Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Imbal Hasil Obligasi AS Capai Rekor Tertinggi, Apa Dampaknya?
ilustrasi obligasi (pexels.com/AlphaTradeZone)
  • Yield Treasury AS tenor 30 tahun mencapai 5,48 persen, tertinggi sejak 2004, sementara tenor 10 dan lima tahun ikut menembus kisaran 5 persen.

  • Inflasi, harga energi, ekonomi AS yang kuat, dan kebutuhan pembiayaan pemerintah mendorong tekanan jual obligasi.

  • Lonjakan yield meningkatkan biaya pinjaman AS, meluas ke Jerman dan Jepang, serta berisiko memengaruhi Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor panjang melonjak pada perdagangan Kamis (24/9). Yield US Treasury tenor 30 tahun menembus 5,48 persen, tertinggi sejak 2004. Sedangkan, tenor 10 tahun naik ke kisaran 5,20 persen.

Kenaikan yield dipicu oleh inflasi dan harga energi yang tinggi, ekonomi AS yang masih kuat, serta besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Faktor tersebut meningkatkan tekanan jual di pasar obligasi dan mendorong yield tenor panjang naik.

Yield Treasury 5 tahun juga tembus 5 persen

Tekanan di pasar obligasi AS meluas ke berbagai tenor. Yield Treasury lima tahun menembus 5 persen untuk pertama kalinya sejak 2007.

Sementara itu, kenaikan pada tenor 10 tahun telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Sejak pertemuan Federal Reserve pada Juni, yield tenor tersebut naik sekitar 0,70 poin persentase. Jika dihitung sejak awal Maret, kenaikannya mencapai sekitar 1,25 poin persentase.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika tekanan jual meningkat dan harga obligasi turun, imbal hasil yang diterima investor akan naik.

Inflasi dan suku bunga dorong kenaikan yield Treasury

Kenaikan yield US Treasury dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan arah suku bunga AS. Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dengan Iran pada Kamis (24/9).

Harga energi yang lebih tinggi berpotensi menambah tekanan inflasi dan memperkecil ruang The Fed untuk menurunkan suku bunga. Pada saat yang sama, ekonomi AS masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Pertumbuhan nominal ekonomi AS tercatat sekitar 8 persen pada kuartal II 2026.

Kombinasi inflasi dan pertumbuhan ekonomi tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga AS dapat bertahan tinggi lebih lama. Kondisi ini turut mendorong investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi pemerintah AS, terutama yang bertenor panjang.

Biaya pinjaman ikut terdampak

Kenaikan yield Treasury juga berpengaruh terhadap biaya pendanaan di AS. Salah satu indikatornya terlihat pada suku bunga hipotek tenor 30 tahun yang berada di sekitar 7 persen.

Level tersebut sekitar satu poin persentase lebih tinggi dibandingkan sebelum perang dan berada di kisaran tertinggi dalam dua tahun terakhir. Pergerakan yield Treasury menjadi salah satu acuan penting dalam pembentukan biaya pinjaman jangka panjang.

Di pasar pemerintah, Departemen Keuangan AS juga menghadapi kondisi lelang dan pembelian kembali obligasi yang belum mampu menghentikan kenaikan yield.

Dalam operasi buyback pada Kamis (24/9), Departemen Keuangan menerima penawaran pembelian 4,08 miliar dolar AS dari batas maksimum 6 miliar dolar AS untuk surat utang bertenor 20 hingga 30 tahun. Pada operasi sebelumnya, nilai buyback juga berada di bawah target.

Sementara itu, lelang Treasury tujuh tahun senilai 44 miliar dolar AS menghasilkan yield 5,08 persen. Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak tenor tersebut diperkenalkan kembali pada 2009, sedangkan permintaan investor berada di bawah ekspektasi.

Kenaikan yield meluas ke pasar global

Kenaikan yield juga terjadi di pasar obligasi global. Di Jerman, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun sempat menembus 3,6 persen pada September, tertinggi dalam 17 tahun.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Jerman memperkirakan pinjaman federal mencapai 525,5 miliar euro pada 2026 untuk membiayai kembali utang dan memenuhi kebutuhan pendanaan lainnya.

Tekanan serupa terjadi di Jepang. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 1996.

Dampak ke pasar keuangan Indonesia

Pasar keuangan Indonesia turut menghadapi risiko dari lonjakan yield US Treasury karena meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS. Kondisi tersebut dapat memengaruhi aliran modal asing dan mendorong yield Surat Berharga Negara (SBN) ikut naik.

ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja mengatakan kenaikan yield AS dapat berdampak pada imbal hasil SBN. Meski demikian, aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia masih tercatat positif.

Berdasarkan catatan UOB, dana asing sebesar 1,6 miliar dolar AS masuk ke pasar keuangan Indonesia hingga 7 September 2026. Penguatan rupiah pada periode tersebut turut membantu meredam tekanan dari pasar global.

Pergerakan yield US Treasury selanjutnya akan menjadi salah satu faktor eksternal yang dicermati pasar domestik. Hal ini terutama pengaruhnya terhadap arus modal, nilai tukar rupiah, dan pasar SBN.

FAQ seputar imbal hasil obligasi AS capai rekor tertinggi

Berapa yield obligasi AS 30 tahun?

Yield Treasury 30 tahun mencapai sekitar 5,48 persen, level tertinggi sejak 2004.

Berapa yield Treasury AS 10 tahun?

Yield Treasury 10 tahun berada di sekitar 5,20 persen pada perdagangan terbaru.

Apa yang mendorong kenaikan yield obligasi AS?

Tekanan berasal dari inflasi, harga energi, pertumbuhan ekonomi AS, dan kebutuhan pembiayaan pemerintah.

Bagaimana dampaknya ke Indonesia?

Kenaikan yield AS dapat memengaruhi imbal hasil SBN dan kondisi pasar keuangan domestik.

Curated For You

Editorial Team

Related Article