji level support selanjutnya di 6.400-6.460," kata Tim Riset Phintraco Sekuritas.

Penjualan ritel di Indonesia tercatat membukukan kenaikan sebesar 1.1% YoY pada Juli 2026 (10/9), setelah selama tiga bulan berturut-turut mengalami penurunan. Pemulihan ini antara lain didukung oleh kenaikan pada sektor makanan, minuman dan tembakau (+2,4 perssen vs -3,6 persen), serta pakaian (+2,8 persen vs -3,1 persen), meskipun terjadi perlambatan pada pertumbuhan penjualan suku cadang otomotif (5,1 persen vs 18,8 persen).

Belanja untuk bahan bakar, peralatan komunikasi, serta produk rekreasi masih mengalami penurunan. Hal itu mengindikasikan masyarakat masih memilih untuk pembelian barang konsumsi pokok. Penjualan ritel secara bulanan turun 0,1 persen (MoM) pada Agustus 2026 dari kenaikan 0,7 persen (MoM).

Defisit APBN mencapai Rp235,6 triliun atau sekitar 0,91 persen dari PDB pada Juli 2026. Belanja negara mencapai Rp1.969 triliun atau meningkat 18,62 persen (YoY). Berdasarkan defisit hingga Juli ini, pemerintah diperkirakan masih memiliki ruang fiskal yang cukup memadai karena defisit APBN 2026 ditargetkan mencapai Rp734,3 triliun atau 2,85 persen dari PDB.

"Namun jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama dan jika pemerintah tidak mengelola anggaran dengan efisien, maka akan meningkatkan kekhawatiran potensi melebarnya defisit APBN," kata tim Phintraco.

Daftar saham pilihan Phintraco Sekuritas hari ini adalah MAPI, MNCN, MYOR, ASII, dan ADRO.

Editorial Team

Related Article